Selasa, 03 September 2013

Info Post

Pada masa sekarang, umat Katolik, khususnya orang muda Katolik, memandang Liturgi sekadar ritual dan rutinitas setiap hari Minggu. Liturgi bagi mereka adalah sesuatu yang kering dan mungkin sudah tidak bermakna lagi. Sementara itu, demi menarik partisipasi orang muda Katolik dalam Liturgi, terutama dalam Misa Kudus, terjadilah sebuah hal yang bernama improvisasi Liturgi. Improvisasi Liturgi ini terdiri dari kreativitas dan inovasi yang dibuat oleh orang muda Katolik dan bersama pastor-pastornya. Perayaan Ekaristi didesain sedemikian rupa sehingga cocok buat orang muda Katolik. Perayaan Ekaristi seperti ini biasa dikenal sebagai Ekaristi Orang muda. Seringkali kreativitas dan inovasi dalam Ekaristi Orang muda ini liar dan, bila kita melihat ke pedoman-pedoman Liturgi yang ada, hal-hal tersebut jelas merupakan pelanggaran Liturgi seperti penggunaan drama, band, lagu-lagu non-liturgis dan berbagai ekspresi budaya populer lainnya.

Gereja menetapkan Pewartaan Baru (New Evangelization) yang secara umum dimaksudkan untuk memperbaharui kembali Iman Kristiani yang sudah pernah umat Katolik terima. Dalam Intruksi Kerja untuk Pewartaan Baru ini, Gereja Katolik menjelaskan bahwa “Iman Kristiani bukanlah sekadar ajaran-ajaran, kata-kata bijak, sebuah kodeks moralitas atau sebuah tradisi. Iman Kristiani adalah sebuah perjumpaan dan relasi yang sejati dengan Yesus Kristus.”[1] Pertanyaan yang muncul adalah “Di mana dan kapan perjumpaan dan relasi dengan Yesus Kristus terjadi?” Jawabannya bisa sangat luas; dalam kehidupan sehari-hari, dalam perjumpaan dengan orang miskin dan sakit, dalam pekerjaan dan studi dan lain-lain. Tapi, ada satu tempat dan waktu perjumpaan yang istimewa, yaitu Liturgi. Paus Beato Yohanes Paulus II menjelaskan Dengan tujuan untuk menghadirkan kembali Misteri Paskah-Nya, Kristus selalu hadir dalam Gereja, terutama dalam Perayaan-perayaan Liturgi. Oleh karena itu, Liturgi adalah tempat istimewa untuk pertemuan orang-orang Kristiani dengan Allah dan Seorang yang telah Dia utus, Yesus Kristus.”[2] Mengapa Liturgi begitu istimewa dalam perjumpaan dengan Kristus? Paus Beato Yohanes Paulus II menjelaskan 4 poin yang sepenuhnya hadir dan membuat Liturgi begitu istimewa dalam perjumpaan dengan Kristus [3]:

1. Kristus hadir dalam Gereja yang berkumpul dan berdoa dalam Nama-Nya. Fakta inilah yang memberikan sebuah karakter unik pertemuan-pertemuan Kristiani.
2. Kristus hadir dan bertindak dalam pribadi para pelayan tertahbis yang merayakan Liturgi. Imam oleh keutamaan tahbisannya bertindak dalam pribadi Kristus (in persona Christi).
3. Kristus hadir dalam sabda-Nya yang dibacakan, yang dikomentari dalam homili, yang didengarkan dalam iman dan disatukan dalam doa.
4. Kristus hadir dan bertindak oleh kuasa Roh Kudus dalam Sakramen-sakramen  Gereja dan dalam cara yang spesial, Ia hadir dan bertindak di Kurban Misa (Perayaan Ekaristi) dalam Roti dan Anggur yang sudah dikonsekrasi.

Dan sebagaimana Gereja ajarkan:  Jadi dari Liturgi, terutama dari Ekaristi,  bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan permuliaan Allah dalam  Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya.”[4] Hal ini berarti, semua karya Gereja bertujuan untuk membawa umat mengalami perjumpaan dengan Kristus dalam Liturgi sehingga dapat menerima rahmat pengudusan dan memuliakan Allah.

