Sabtu, 30 November 2013

Pengantar Terjemahan

Artikel ini berisi tinjauan psikologis atas sifat narsistik dari banyak imam terkait dengan berbagai pelanggaran-pelanggaran Liturgi yang seringkali terjadi karena inisiatif para imam tersebut. Artikel ini ditulis oleh Prof. Paul C. Vitz, seorang psikolog Katolik, bersama dengan puteranya, Diakon Daniel C. Vitz, IVE. Artikel ini memang ditulis dalam konteks imam-imam Katolik di Amerika Serikat; tetapi, ketika anda membaca isinya anda akan melihat bahwa hal yang sama juga terjadi di Indonesia baik dalam contoh yang sama maupun contoh yang berbeda sehingga artikel ini juga sesuai dengan konteks di Indonesia. Karena artikel ini sangat panjang, publikasi artikel ini dibagi menjadi dua bagian. Namun, bila anda ingin membaca secara bertahap tanpa perlu bolak-balik membuka web ini, anda dapat men-download artikel ini di Google Drive atau Dropbox. Bagian kedua dapat anda baca di sini. Selamat membaca.

Romo Paul Vlaar merayakan "Misa Oranye" mendukung kesebelasan Belanda di Piala Eropa 2013 lengkap dengan gawang, bola, dan busana liturgi berwarna oranye.
Pendahuluan

Sejak Konsili Vatikan II, Misa Kudus telah menjadi korban dari berbagai jenis kekacauan. Isu ini telah banyak didiskusikan dari berbagai perspektif, tetapi dalam artikel ini kami akan memeriksa aspek yang sebelumnya telah ditolak dari situasi ini – yaitu, alasan-alasan psikologis mengapa imam-imam memasukkan perubahan-perubahan ke dalam Misa Kudus. Kami tidak akan membahas tentang penjelasan teologis mengapa Misa menjadi subjek eksperimen liturgis, kami tidak akan membahas alasan-alasan liturgis untuk inovasi-inovasi tersebut. Sebaliknya, kami akan fokus pada psikologi imam dan orang-orang yang membantu dalam liturgi, yaitu pada motif-motif psikologis yang berbeda dari penalaran teologis dan liturgis.

Kami mengajukan bahwa motivasi utama di balik banyaknya perubahan dalam liturgi ini berasal dari motif-motif narsistik yang mendasar – yaitu, cinta pada diri yang ekstrim – yang ditemukan pada banyak orang dalam budaya kontemporer sekarang ini. Hal ini terutama adalah kasus berkaitan dengan perubahan-perubahan yang relatif kecil yang diperkenalkan dalam sebuah cara idiosinkratik ke dalam Misa Kudus. Kami pertama-tama merangkum dan menggambarkan sifat narsisme ini, lalu menerapkannya kepada situasi yang ditemukan di antara para imam.

Narsisme Orang Amerika

Pada permulaan tahun 1970an, sejumlah kritikus sosial utama mencatat dan mengkritik karakter negara ini (Amerika Serikat) yang semakin narsis – yaitu sibuk pada diri sendiri. Artikel Tom Wolfe “The Me Decade” (Dekade “Aku”) membuka kritik ini dan banyak orang lainnya mengikuti kritik ini. Mungkin, pembahasan paling ekstensif adalah The Culture of Narcissism oleh Christopher Lasch. Buku kritik panjang yang pertama mengenai Narsisme Orang Amerika ditulis oleh salah seorang penulis artikel ini (Paul C. Vitz), Psychology as Religion: The Cult of Self-Worship (1977, 1994). Paul C. Vitz secara eksplisit membahas signifikansi anti-Kristen dasar dari narsisme kultural zaman sekarang. Habits of the Heart: Individualism and Commitment in American Life karya Robert Bellah dkk pada tahun 1985 melanjutkan kritik-kritik ini. Kami secara singkat merangkum poin-poin kunci yang dibuat oleh para penulis ini untuk memungkinkan wawasan-wawasan mereka diterapkan kepada psikologi banyak imam-imam Amerika.

Lasch menekankan pada penurunan “citarasa terhadap masa sejarah” (p.1). Narsisme sebagai sebuah kerangka kerja (framework) mental lebih mudah terjadi pada individu-individu dan masyarakat-masyarakat ketika mereka tidak lagi terhubung terhadap masa lampau. Adalah masa lampau yang menyediakan sebuah kerangka kerja untuk menilai tingkah laku kontemporer baik atau tidak baik, layak atau tidak layak, tradisional atau baru. Masa lampau historis, dengan para pahlawan dan pelajaran-pelajarannya, adalah link bagi setiap pribadi kepada tradisi-tradisi keluarga dan kultural. Masa lampau historis (the historical past) menyediakan norma-norma tingkah laku dan struktur-struktur moral. Lasch menjelaskan bahwa ketika masa lampau telah memudar dari hati nurani orang-orang Amerika, kapasitas untuk pemanjaan diri narsistik (narcissistic self-indulgence) telah bertumbuh secara substansial.

