Langsung ke konten utama

Katekese tentang Siksa Kekal / Neraka menurut Katolik (bag. 2)



2. Jalan ke Neraka

Apabila kita mengetahui bahwa Tuhan telah mempersiapkan siksa yang wajar bagi para pendosa, maka kita dapat bertanya lagi: siapa saja yang masuk neraka dan karena dosa apa saja. Pada tempat yang pertama kali harus ditegaskan bahwa yang menghukum adalah Allah yang adil, Allah yang begitu bijaksana, baik dan belaskasih. Tidak ada satu makhluk pun diciptakan Tuhan untuk neraka dan tidak ada seorang pun dihukum tanpa dosa pribadinya. Neraka menurut kodratnya adalah suatu siksa. Tuhan hanya menolak mereka yang layak disiksa karena kesalahannya yang besar. Pendosa yang diceburkan ke dalam neraka mengerti bahwa ia menuai apa yang ditaburnya sendiri. Ia sudah berpaling dari Tuhan dan membelakangi Tuhan. Ia menolak pertobatan dan meninggal tanpa sesal.

Dikatakan pula bahwa murka Allah nyata dari Surga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia yang menindas kebenaran dengan kelaliman. (Rom 1:18). Dari Kristus sendiri kita mendengar bahwa mereka telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum. (Yoh 5:29). Dan Santo Yakobus memberi peringatan bahwa dosa yang sudah matang akan melahirkan kematian. (Yak 1:15). Pikiran ini tersebar di seluruh Kitab Suci; dosa membawa kematian yaitu kematian jiwa dan badan; hanya kebenaran membawa kehidupan yang benar.

Kadang-kadang disebut juga macam dosa secara konkrit, dosa tidak percaya: Barangsiapa tidak percaya ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. (Yoh 3:18)

Tidak ada seorang terkutuk dapat berkata bahwa apa yang ia lakukan tidak seberapa beratnya. Juga Tuhan tidak dapat dipersalahkan karena Tuhan memberi rahmat yang cukup untuk mencapai kebahagiaan. Hanya kehendak jahat dari pihak pendosa membuat dia layak menerima siksa neraka.

Dosa menyesatkan orang lain: Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya pada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. (Mat 18:6). Santo Paulus sendiri menyusun suatu daftar perbuatan yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percederaan, roh pemecah belah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Lalu ia melanjutkan: terhadap semuanya itu aku peringatkan kamu bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah. (Gal 5:19-21). Dan pada saat perpisahan definitif antara orang yang baik dan orang yang buruk, dikatakan: Tinggal di luar, hai anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang sundal, orang pembunuh, penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dosa dan yang melakukannya. (Why 22:15). Bersama orang penakut, orang yang tidak percaya dan orang keji, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang bernyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua. (Why 20:8)

Setiap orang yang mati dalam keadaan berdosa berat masuk ke neraka, juga orang yang menamakan dirinya Kristen. Santo Paulus menasehati saudara-saudaranya di dalam iman agar mereka tidak menipu diri di dalam masalah ini. tidak tahukah kamu bahwa orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Kita harus mempunyai pengharapan yang kokoh kuat kepada Kristus tetapi kita juga harus selalu taat sesuai dengan perkataan Kitab Suci: Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar. (Fil 2:12)

3. Pelaksanaan Siksa

Neraka berarti ketidakhadiran Tuhan dan siksa api. Siksa-siksa ini dirasakan oleh pendosa sesudah kematian, langsung dan tidak diulur-ulurkan. Neraka itu kekal sifatnya. Kitab Suci mempergunakan bahasa yang jelas untuk menandaskan kekekalan mereka. Pendosa diancam dengan siksa yang kekal (Mat 25:46), dengan api yang kekal (Mat 18:8), dengan hukuman kekal (Ibr 6:2); tidak ada ampun selama-lamanya karena ia berbuat dosa kekal. (Mrk 3:29)

4. Sifat Siksa

4.1 Kekal

Untuk mendapat pandangan yang lebih jelas mengenai semuanya itu, kita patut memiliki pengertian yang mendalam tentang kebesaran Tuhan dan tentang keburukan dosa. Mengapa siksa itu harus kekal? Baiklah kita mulai dengan berkata bahwa siksa itu harus kekal oleh karena dosa besar adalah kejahatan yang luar biasa. Pendosa memberontak terhadap Tuhan: ia menghina Tuhan dengan melanggar perintah Tuhan dan dengan melekatkan diri kepada salah satu makhluk seakan-akan makhluk inilah yang tertinggi nilainya dan tujuannya yang terakhir. Seringkali pendosa tidak secara terang-terangan membangkang terhadap Tuhan; tetapi perbuatannya adalah suatu penolakan terhadap Tuhan karena ia memandang makhluk ciptaan sebagai sesuatu yang paling utama; manusia pendosa mengkehendaki secara implisit agar tidak ada Tuhan yang melarang dosa.

Siksa itu kekal justru karena kesalahan pun kekal sifatnya. Seorang terkutuk tidak mendapat ampun selama-lamanya melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal. (Mrk 3:29). Dan kesalahan itu kekal karena yang terkutuk berpegang teguh pada kehendaknya yang jahat. Ia tidak akan bertobat karena ia tidak mau bertobat. Tuhan yang mahabaik dan mahabijaksana selalu siap dengan rahmat-Nya. Ia mengundang pendosa dan menantikannya tetapi sia-sia. Karena itu Tuhan menyiksa sesuai dengan keadilan-Nya.

4.2 Perbedaan

Walaupun para terkutuk kehilangan pandangan Tuhan dan walaupun mereka disiksa oleh api, namun ada perbedaan di dalam penderitaan. Tuhan itu adil dan ia tidak menghukum seorang pun lebih daripada yang patut diterimanya. Oleh karena kesalahan mereka berbeda-beda maka siksa pun berbeda-beda pula.

Kristus sendiri telah menyatakan itu ketika Ia berkata kepada yang tidak mau menerima pewartaan Para Rasul: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu. (Mat 10:15). Pada suatu kesempatan lain Kristus berkata:  Hamba yang tahu akan kehendak tuannya tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. (Luk 12:47)

Perkataan ini membuat kita menduga bahwa ada perbedaan yang sangat besar di dalam siksa oleh karena ada perbedaan yang besar pula di dalam kesalahan. Kita tidak mengerti apakah arti yang sebenarnya dari “banyak” dan “sedikit” itu. Yang pasti ialah bahwa makin banyak rahmat yang kita terima makin besar pula resiko yang dan tanggungjawab kita. Oleh karena itu kita dapat mendengarkan dari mulut Kristus sendiri: Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, daripadanya akan banyak dituntut dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, daripadanya akan lebih banyak lagi dituntut. (Luk 12:48). Ucapan Kristus ini mengajak kita untuk bermawas diri secukupnya dan sejujurnya.

oleh Pater H. Embruiru, SVD dalam buku Aku Percaya hlm. 183-186

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...