Tapi, apakah orang muda Katolik mengetahui dan memahami ini?

Sayangnya, ketimbang mengajarkan bagaimana Liturgi yang benar, mengajarkan makna-makna dari setiap tindakan liturgis, mengajarkan simbol-simbol Liturgi, mengajarkan ajaran iman yang terkandung dalam Liturgi dsb; kita lebih sering melihat Liturgi Suci diimprovisasi, dikreatifkan dan diberi inovasi menyesuaikan dengan budaya Orang muda, dengan selera dan keinginan orang muda Katolik. Memang, lebih mudah mengubah Liturgi daripada membangun sikap cinta dan hormat Orang Muda Katolik pada Liturgi.

“Perlakuan terhadap Liturgi menentukan nasib Iman dan Gereja Katolik”, demikian kata Paus Emeritus Benediktus XVI. Sementara itu Kardinal Koch dari Swiss pada tahun 2011 berkata bahwa krisis Liturgi adalah krisis utama Gereja Katolik pada masa kini. Terlampau berlebihankah pernyataan-pernyataan ini? Tentu saja tidak sama sekali. Paus Benediktus XVI menjelaskan: “Gereja dan umat senantiasa harus belajar dari Liturgi supaya mampu menemukan dan masuk ke dalam makna terdalam realitas serta pengalaman liturgis Gereja, umat Allah. Gereja memang tidak akan ada tanpa Perayaan Liturgi, terlebih Ekaristi sebab dari Ekaristilah Gereja terbangun dan tumbuh. Karenanya, Ekaristi tidak bisa ditempatkan sebagai perayaan pribadi, tanpa pemahaman akan hidup dan misteri Gereja. Krisis Gereja dewasa ini memiliki akar dan kaitan dengan krisis Liturgi; demikian pula sebaliknya, krisis Liturgi adalah pula krisis Gereja. Liturgi dan Gereja adalah dua sisi mata uang.”[5]

Di zaman sekarang, banyak orang muda Katolik mengalami erosi citarasa kekudusan. Banyak Orang Muda Katolik tidak bisa lagi membedakan antara Gereja dan tempat nongkrong. Liturgi tidak lagi dianggap sakral dan kita bisa melihat lagu-lagu profan dan non-liturgis masuk ke dalam Liturgi. Orang muda Katolik tidak bisa lagi membedakan antara yang kudus dengan yang profan. Ketika para mam dan orang muda Katolik memperlakukan Liturgi dengan memberinya improvisasi seturut budaya populer, maka Liturgi semakin kehilangan identitasnya sebagai tempat perjumpaan dan relasi yang sejati dengan Allah. Liturgi menjadi berorientasi pada diri sendiri, pada diri orang muda.  Dampak yang lebih lanjut adalah melemahnya iman seperti kata Kardinal Raymond L. Burke, Jika kita melakukan kesalahan dengan berpikir kita adalah pusat Liturgi, Misa [yang dirayakan] akan mengakibatkan hilangnya iman.” Ada hubungan intrinsik tak terpisahkan antara iman dan Liturgi yang diungkapkan dalam kalimat “Lex Orandi, Lex Credendi” yang berarti “Hukum Doa adalah Hukum Iman”. Ketika Liturgi yang adalah doa publik dan resmi Gereja dicederai oleh berbagai pelanggaran Liturgi, maka iman Gereja pun ikut dicederai.

Lalu, apa solusinya?