Lasch juga menunjukkan bagaimana masyarakat Amerika mulai kehilangan kepercayaan diri akan masa depan – sesuatu yang benar-benar terjadi di Eropa. Penolakan akan masa depan ini mulai menyebar pada tahun 1960an dengan ketakutan akan ledakan penduduk (overpopulation). Banyak orang mulai menggagas “zero population growth” dan menganggap bahwa masa depan dunia akan lebih baik dengan jauh lebih sedikit manusia. Juga terjadi kehilangan harapan akan masa depan kemanusiaan dan organisasi-organisasi sosial tradisional. Fenomena yang sama ini segera tampak sehubungan dengan budaya barat (Western Culture) secara umum termasuk bangsa Amerika. Kritik-kritik modern terhadap masyarakat barat sebagai yang eksploitif, imperialistik, dan bahkan inferior secara budaya menyebar di antara komunitas-komunitas intelektual Amerika Serikat dan Eropa. Dari kampus-kampus, universitas-universitas dan seminari-seminari kami; pandangan ini menyebar menjadi sesuatu yang umum di antara para profesional Amerika, atau kelas masyarakat “yang memerintah” (“governing” class). Kritik terkait agama sendiri muncul pada saat yang sama dan di tempat yang sama. Sains, teknologi, dan kehidupan sekuler (duniawi) umumnya dipandang sebagai sesuatu yang diinginkan dan tidak terelakkan; sementara itu agama – dianggap bagian dari budaya Barat yang memalukan – ditakdirkan untuk menghilang. Kekristenan dalam berbagai bentuk yang dikenali itu dinilai sebagai sesuatu yang tidak memiliki masa depan. Menghilangnya harapan untuk masa depan di semua bidang ini  bersamaan dengan menurunnya keyakinan akan relevansi tradisi, berarti bahwa “sekarang / now” adalah hal yang paling penting. Setelah dipisahkan dari masa lalu dan memiliki keyakinan yang kecil akan masa depan, kita telah membiarkan masa sekarang mendominasi hati nurani kita.

Ada banyak contoh dari keasyikan terhadap masa kini – “sekarang / now” – dengan mengorbankan pelajaran-pelajaran dari masa lalu dan perhatian akan masa depan. Masyakarat konsumer, dengan obsesinya akan konsumsi dan dorongannya untuk menanggung utang dengan mengabaikan konsekuensi-konsekuensi di masa depan mungkin adalah contoh yang paling jelas. Glorifikasi/pemuliaan atas kepuasan seksual sementara dan kesenangan-kesenangan pancaindera adalah contoh umum lain dari fokus khusus kontemporer pada “masa sekarang”. Industri hiburan memberi makan – dan terus memberi makan – keasyikan terhadap masa kini. Pola pikir ini mempromosikan narsisme karena pribadi-pribadi, yang dulunya begitu setia pada tradisi mereka dan sadar akan masa depan mereka, saat ini telah memiliki batasan-batasan yang melekat pada pemanjaan diri dan kepuasan pribadi. Orang-orang seperti itu lebih memilih mengambil kepuasan pribadi daripada melanjutkan masa lalu yang mengagumkan dan memproyeksikan masa lalu yang mengagumkan tersebut dalam cara yang positif menuju sebuah masa depan yang penuh harapan. Singkatnya, “sekarang” dan narsisme berjalan beriringan.

Paul C. Vitz mengidentifikasi “psikologi diri” (self-psychology) dari Carl Rogers dan Abraham Maslow dan psikolog-psikolog lainnya sebagai faktor penyebab utama, khususnya dalam keasyikan psikologis dengan aktualisasi diri (self-actualization) dan pemenuhan diri (self-fulfillment). Paul C. Vitz juga menunjukkan bagaimana narsisme psikologis ini berubah menjadi penekanan New Age pada narsisme spiritual: “Ketika saya berdoa, saya berdoa kepada diri saya sendiri.” Diri sendiri, bagi banyak orang, telah menjadi pusat mutlak (absolute center) dari nilai-nilai dan keasyikan-keasyikan. Sikap ini adalah sebuah bentuk penyembahan berhala, secara jelas berkaitan dengan kejahatan tradisional berupa keangkuhan dan kesombongan, yang diringkas dengan tepat dalam godaan yang sungguh-sungguh kuno (Godaan ular terhadap Hawa)  – “Kamu akan menjadi seperti Tuhan.” Tentu saja, sebagian besar narsisis-narsisis Amerika tidak melangkah terlalu jauh, tetapi ada godaan yang kuat bagi individu-individu masa sekarang untuk setuju dengan motto Burger King – “Have it your way” / “Terserah Anda”.

