Langsung ke konten utama

Keindahan Ajaran Kristus

Yesus Kristus dan St. Fransiskus Assisi


Kita dapat sampai kepada suatu keyakinan bahwa Yesus Kristus adalah Penebus terjanji, apabila kita memperhatikan isi pewartaan-Nya. Kita perhatikan beberapa aspek dari ajaran-Nya itu.

1. Kebahagiaan. Kristus datang bukan  hanya untuk mengajarkan kepada kita siapa Allah dan siapa manusia. Ia juga datang untuk menyampaikan kepada kita apa yang dilakukan Allah untuk kebahagiaan kita di mana kita dapat menemukan kebahagiaan itu dan kita dapat menemukan jalan-jalan mana yang kita butuhkan untuk mencapainya. Ia datang untuk menyampaikan kepada kita bahwa masih ada jalan kembali untuk mereka yang sudah mengasingkan diri dari Allah dan bahwa kita masih dapat mengambil bagian pada kehidupan Allah dan pada hal-hal ilahi. Khotbah-Nya tidak terdiri dari perkataan semata-mata, tetapi khotbah-Nya itu mencapai puncaknya pada perbuatan, ialah kematian-Nya di kayu salib. Hanya dengan dan di dalam dan melalui Kristus, kita dapat bersatu dengan Allah.

Dengan perantaraan kematian-Nya, Kristus telah mendirikan kerajaan Allah yang sekarang ini sudah berada di tengah kita. Di dunia yang fana ini, kerajaan Allah telah berada di tengah manusia yang lemah dan berdosa. Kita belum dapat melihat kemegahan kerajaan itu oleh karena masih ditantang oleh dunia dan masih disurami oleh dosa kita. Kita masih menantikan saat yang definitif, kemenangan terakhir dan manifestasi kerajaan ini dalam kemuliaannya pada akhir zaman apabila Kristus datang kembali.


2. Hukum Kesusilaan. Sebelum dan sesudah Kristus, dapat dicatat banyak pengkhotbah kesusilaan. Juga mereka mengemukakan hal yang bagus dan indah mengenai kesusilaan. Tetapi tidak ada seorang yang dapat melebihi Kristus.

Kristus tidak hanya menyampaikan garis-garis umum mengenai cinta kasih terhadap manusia, kebaikan terhadap sesama dan persamaan untuk semua orang. Ia menuntut bahwa kita harus mencintai sesama; kalau tidak, kita tidak mungkin mencintai Allah dengan sesungguhnya. Cintakasih itu sifatnya harus sedemikian umumnya sehingga mencakup juga musuh-musuh kita. Kita harus mengampuni penghinaan, membalas yang buruk denganyang baik, dan mengikuti Bapa Surgawi dalam belaskasihan-Nya. Cintakasih harus tanpa pamrih sehingga jika perlu kita berkorban bagi sesama kita dan menanggung dengan sabar segala ketidakadilan.

Kristus sangat menekankan nilai dan keperluan doa. Doa harus dilakukan dengan hormat, penuh pengharapan dan cinta kasih. Ia menghendaki agar doa dijalin menjadi satu dengan kehidupan. Kita harus berdoa terus-menerus. Doa harus mempertahankan pergaulan yang mesra antara kita dengan Allah.

Selanjutnya Kristus minta dari para pengikut-Nya cinta akan kebenaran, kejujuran, keadilan, kekuatan dan kebesaran jiwa, kemurnian, hormat terhadap kewibawaan karena ia berasal dari Allah, ketaatan terhadap Gereja yang memiliki otoritas mengajar, penyangkalan terhadap kefanaan dan matiraga. Tetapi di atas segala-galanya terdapat cintakasih, baik terhadap Allah maupun terhadap sesama karena keduanya merupakan satu kesatuan. Kristus tidak memberikan tuntutan yang mudah atau ajaran yang melempem.

3. Universalitas. Kebahagiaan yang dibawakan oleh Penebus dan ajaran yang ia khotbahkan diperuntukkan kepada semua orang. Sifatnya universal. Pertama sekali pada tingkat horizontal; untuk semua manusia dari semua zaman, semua bangsa, sukubangsa dan tingkat kemasyarakatan, semua pekerjaan, umur dan tingkat pengetahuan. Tetapi juga pada tingkat vertikal. Gereja Kristus adalah Gereja untuk seluruh manusia; Gereja itu memperhatikan aspek rohani dan jasmani. Gereja ini mempengaruhi kekuatan spiritual, perasaan dan hati manusia. Di samping itu, Gereja ini tidak mengabaikan badan. Ia menguduskan yang jasmani dan mempergunakannya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Kristus mau mendirikan di bumi ini kerajaan Allah di dalam Gereja yang kelihatan dengan hierarki yang kelihatan juga.

Kristus telah mempergunakan lambang-lambang jasmani sebagai jalan pengudusan dan kontak dengan Allah. Ia sendiri telah menjadi manusia dan telah mengambil sosok tubuh. Dengan demikian Ia telah menguduskan yang jasmani. Ia tidak meremehkan yang jasmani, oleh karena badan juga telah ditentukan untuk kemuliaan lahiriah apabila orang-orang terpilih akan mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus.

Disadur dari buku Aku Percaya karya Pater H. Embruiru, SVD.

Pax et Bonum

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...