Langsung ke konten utama

Ketaatan Pada Gereja


Umat Katolik sekarang ini, terutama di negara Indonesia, seringkali melupakan ketaatan pada Gereja (Katolik) yang diberi kuasa oleh Sang Jalan dan Kebenaran dan Hidup untuk mengajarkan ajaran Iman dan Moral secara infallible/tidak dapat sesat (Matius 16:18-19, 1 Timotius 3:15). Dalam Lukas 10:16, dapat kita temukan bahwa ketaatan kepada Gereja adalah hal yang diinginkan Tuhan Yesus Kristus.
Kristus sendiri meminta orang-orang Israel taat pada apa yang diajarkan orang Farisi dan ahli taurat meskipun mereka tidak diberi karunia infallibilitas dan mereka juga sering melalaikan apa yang mereka ajarkan (Mat 23:1-3).

Kepada orang Farisi dan Ahli taurat yang tidak memiliki karunia infallibilitas, Kristus meminta umat Israel taat; apalagi kepada Gereja (Katolik) yang memiliki karunia tersebut, tentunya sudah layak dan sewajibnya umat Katolik taat pada pengajaran Iman dan Moral Gereja Katolik karena Kristus menghendaki demikian. Sebagai umat Katolik, kita juga harus yakin dan percaya dan tetap memegang teguh kebenaran bahwa Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik ini didirikan oleh Kristus sendiri di atas Sang Batu Karang (Mat 16:18). 

Alam maut tidak akan dapat menguasai Gereja Katolik (Mat 16:18) karena Kristus telah berjanji akan senantiasa menyertai Gereja sampai pada akhir zaman (Mat 28:20) dan karena KasihNya juga, IA mengutus Roh Kudus untuk menyertai Gereja dan menuntun Gereja ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 14:16, 16:13). 

Lebih jauh silahkan klik link The Biblical Church

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...