Selasa, 13 September 2011

Info Post

Bapa Suci Benediktus XVI dalam Audiensi Umum 28 Maret 2007 berbicara mengenai Bapa Gereja dari kota Lyon (Prancis), St. Ireneus. St. Ireneus adalah murid dari St. Polikarpus dari Smirna di mana St. Polikarpus ini sendiri adalah murid St. Yohanes Penulis Injil. Bapa Suci Benediktus XVI sendiri menganggap St. Ireneus dari Lyon sebagai jawara dalam melawan berbagai bidaah (ajaran sesat) yang menyerang Gereja Katolik.

Dalam Audiensi Umum ini, Bapa Suci Benediktus XVI menyampaikan tiga pokok pandangan mengenai Tradisi Para Rasul yang diterangkan oleh St. Ireneus dari Lyon. Tiga pokok pandangan asli itu adalah:


1. Tradisi Para Rasul adalah publik, bukan pribadi atau rahasia. Ireneus tidak ragu bahwa intisari iman yang diteruskan oleh Gereja adalah [intisari iman] yang telah diterimanya dari Para Rasul dan dari Yesus Putera Allah. Tidak ada pengajaran apapun selain ini. Maka dari itu, kalau orang mau mengetahui pengajaran yang benar, cukuplah mengenal “Tradisi yang datang dari Para Rasul dan iman yang telah diwartakan kepada manusia”: yaitu Tradisi dan Iman “yang telah sampai pada kita melalui suksesi Para Uskup.”1 Karena itu, suksesi para Uskup, yaitu prinsip personal, sesuai dengan Tradisi Para Rasul, yaitu prinsip doktrinal.
2.Tradisi Para Rasul adalah unik. Sedang, dalam kenyataannya, Gnostisisme terbagi dalam banyak sekte. Tradisi Gereja adalah unik dalam isi pokoknya. Justru itulah – seperti sudah kita lihat – yang oleh Ireneus dengan persis disebut regula fidei atau regula veritatis: dan dengan demikian, karena Tradisi Gereja adalah satu, Tradisi Gereja menciptakan kesatuan melintasi bangsa-bangsa, melintasi peradaban yang berbeda-beda, melintasi bangsa yang berbeda-beda. Tradisi Gereja merupakan isi yang dimiliki bersama sebagai kebenaran, betapapun bahasa dan peradaban berbeda-beda.
Suatu ungkapan amat berharga dari Ireneus ditemukan dalam bukunya Adversus Haereses (Melawan bidaah-bidaah): “Gereja, walaupun tersebar di seluruh dunia menerima dengan cermat [iman Para Rasul] seakan-akan hanya mendiami satu rumah. Demikian pula Gereja percaya akan kebenaran-kebenaran ini seperti memiliki satu jiwa dan satu hati: Gereja mewartakan kebenaran-kebenaran ini dalam kesatuan, mengajarkannya dan meneruskannya seakan-akan dengan satu mulut saja. Bahasa di dunia berbeda-beda, tetapi kekuasaan tradisi adalah satu dan sama. Gereja-gereja yang telah didirikan di Jerman tidak menerima dan tidak meneruskan iman yang berbeda, atau Gereja yang telah didirikan di Spanyol, atau di antara orang-orang Kelt, atau di daerah Timur, atau di Mesir atau di Libya, atau di daerah pusat dunia pun tidak.”2
Sudah pada saat itu, berarti dalam tahun 200, orang dapat melihat universalitas Gereja, kekatolikannya, serta daya kebenaran untuk mempersatukan kenyataan-kenyataan yang berbeda-beda  dari Jerman sampai Spanyol, sampai Italia, sampai Mesir, sampai Libya, dalam kebenaran umum yang telah diwahyukan Kristus kepada kita.
3. Akhirnya, Tradisi Para Rasul adalah pneumatik, menurut istilah Yunani yang dipakai Ireneus, sebab dengan bahasa itu bukunya ditulis. Pneumatik berarti rohani, dituntun oleh Roh Kudus. Dalam bahasa Yunani, roh disebut pneuma. Yang dimaksudkan ialah bahwa transmisi, penerusan kebenaran dipercayakan bukan kepada kemampuan manusia yang sedikit banyak terpelajar, melainkan kepada Roh Allah yang menjamin kesetiaan kepada transmisi iman.
Demikianlah “hidup” Gereja yang selalu menyegarkan dan mempermuda Gereja, menjadikannya subur dengan aneka kharisma.
Gereja dan Roh, bagi Ireneus, tak terpisahkan satu sama lain. Seperti kita baca dalam buku ketiga Adversus Haereses, “iman itu telah kita terima dari Gereja dan kita pelihara: iman itu, oleh karya Roh Allah, adalah hal yang dipercayakan kepada kita (depositum), yang dijaga dalam suatu bejana yang memuatnya .... Di mana Gereja ada, di situ ada Roh Allah, dan di mana Roh Allah ada, di situ ada Gereja serta segala kasih karunia.”3

Demikianlah pengajaran Ireneus menjadi konsep dasar bagi ajaran Gereja Katolik mengenai Tradisi Para Rasul.  Ia dengan cerdas mampu menerangkan ciri-ciri khas (T)radisi yang membedakannya dari (t)radisi. Untuk mengetahui hubungan antara Tradisi Suci dengan Kitab Suci, silahkan klik artikel “Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium.

Catatan Kaki:
[1] Adversus Haereses 3, 3, 3-4
[2] Adversus Haereses 1, 10, 1-2
[3] Adversus Haereses 3, 24, 1

Pax et Bonum