Langsung ke konten utama

SUARANYA ADALAH YOHANES, SABDANYA ADALAH KRISTUS

oleh: St Agustinus, Uskup (354-430)

Yohanes adalah suara, tetapi Yesus adalah Sabda yang ada sejak semula. Yohanes adalah suara yang ada untuk suatu masa; tetapi sejak dari semula Kristus adalah Sabda yang hidup untuk selamanya.

Singkirkanlah sabdanya, maknanya, dan apalah artinya suara? Bilamana tidak ada makna, maka yang tinggal hanyalah suara tanpa makna. Suara tanpa kata sampai ke telinga tetapi tidak menggerakkan hati.

Tetapi, marilah kita cermati apa yang terjadi apabila kita pertama-tama berusaha menggerakkan hati. Ketika aku memikirkan mengenai apa yang hendak aku katakan, kata atau pesan telah ada dalam hatiku. Apabila aku hendak berbicara kepadamu, aku mencari cara untuk membagikan kepada hatimu apa yang telah ada dalam hatiku.


Dalam usahaku untuk mencari cara agar pesan ini sampai kepadamu, agar kata yang telah ada dalam hatiku mendapatkan tempat juga dalam hatimu, aku mempergunakan suaraku untuk berbicara kepadamu. Suaraku menyampaikan makna kata kepadamu dan kemudian suara itu pun hilang. Kata yang disampakan suara kepadamu sekarang ada dalam hatimu, dan meski demikian kata yang sama masih tetap ada pula dalam hatiku.

Ketika kata telah disampaikan kepadamu, tidakkah suara seakan berkata: Kata haruslah bertumbuh, sementara aku harus lenyap? Suara telah menjadikan dirinya terdengar demi melayani kata, dan kemudian suara pun lenyap, seolah hendak mengatakan: Sukacitaku telah sempurna. Marilah kita mencamkan kata; janganlah kita kehilangan kata yang telah dikandung dalam lubuk hati kita.

Adakah kalian memerlukan bukti bahwa suara berlalu tetapi Sabda Allah tinggal? Di manakah suara Yohanes Pembaptis sekarang? Ia telah menunaikan tugasnya, dan ia pun lenyap. Sekarang, pembaptisan Kristus-lah yang kita rayakan. Segala yang kita yakini ada dalam Kristus; kita mengharapkan keselamatan dalam Dia. Inilah pesan yang diserukan sang suara.

Sebab sulit membedakan kata dari suara, bahkan Yohanes sendiri disangka sebagai Kristus. Suara dianggap Sabda. Tetapi suara mengenali Sabda, dan tegas tak hendak menghinakan Sabda. Aku bukanlah Kristus, katanya, bukan pula Elia, ataupun nabi. Pertanyaan muncul: Jadi, siapakah engkau? Jawabnya: Aku adalah suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan.

Suara orang yang berseru-seru di padang gurun adalah suara orang yang memecah keheningan. Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, katanya; seolah ia hendak mengatakan: “Aku berkata demi menghantar Dia masuk ke dalam hati kalian, tetapi Ia tidak memilih masuk ke mana aku menghantar-Nya terkecuali jika kalian mempersiapkan jalan untuk-Nya.”

Mempersiapkan jalan berarti berdoa dengan baik; berarti berpikir merendahkan diri. Hendaknyalah kita belajar dari Yohanes Pembaptis. Ia dianggap sebagai Kristus; tetapi ia memaklumkan diri bahwa dia bukanlah yang mereka sangka. Ia tidak mengambil keuntungan dari kesalahan mereka demi kemuliaannya sendiri.

Andai ia mengatakan, “Akulah Kristus,” dapatlah kalian bayangkan bagaimana orang akan segera percaya, sebab mereka telah percaya bahwa ia adalah Kristus bahkan sebelum ia mengatakannya. Tetapi ia tidak mengatakannya; ia mengakui siapa dirinya. Ia memaklumkan dengan jelas siapa dia; ia merendahkan dirinya.

Ia tahu di mana keselamatannya terletak. Ia mengerti bahwa ia adalah lampu, dan ketakutannya adalah bahwa ia dapat terbakar oleh angin kesombongan.


sumber: yesaya dot indocell dot net

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...