Langsung ke konten utama

Gereja Katolik Yunani Ukraina



Uskup Agung Sviatoslav Schevchuk (40)


Gereja Katolik Yunani Ukraina adalah Gereja Katolik Timur terbesar. Gereja Katolik Yunani Ukraina adalah Gereja dengan ritus Bizantium yang berada dalam persekutuan penuh dengan Paus Roma dan  mengakui otoritas spiritual dan yurisdiksional Paus. Dalam konteks ini, “ritus” berarti tradisi liturgis, teologis, spiritual dan kanonikal.

Nama lain untuk Gereja ini

Gereja Uniat; Gereja Katolik Yunani; Gereja Katolik Ukraina; Gereja Katolik Ukraina ritus Bizantium; Gereja Katolik Kyivan

Nama Gereja Katolik Yunani diperkenalkan oleh Kaisar Maria-Theresa pada tahun 1774 untuk membedakan Gereja ini dari Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Armenia. Dalam dokumen resmi Gereja, istilah Ecclesia Ruthena unita digunakan. Pada tahun 1960, nama Gereja Katolik Ukraina mulai digunakan dalam dokumen resmi untuk merujuk pada umat Katolik Ukraina di diaspora dan Gereja bawah tanah di Soviet Ukraina. Di dalam dokumen statistik tahunan kepausan, Annuario Pontificio, nama Gereja Katolik Ukraina ritus Bizantium digunakan. Pada Sinode Uskup-uskup UGCC (September 1999), nama Gereja Katolik Kyivan diajukan untuk menekankan identitas Gereja ini.

Konversi Ukraina dan Ketegangan antara Barat dan Timur
Pada tahun 988, Pangeran Volodymyr Agung menjadikan Kekristenan dalam Ritus Byzantine-Slavic sebagai agama nasional dari negara ini, Kyivan-Rus. Hal ini terjadi sebelum Skisma Timur  pada tahun 1054 yang memisahkan Kristen Timur dari Barat. Gereja Kyivan menerima warisan tradisi Bizantium Timur dan merupakan bagian dari Kepatriarkhan Konstantinopel. Sekalipun begitu, Gereja ini juga tetap berada dalam persekutuan penuh dengan Katolik Latin dan Patriarkhnya, Paus Roma.

Meskipun Konstantinople dan Roma memiliki perselisihan, Hierarki Kyivan mencoba mengusahakan persatuan Kristen. Wakil dari Rus berpartisipasi dalam Konsili Lyon (1245) dan Konstans (1418) di Barat. Isidorus, Uskup Agung Kyiv sendiri adalah seorang dari para kreator Persatuan Florence (1439).

Ketika Keuskupan Agung Kyivan sedang berusaha untuk menjalin persatuan kembali dengan Roma, sebuah Keuskupan Agung di utara Kyiv, di Moskow bangkit berdiri. Gereja Moskow menolak untuk menerima Persatuan Florence dan memisahkan diri dari Keuskupan Agung kuno di Kyiv, serta mengumumkan status autocephalus (Status Self-Governing) pada tahun 1448. Tahun 1589, Gereja Moskow menjadi Kepatriarkhan.

Persatuan dengan Roma pada Tahun 1596 dan Perpecahan Timur dan Barat di Ukraina 
Gereja Kyivan mendapat tantangan dari Reformasi Protestan dan Pembaharuan Katolisisme pada masa itu dan juga menderita krisis internal yang serius. Sinode memutuskan untuk berada di bawah yurisdiksi Tahta Roma. Ritus tradisional Gereja Kyivan terpelihara dan eksistensi etnik, kebudayaan dan gerejani terjamin. Hal ini diteguhkan pada Konsili Brest tahun 1596, yang menjadi permulaan dari Gereja Katolik Yunani Ukraina sebagai institusi.

Beberapa anggota hierarki dan awam Gereja Kyivan, bagaimanapun juga, memilih untuk tetap berada di bawah yurisdiksi Kepatriarkhan Konstantinopel. Terkoyak oleh perpecahan internal, Bagian tengah dan timur Ukraina jatuh ke bawah kendali penguasa Moskow pada tahun 1654. Segera Keuskupan Agung Ortodoks Kyivan berada di bawah otoritas Kepatriarkhan Moskow (1686). Ketsaran Rusia tumbuh dan menindas umat Katolik Yunani dan memaksa “konversi/perpindahan” ke Ortodoks Rusia (1772,1795,1839,1876). Martir-martir Pratulin meninggal sebagai hasil penindasan-penindasan ini. 

Klerus dan awam Ortodoks di Ukraina kecewa dengan kaitan yang erat antara Gereja Ortodoks Rusia dengan kepentingan nasional Rusia. Gerakan “Ukrainophile” dimulai dan setelah Revolusi Rusia pada tahun 1917, sebuah gerakan dimulai untuk mendapatkan status autocephalus untuk Ortodoks Ukraina. Usaha-usaha untuk mengproklamasikan status Autocephalus pada tahun 1920-an dan 1940-an, bagaimanapun juga, ditindas oleh kekuatan soviet.  

Kepala Gereja Katolik Ukraina sekarang adalah Uskup Agung Utama Kyiv, Sviastoslav Schevchuk (sejak 23 Maret 2011). 

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...