Solusi utama berada pada Kaum Tertahbis sebagai Penjaga dan Pelayan Liturgi yang seharusnya merayakan Liturgi dengan benar. Mengutip pernyataan Nuncio Vatikan untuk Indonesia, Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi: “Maka saya ingin mengingatkan kembali bahwa perlu kesetiaan terhadap petunjuk-petunjuk liturgi yang diberikan oleh Gereja. Secara khusus, para uskup dan imam, yakni para pelayan liturgi suci, bukan pemilik liturgi, maka mereka tidak boleh mengubahnya sesuka hati. Setiap orang beriman yang menghadiri liturgi di setiap gereja Katolik, mesti merasa bahwa dia sedang merayakan liturgi dalam kesatuan dengan seluruh Gereja, yakni Gereja masa lampau dan masa kini, serta seluruh Gereja yang tersebar di seluruh dunia, Gereja yang bersatu dengan penerus Petrus dan dipimpin oleh para uskup.”[6] Bila Para Penjaga dan Pelayan Liturgi membiarkan pelanggaran Liturgi terjadi, maka orang muda Katolik akan membenarkan pelanggaran Liturgi di Misa-misa berikutnya dan kemudian menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan. “Uskup dan imam saja begitu, tidak melarang band masuk dalam Misa. Berarti tidak salah dong.”, kira-kira demikianlah yang dapat terjadi ke depannya.

Tetapi, bukankah merayakan Liturgi dengan kepatuhan pada pedoman-pedoman Liturgi adalah rubrikalisme? Rubrikalisme itu tidak selamanya buruk. Kardinal Raymond L. Burke menyatakan bahwa hukum-hukum Liturgi mendisiplinkan kita sehingga kita memiliki kebebasan untuk menyembah Allah. Sebaliknya, kita bisa terperangkap atau menjadi korban dari gagasan-gagasan individual kita, ide-ide relatif berdasarkan kehendak individu atau kelompok umat, dalam hal ini orang muda Katolik. Hukum-hukum Liturgi melindungi tujuan dari Liturgi dan menghormati Hak-hak Allah untuk disembah sesuai apa yang Ia kehendaki sehingga kita bisa yakin bahwa kita tidak sedang menyembah diri kita sendiri atau, seperti yang St. Thomas Aquinas katakan, menjadi semacam pemalsuan ibadah ilahi.[7]

Namun, orang muda Katolik tidak akan pernah cukup dengan “Ini tidak boleh di Liturgi”, “Itu boleh dalam Liturgi”, “Yang ini jangan dinyanyikan di Liturgi”. Ini adalah rubrikalisme yang negatif. Apa yang orang muda Katolik butuhkan adalah “Mengapa boleh dan tidak boleh?”, “Apa maknanya dari setiap tindakan Liturgi?”, “Mengapa Liturgi kita seperti ini?” dan ini semua adalah rubrikalisme positif yang bisa membantu menumbuhkan cinta dan hormat orang muda Katolik dalam Liturgi.
Lalu apa yang harus dilakukan? Menjelaskan tentang kodrat, makna, sejarah dan segala sesuatu tentang Liturgi untuk menumbuhkan cinta dan hormat umat terutama Orang muda kepada Liturgi dapat dimulai dengan beberapa langkah konkrit.

1. Dalam Bulan Kitab Suci beberapa paroki membuat tempat pameran khusus yang menjelaskan berbagai hal tentang Kitab Suci baik dari sejarah, ajaran Gereja tentang Kitab Suci, spiritualitas dan lain-lain. Setiap hari Sabtu dan Minggu, stan tersebut dibuka sehingga dapat dikunjungi umat. Hal yang sama dapat digunakan untuk Liturgi. Keuskupan atau paroki bisa memamerkan kasula, stola, alba dan lain-lain baik dari yang kuno hingga yang terbaru. Berbagai perlengkapan Liturgi lain seperti Patena, Sibori, Piala, Purificatorium dan lain-lain juga bisa dipamerkan sekaligus diberikan penjelasan dan pemahaman mengenai segala perlengkapan Liturgi tersebut.
2. Di beberapa kota terdapat koran dinding tempat lembaran-lembaran koran ditempelkan dan bisa dibaca lebih banyak orang secara gratis. Keuskupan dan Paroki dapat merintis hal yang sama. Penjelasan tentang Liturgi dan tentang topik-topik lainnya dapat diberikan melalui koran dinding ini. Di sini, orang muda yang jago desain grafis dan membuat poster dapat menggunakan talentanya untuk membuat koran dinding ini lebih menarik dan jelas dengan penggunaan gambar dan kata-kata yang menggugah keingintahuan.
3. Pertemuan kelompok kategorial Orang muda dapat dijadikan tempat untuk memberikan katekese tentang Liturgi. Pastor pembimbing atau anggota Seksi/Komisi Liturgi dapat hadir memberikan pemahaman tentang Liturgi bagi Orang muda. Momen ini mungkin adalah momen yang paling tepat sasaran dan lebih berdampak bagi Orang muda untuk menjelaskan tentang Liturgi.

