Langsung ke konten utama

Beberapa Prinsip dalam Apologetika

Sebelumnya aku menuliskan ini sebagai tanggapan sebuah posting di Discussion Board di Page ini, tetapi aku rasa hal ini perlu dibagikan dalam sebuah topik terpisah, semoga bermanfaat bagi kita semua.
Aku ingin membagikan dua prinsip utama dalam mempertanggung-jawabkan iman Katolik;

1. Prinsip Iman dan Moral

Dalam prinsip ini TIDAK ADA tawar menawar dalam hal kebenaran, doktrin iman dan moral. Semua harus mengacu pada iman yang sejati yaitu Gereja Katolik dalam ajaran-ajaran Magisterium. Segala hal pengajaran harus mengacu pada; Kitab Suci, Katekismus Gereja Katolik, Kitab Hukum Kanonik, dan dokumen-dokumen Gereja terkait (e.g; Hasil Konsili, Sinode, Ensiklik, dll). Semua pengajaran harus sesuai dengan ini semua, tidak ada tawar menawar, teguh tidak tergerak, tidak berkompromi.

2. Prinsip Kemanusiaan

Dalam prinsip ini, penghargaan kepada lawan bicara sebagai manusia seutuhnya adalah prinsip yang harus disertakan dan juga utama. Tetap mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan dan etika berdiskusi yang benar. Dua prinsip ini sering kali dikaburkan, satu diingat, yang lain dilupakan. Prinsip Iman dan Moral diutamakan, prinsip kemanusiaan dilupakan, jadilah debat kusir hingga berbagai konflik sosial yang membawa penderitaan, sebaliknya prinsip kemanusiaan diutamakan, prinsip iman dan moral dilupakan, jadilah sikap INDIFFERENT, toleransi berlebihan, mudah pindah agama, keyakinan iman mudah tergoyahkan karena tidak tegas.

Maka, segala macam bentuk "fallacy" atau "sesat pikir" harus dikenali dan dihindarkan, ini lah butir-butir utama yang sering terjadi di forum-forum;

yaitu ad hominem, ad auctoritatis, ad baculum, ad misericordiam, ad populum.

a. Ad hominem, pasti di antara kalian sudah ada yang mengerti dan terbiasa dengan istilah ini, yaitu fokus pada pribadi, baik itu penyerangan atau pembenaran. Penyerangan pribadi yang didasarkan pada aspek pribadi yang meliputi; gender, fisik, sifat dan psikologi serta SARA. Aspek pembenaran ada pada pribadi pula, yaitu suka atau tidak suka. Suka pada si orang itu maka ia otomatis menjadi benar apa pun yang dikatakannya, tidak suka pada orang itu maka otomatis salah. Contoh;
- Kamu itu bodoh sekali !!
- Susah sekali menjelaskan ke kamu, sudah diterangkan di atas kalau...gimana sih??
- Kamu memang bebal dan keras kepala !! baca tulisanku......
- Ah, sombong sekali kamu !
- Dia temanku, ya aku bela entah gimana caranya....
- Biasa lah, suku A pasti komentarnya seperti itu....

2. Ad baculum, yang memasukan unsur desakan-ancaman dalam argumentasi sebagai dasar pembenaran. Dalam hal ini ya ban dan thread locking. Misal;
- Ini peringatan terakhir ! aku akan ban kamu kalau dilanjutkan.....
- Sudah berulang-kali aku tulis, kalau aku admin kamu pasti aku ban !!

3. Ad auctoritatis, yaitu pembenaran atas dasar kewibawaan. Ia benar karena jabatannya, perannya, prestasinya, posisinya. Misal;
- Dia moderator forum ini, pasti yang dikatakannya benar.....
- Dia sarjana Theologi, nggak mungkin salah....
- Si A sudah pasti betul ga perlu diragukan pendapatnya, beda dengan si B...

4. Ad misericordiam, yaitu pembenaran atas dasar belas kasihan. Karena lupa maka ia benar, karena tidak sengaja maka ia tidak dapat salah, dll. Ini biasanya ada pada beberapa user;
- Lah kan aku nggak tahu, ya beritahu dulu dong !!
- Dia kelupaan akan hal itu, wajar lah.....
- Aku salah ketik, sudah mengantuk....maksudku bukan begitu kok...

5. Ad populum, yaitu argumentasi provokatif yang bertujuan mengajak pembaca, peserta untuk mengikuti pembenaran dirinya, baik melalui penalaran logis namun seringkali tidak logis, atau dipaksakan penalarannya.

Aku rasa, lima butir ini bisa dijadikan bahan refleksi kita dalam berforum dan berpendapat, contoh buruk memang diperlukan tetapi bukan untuk ditiru.

Maka, dengan memerhatikan prinsip-prinsip yang aku tulis, hendaknya kita jangan ragu untuk menyampaikan iman yang benar, tidak perlu takut akan jatuh dalam debat kusir yang tidak perlu yang bersifat KONTRA PRODUKTIF sebab telah menaati kaidah-kaidah tersebut, semua akan tetap dalam nilai-nilai kebenaran sejati. Perdebatan memang tidak dapat dielakkan dalam setiap diskusi, tetapi debat yang seperti apa? janganlah dikaburkan dengan sifat konotasi negatif dari kata "debat" itu sendiri. Debat "ad hominem", "ad baculum", yang menyertakan argumentum-argumentum "ad auctoritatis", "ad misericoridam", "ad verecundiam" ini lah yang kita hindari. Tetapi debat dalam bentuk penyerangan atas sebuah opini dengan menyampaikan opini yang dirasa dengan segala penilaian objektif yang lebih tepat yang dijalankan, bukan kepada diri personal si pemberi opini.

Salam dan doaku...
by Julius Paulo:

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...