Narsisme yang dibahas oleh Lasch difokuskan ulang oleh karya terkenal Bellah dkk Habits of the Heart. Buku ini terutama mengidentifikasi individualisme orang Amerika dan diri pribadi yang otonom sebagai budaya penyebab yang mendasari fragmentasi sosial Amerika, kesendirian dan keterasingan pribadi. Meskipun individualisme orang Amerika bukanlah hal yang sungguh sama dengan narsisme – dalam beberapa hal, individualisme orang Amerika lebih moderat – Bellah dkk menyimpulkan “pada akhirnya, hasil individualisme adalah sama” seperti narsisme atau egoisme. Bellah setuju dengan Lasch bahwa dengan individualisme, “orang-orang masa sekarang ‘melupakan nenek moyang mereka’, tetapi keturunan-keturunan mereka juga mengisolasi diri mereka dari orang-orang sezaman mereka.”

Narsisme Tipe Psikologis Umum

Rangkuman sebelumnya telah menginterpretasikan narsisme dalam kerangka kerja kultural atau sosial. Namun, definisi psikologis dari narsisme juga relevan. Narsisme klinis yang asli (genuine clinical narcissism), seperti gangguan kepribadian narsistik (NPD – Narcissistic Personality Disorder) adalah gangguan utama yang relatif jarang dan tidak menjadi perhatian di artikel ini. Sebaliknya, fokus kami adalah pada sifat narsis yang lebih moderat yang ditemukan pada banyak individu sekarang ini. Lima karakteristik relevan, semuanya adalah bagian dari gangguan kepribadian narsistik sebagaimana yang digambarkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders: Fourth Edition (DSM-IV-R) description of NPD.

1. Ingin dikagumi secara berlebihan, dengan karakter ini seorang narsisis menjadi sangat sensitif (memiliki sensitivitas yang ekstrim) pada kritik terhadap dirinya yang dapat membawanya kepada penarikan diri sosial atau perendahan diri. Seringkali karakter ini dikaitkan dengan perilaku-perilaku mencari perhatian yang terlihat jelas. Sifat narsistik ini seringkali ditemukan pada mereka yang memperkenalkan dan berpartisipasi dalam inovasi-inovasi Liturgi.

2.  Perasaan bahwa dirinya memiliki hak, yaitu karakter narsistik berupa ekspektasi-ekspektasi yang tak masuk akal akan perlakuan yang menyenangkan dan persetujuan otomatis dari orang lain atas saran-saran atau harapan-harapannya. Sebuah sikap “aturan-aturan tidak berlaku untuk saya” datang bersamaan dengan perasaan memiliki hak ini – sebagai contoh:  “rubrik-rubrik (pedoman) Misa tidak benar-benar mengharuskan saya untuk mengikutinya.”

3. Keyakinan bahwa mereka superior, spesial atau unik.  Karakter narsistik ini mengharapkan orang lain mengakui hal ini: bahwa mereka (yang meyakini diri mereka superior, spesial dan unik) hanya perlu bergaul dengan orang yang spesial atau memiliki status tinggi. Bagi para imam, karakter ini dapat ditunjukkan dengan kebutuhan-kebutuhan ekstrim untuk bergaul dengan klerus-klerus tingkat tinggi (misalkan paus dan uskup) atau dengan para ahli-ahli liturgi.

4. Arogan serta perilaku dan sikap yang angkuh. Para imam menunjukkan karakter narsistik ini dalam gaya (style) liturgis mereka atau inovasi dan kreativitas mereka atau ketika mereka dikritik karena inovasi-inovasi tersebut. Sikap seperti ini seringkali mendasari asumsi para imam bahwa mereka memiliki hak untuk mengubah Liturgi.

5. Kurangnya empati, yaitu karakter narsistik berupa keengganan untuk mengakui atau mengenali perasaan dan kebutuhan orang-orang lain. Karakter ini seringkali ditunjukkan dengan memandang rendah atau kemarahan kepada siapapun yang tidak setuju akan perubahan-perubahan dalam Liturgi yang mereka lakukan yang mana seringkali perubahan-perubahan tersebut malah tidak memiliki dukungan hukum liturgis dan kanonis yang nyata.

Semua karakter di atas tidak harus muncul pada setiap individu untuk mengetahui dengan jelas kepribadian narsistik secara umum. Tetapi karakter apapun dari daftar karakter ini yang muncul dengan ekstrim atau 2 atau lebih dari daftar karakter ini muncul sudah cukup untuk mengenali sebuah tipe narsistik.

lanjut ke bagian kedua.