Langsung ke konten utama

Kepala Inkuisisi Gereja Katolik saat ini: Kardinal Levada

William Joseph Cardinal Levada
William Joseph Cardinal Levada (75) saat ini merupakan Prefek (Kepala) dari Congregratio pro Doctrina Fidei (Kongregasi Doktrin Iman). Kongregrasi ini bertugas untuk menjaga dan mengajukan doktrin iman dan moral Gereja Katolik. Kongregrasi ini sekaligus bertugas melindungi Gereja Katolik dari ajaran-ajaran sesat/bidaah. Kongregrasi ini didirikan oleh Paus Paulus II pada tanggal 21 Juli 1542 dengan nama  Commision of Roman and Universal Inquisition (Komisi Inkuisisi Roma dan Universal). Kongregrasi ini adalah kongregrasi tertua dari 9 kongregrasi yang ada dalam Kuria Roma.

Ibarat tim sepakbola, Bapa Suci Benediktus XVI menjadi penjaga gawang doktrin iman dan moral Gereja Katolik, sedangkan Kongregrasi Doktrin Iman menjadi pemain belakang yang bertugas menghalau serangan lawan dengan Kardinal Levada sebagai pemain belakang utamanya.

Lalu, Siapakah Kardinal Levada ini?



William Joseph Levada lahir di Long Beach, California (AS) pada tanggal 15 Juni 1936. Dia memasuki seminari di Los Angeles. Pada tahun 1958, Levada dikirim ke North American College dan di sana ia berhasil mendapatkan gelar doktor teologi Suci "magna cum laude" dari Gregorian University.

Ia ditahbiskan menjadi Imam di Basilika St. Petrus pada 20 Desember 1961 dan berkarya di paroki-paroki di Keuskupan Agung Los Angeles. Dia juga mengajar teologi di Sekolah Teologia Seminari St. Yohanes yang berada di Camarillo, Keuskupan Agung Los Angeles. Pater Levada ditunjuk sebagai offisial dari Kongregrasi Doktrin Iman pada tahun 1976 dan selama 6 tahun pelayanannya, ia mengajar di Gregorian University.

Pada tahun 1982, ia ditunjuk menjadi direktur eksekutif dari Konferensi Para Uskup California di Sacramento. Selama dua tahun di sana, dia ditunjuk sebagai Uskup Auksilier dari Keuskupan Agung Los Angeles dan ditahbiskan sebagai Uskup pada 12 Mei 1983. Sekembalinya ia kembali ke Los Angeles pada tahun 1984, Uskup Levada melayani sebagai vikar untuk Gereja Santa Barbara sampai tahun 1986, ketika ia ditunjuk sebagai Uskup Agung Portland.

Tahun 1995, Uskup Agung Levada kembali ke California dan menjadi Uskup Agung Koadjutor Keuskupan Agung San Francisco dan kemudian ia menjadi Uskup Agung di sana pada bulan Desember tahun itu. (Penjelasan mengenai Uskup Auksilier dan Uskup Koadjutor dapat di baca di artikel ini.) Pada November 2000, Vatikan mengumumkan penunjukannya sebagai seorang anggota dari Kongregrasi Doktrin Iman. 

Pada tanggal 13 Mei 2005, Uskup Agung Levada diangkat menjadi Prefek Kongregrasi Doktrin Iman oleh Paus Benediktus XVI. Dan pada tanggal 26 Maret 2006, Uskup Agung Levada diangkat menjadi Kardinal oleh Paus Benediktus XVI juga.


Levada, William Joseph (75)
Born:
1936.06.15 (United States)
Ordained Priest:
1961.12.20
Consecrated Bishop:
1983.05.12
Created Cardinal:
Auxiliary Bishop of Los Angeles (United States) (1983.03.25 – 1986.07.01)
Metropolitan Archbishop of Portland in Oregon (United States) (1986.07.01 – 1995.08.17)
Coadjutor Archbishop of San Francisco (United States) (1995.08.17 – 1995.12.27)
Metropolitan Archbishop of San Francisco (United States) (1995.12.27 – 2005.05.13)
Prefect of Congregation for the Doctrine of the Faith (2005.05.13 – ...)
President of Pontifical Biblical Commission (2005.05.13 – ...)
President of International Theological Commission (2005.05.13 – ...)
Cardinal-Deacon of S. Maria in Domnica (2006.03.24 [2006.03.26] – ...)
President of Pontifical Commission “Ecclesia Dei” (2009.07.08 – ...)

Pax et Bonum


Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...