Selasa, 26 Oktober 2010

Setiap Imam yang mempersembahkan Kurban Kudus harus mengingat bahwa dalam Kurban ini bukan hanya dia dan komunitasnya saja yang sedang berdoa, tetapi juga seluruh Gereja, yang dalam sakramen ini mengungkapkan kesatuan rohaninya,.salah satunya dengan menggunakan teks liturgi yang diakui. Menyebut posisi ini sebagai “kengototan untuk keseragaman” hanya menunjukkan ketidaktahuan akan persyaratan obyektif bagi kesatuan yang otentik, dan akan menjadi wabah individualisme yang merugikan.

Ketundukan pelayan, yaitu selebran, kepada mysterium yang telah dipercayakan kepadanya oleh Gereja bagi kebaikan seluruh umat Allah, harus menemukan ungkapannya dalam kepatuhan akan peraturan liturgi mengenai perayaan Kurban Kudus. Hal ini mengacu, secara khusus, kepada pakaian, yang dikenakan oleh selebran. Bagaimanapun juga selalu ada situasi-situasi dimana peraturan ini tidak menjadi suatu kewajiban. Kami sangat tergerak saat membaca buku-buku yang ditulis oleh para imam yang menjadi tahanan di kamp-kamp, dengan gambaran tentang Perayaan Ekaristi tanpa mematuhi peraturan-peraturan yang ada, yaitu tanpa altar dan tanpa pakaian liturgis. Namun, sekalipun kondisi semacam ini merupakan bukti heroisme dan layak dikagumi, tetapi dalam kondisi normal mengabaikan peraturan liturgi dapat diartikan sebagai kurangnya hormat terhadap Ekaristi, yang disebabkan oleh individualisme atau oleh kurangnya rasa kritis terhadap pandangan-pandangan masa kini, atau oleh kurangnya semangat iman.

Bagi kita semua, yang melalui rahmat Allah, menjadi pelayan Ekaristi, ada beban tanggung jawab yang khusus atas gagasan dan sikap saudara-saudari yang telah dipercayakan dalam karya penggembalaan kita. Panggilan kita adalah untuk memperkuat, pertama-tama dengan teladan pribadi, setiap manifestasi ibadat terhadap Kristus yang hadir dan berkarya dalam sakramen cinta. Semoga Allah menghindarkan kita dari tindakan sebaliknya dan memperlemah ibadat dengan “menjadi tidak terbiasa” dengan berbagai manifestasi dan bentuk ibadat ekaristi yang mungkin “tradisional” namun merupakan kesalehan yang sehat, dan yang pertama-tama mengungkapkan “indera iman” yang dimiliki oleh seluruh umat Allah, seperti dikatakan oleh Konsili Vatikan II.

Sementara saya mengakhiri pemikiran-pemikiran saya ini, saya ingin meminta maaf, atas nama saya sendiri dan atas nama kalian semua, saudara saya yang terkasih dan terhormat dalam jabatan uskup- atas semua yang, karena alasan apapun, entah karena kelemahan manusiawi, ketidaksabaran atau kelalaian, dan juga melalui penerapan anjuran Konsili Vatikan II secara sesaat, sepihak dan salah, yang telah menyebabkan skandal dan kekacauan yang menganggu penafsiran doktrin dan penghormatan kepada sakramen agung ini. Dan saya berdoa kepada Tuhan Yesus agar di masa depan kita dapat menghindarkan segala hal dalam cara kita bertindak dengan sakramen ini, segala hal yang dapat melemahkan atau mengaburkan sikap hormat dan cinta yang ada dalam umat kita terhadap sakramen ini.

(Dominicae Cenae)