Langsung ke konten utama

Atheis, Kitab Suci dan Seorang Imam


Seorang ateis sedang makan bersebelahan dengan seorang pastor. Dengan sengaja dia memulai percakapan yang diarahkan untuk mempermalukan pastor saleh itu, yang dia ketahui dari busana collar yang dikenakan sang pastor.
"Apakah Anda seorang pastor?"
"Ya."
"Anda berkotbah tentang Alkitab?"
"Ya."
"Saya kira anda menemukan banyak hal yang tidak Anda mengerti di dalam Alkitab."
"Beberapa hal, ya." Jawab jujur pastor tersebut.
"Lalu apa yang Anda perbuat dengan hal-hal itu?"
"Saya memperlakukan sama seperti yang saya lakukan dengan tulang dari daging steak ini. Bila saya menjumpai sepotong tulang, saya menyisihkannya ke tepian piring. Lalu saya melanjutkan makan, biarkanlah kalau2 ada orang bodoh untuk memaksakan diri memakannya sehingga tulang itu tersangkut di tenggorokannya." ~Tarbell's Teacher's Guide

Fratres, Kitab Suci tidak memberikan dirinya untuk dimengerti semua orang. Karunia Kitab Suci adalah karunia kebal-salah (infallible) dan bukan karunia untuk gampang dimengerti (perspicuity). Itu sebab kita butuh Gereja sebagai tiang dan penopang dasar kebenaran (1Tim 3:15) untuk memberi tau dan mengajarkan ajaran2 Kristus lewat kuasa mengajar tidak-dapat-salah (infallible) yang dimiliki Sto Petrus dan para Paus penerusnya (Mat 16,19; Mat 18,18), itu sebab ada dokumen lain pengajaran resni dari Gereja buat kita. Nama dokumen itu adalah Katekismus Gereja Katolik dan Kompendium Katekismus Gereja Katolik (KKGK).
[In Cruce Salus]

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...