Rabu, 27 Juli 2011


Wanita Katolik menggunakan Kerudung Misa (sumber: fragmentumcaeli.blogspot.com)

Telah menjadi kebiasaan yang lama di dalam Gereja bagi seorang wanita untuk memakai kerudung Misa (veil) atau Mantilla saat Perayaan Ekaristi. Meskipun sekarang kebiasaan ini semakin ditinggalkan, tetapi tidak ada peraturan Gereja atau suatu hal lain pun yang melarang wanita untuk tetap melanjutkan praktik baik ini. Untuk berbagai macam alasan, praktik ini sangat direkomendasikan untuk dipopulerkan kembali.

Pertama, St. Paulus memberi tahu kita dalam 1 Kor 11:2-16 bahwa ketika seorang wanita mengerudungi dirinya sendiri saat Misa, dia mengakui Kristus sebagai kepalanya dan otoritas dari suaminya (atau ayahnya, jikalau wanita itu belum menikah) di mana sang suami dipanggil untuk menampilkan kepemimpinan Kristus dalam hidup sang wanita tersebut. “Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.” (Efe 5:23)

St. Paulus juga berkata bahwa rambut panjang wanita adalah “kehormatannya” (1 Kor 11:15), dan memanglah benar demikian. Rambut wanita adalah mahkotanya dan keindahannya! Tetapi dalam Misa, di mana kita dipanggil untuk secara sederhana hadir di hadapan Allah yang mahakuasa; kita harus berprinsip, seperti yang St. Yohanes Pembabtis katakan, “Ia harus makin besar tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh 3:30). Jadi, seorang wanita mengerudungi dirinya sehingga seluruh kemuliaan diberikan kepada Allah dan bukan kepada dirinya sendiri.

Ketiga, tradisi Yudeo-Kristen, bejana kehidupan seringkali ditudungi/dikerudungi. Dalam Perjanjian Lama, Tabut Perjanjian dipisahkan dari bagian lain dalam Bait Allah oleh sebuah tabir yang mengerudunginya. Dalam Misa, piala yang berisi Darah Kristus ditudungi sampai ke Offertorium. Dalam Misa juga, Sibori yang berisi Tubuh Kristus ditudungi di dalam Tabernakel. Tubuh dan Darah-Nya ini, seperti yang Yesus katakan kepada kita, sumber dari kehidupan spiritual kita (bdk Yoh 6:53). Bunda Maria, sang bejana kehidupan, yang menyetujui untuk membawa kehidupan Kristus ke dunia, selalu digambarkan dengan sebuah kerudung di kepalanya. Seperti Bunda Maria, wanita telah diberikan keistimewaan yang kudus dengan menjadi bejana kehidupan bagi kehidupan-kehidupan baru di dunia. Oleh karena itu, wanita mengerudungi dirinya sendiri dalam Misa, sebagai cara untuk menunjukkan kehormatan mereka karena keistimewaan mereka yang kudus dan unik tersebut.  Menggunakan kerudung juga merupakan suatu cara untuk meneladani Maria, dialah yang menjadi role model (panutan) bagi seluruh wanita.

Pax et Bonum