Selasa, 01 November 2011


Pada tanggal 14 November 2007, Paus Benediktus XVI memberikan audiensi umum yang kedua mengenai St. Hieronimus. Dalam artikel ini, saya mengangkat bagian dari audiensi Bapa Suci yang berbicara mengenai Kecintaan St. Hieronimus terhadap Kitab Suci dan Ketaatannya kepada Gereja.

Cinta penuh gairah akan Kitab Suci oleh karena itu meresap ke seluruh hidup Hieronimus, sebuah cinta yang selalu ia cari untuk diperdalam pada orang beriman. Kepada salah seorang puteri rohaninya, ia menganjurkan, “Cintailah Kitab Suci, dan kebijaksanaan akan mencintai Engkau; cintailah dia dengan mesra, dan ia akan menjaga engkau; hormatilah dia, dan engkau akan dibelai olehnya. Semoga bagimu ia menjadi seperti kalung dan anting-anting”1 Dan lagi, “Cintailah ilmu tentang Kitab Suci dan engkau tidak akan mencintai sifat-sifat daging yang buruk.”2


Bagi Hieronimus, kriteria fundamental dalam menafsirkan Kitab Suci adalah keharmonisan dengan Magisterium (Kuasa Mengajar) Gereja. Kita tidak pernah dapat membaca Kitab Suci seorang diri karena kita akan menemukan terlalu banyak pintu tertutup dan akan terlalu mudah tergelincir ke dalam kesesatan.


Kitab Suci telah ditulis oleh umat Allah, untuk umat Allah, di bawah ilham Roh Kudus. Hanya dalam persatuan dengan umat Allah, kita dapat benar-benar masuk ke dalam “kita” itu, sampai ke dalam nukleus kebenaran yang mau diungkapkan Allah sendiri kepada kita.


Bagi Hieronimus, penafsiran Kitab Suci yang otentik selalu harus dalam keserasian yang harmonis dengan iman Gereja Katolik. Di situ tak ada sesuatu eksegese dari luar yang dipaksakan pada Kitab Suci. Kitab Suci itu benar-benar merupakan suara Umat Allah yang berziarah, dan hanya dalam iman Umat Allah ini dapat dikatakan bahwa kita telah menemukan gelombang yang tepat untuk memahami Kitab Suci.


Dengan tujuan ini, Hieronimus memperingatkan, “Tetaplah berpegang kuat pada ajaran tradisional yang telah diajarkan kepadamu agar kamu dapat mengajar sesuai dengan ajaran yang benar dan menolak mereka yang membantahnya.”3


Khususnya, karena Yesus telah mendirikan Gereja-Nya atas diri Petrus, setiap orang Kristiani, demikian kesimpulannya, harus tetap berada dalam persekutuan dengan Tahta St. Petrus. "Aku tahu bahwa  di atas batu karang ini Gereja telah didirikan.”4 Maka secara konsekuen ia menyatakan tanpa kompromi, “Aku bersama dengan siapa saja yang bersatu dengan ajaran Tahta St. Petrus.”5

[1] Epistle of St. Jerome 130,20
[2] Epistle of St. Jerome 125,11
[3] Epistle of St. Jerome 52,7
[4] Epistle of St. Jerome 15,2
[5] Epistle of St. Jerome 16

Pax et Bonum.