Ketiga cara di atas berasal dari pemikiran satu kepala. Tentu pastor paroki dan seksi/komisi Liturgi serta Orang muda dapat bersama-sama berkumpul untuk mendapatkan lebih banyak cara konkrit lainnya. Mengutip Instruksi Kerja untuk Pewartaan Baru “Pewartaan baru harus berusaha mengorientasikan kebebasan manusia dari setiap pria dan wanita kepada Allah yang adalah sumber kebenaran, kebaikan dan keindahan.”[8]

Sebagai penutup, kepada orang muda, kita pun harus memotivasi diri sendiri mencari tahu tentang iman kita, menumbuhkan cinta kita kepada Liturgi terutama Perayaan Ekaristi. Sekarang, internet menjadi salah satu sarana untuk mengetahui iman. Situs-situs Katolik seperti ekaristi.org, katolisitas.org, imankatolik.or.id, yesaya.indocell.net, indonesianpapist.com, luxveritatis7.wordpress.com dan lain-lain dapat menjadi sumber pengetahuan iman kita, dan secara khusus mengenai Liturgi dan Ekaristi. Di facebook dan twitter pun tersedia banyak halaman yang menyampaikan pengajaran-pengajaran iman. Internet tidak cuma jadi sarana hiburan namun dapat menjadi salah satu alternatif tempat pencarian iman. Di samping itu, rutin membaca Kitab Suci dan kisah para santo-santa juga dapat dilakukan. Saya, sebagai orang muda Katolik, mengajak teman-teman orang muda Katolik sekalian untuk membaca dan merenungkan kisah para santo-santa terutama para martir. Dari mereka, kita bisa meneladani sikap, tindakan, hormat dan kecintaan mereka kepada Liturgi. Kita bisa mencintai Liturgi ala St. Fransiskus Assisi, ala St. Dominikus Savio, ala St. Tarsisius dan lain-lain. Monsinyur Nicola Bux berkata, “Dalam penganiayaan di negara-negara Komunis, iman dipelihara melalui Liturgi. Liturgi menyelamatkan iman.” Hal yang sama dapat berlaku dalam hidup kita. Di tengah-tengah penganiayaan rohani oleh pornografi, hedonisme, trend modern yang buruk dan lain-lain; Liturgi sebagai tempat perjumpaan dan relasi kita dengan Kristus dapat menjadi tempat pengungsian untuk menyelamatkan iman kita.  Mari kita mencintai Liturgi apa adanya. Liturgi tidak membosankan tetapi menguduskan kita.

---------------------
[1]. SYNOD OF BISHOPS XIII ORDINARY GENERAL ASSEMBLY, The New Evangelization For The Transmission Of The Christian Faith (Instrumentum Laboris) 2012 no. 18
[2]. PAUS YOHANES PAULUS II, Surat Apostolik Vicesimus Quintus Annus no. 7
[3]. Ibid.
[4]. KONSILI VATIKAN II, Sacrosanctum Concilium no. 10
[5]. KRISPURWANA CAHYADI, SJ., Biografi Benediktus XVI hlm. 154
[6]. USKUP AGUNG ANTONIO GUIDO FILIPAZZI, Homili pada Misa Pemberkatan Gereja Katedral Tanjung Selor 5 Februari 2012
[7]. KARDINAL RAYMOND LEO BURKE, Wawancara dengan Zenit di Roma 25 Juli 2013
[8].  SYNOD OF BISHOPS XIII ORDINARY GENERAL ASSEMBLY, The New Evangelization For The Transmission Of The Christian Faith (Instrumentum Laboris) 2012 no. 69

pax et bonum