Langsung ke konten utama

Pembakaran Kitab Suci dan Tuduhan lainnya [terhadap Katolik]

Bahkan sejak Revolusi Protestan pada abad ke-16, Gereja Katolik telah dituduh mengabaikan, menentang, menyembunyikan dan bahkan menghancurkan Kitab Suci untuk menjaganya dari orang-orang. Menurut dugaan orang, salinan Kitab Suci dirantai ke tembok-tembok Gereja selama abad pertengahan sehingga orang-orang tidak dapat membawa Kitab Suci pulang untuk dibaca. Menurut dugaan pula, Gereja selama abad pertengahan juga menolak untuk menerjemahkan Kitab Suci ke berbagai bahasa banyak orang, bahasa-bahasa vernakular, untuk lebih jauh merintangi membaca Kitab Suci secara pribadi. Lagi, diklaim pula bahwa Gereja bahkan telah melakukan pembakaran Kitab-kitab Suci berbahasa vernakular.

Ketika memeriksa tuntutan-tuntutan yang melawan Gereja ini, kita harus mempertimbangkan beberapa poin. Pertama, jika Gereja sungguh ingin menghancurkan Kitab Suci, mengapa biarawan-biarawannya bekerja dengan rajin sepanjang abad membuat salinan-salinan Kitab Suci? Sebelum ada mesin cetak, salinan-salinan Kitab Suci adalah tulisan tangan dengan keindahan dan keakuratan yang teliti. Satu alasan mengapa Kitab Suci dirantai ke tembok-tembok Gereja adalah karena setiap salinan berharga baik secara spiritual maupun material. Dibutuhkan waktu satu tahun bagi seorang biarawan untuk menyalin dengan tangan seluruh isi Kitab Suci, sehingga Kitab Suci langka. Rantai menjaga Kitab Suci aman dari kehilangan atau pencurian, sehingga semua umat Paroki itu bisa mendapatkan keuntungan lebih darinya.

Kedua, mengenai vernakular, kita harus mengingat bahwa pada abad ke-5 ketika St. Hieronimus menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa asli ke bahasa Latin, Bahasa Latin adalah bahasa banyak orang. Kitab Suci ini biasa disebut Vulgata, versi yang umum. Bahkan setelah seribu tahun, Bahasa Latin masih menjadi bahasa universal di Eropa.

Penerjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa-bahasa vernakular sepanjang abad pertengahan tidak praktis. Kebanyakan bahasa vernakular pada masa tersebut tidak memiliki abjad, sehingga mereka tidak menuangkannya dalam bentuk tertulis. Juga hanya beberapa orang yang dapat membacanya. Sedikit orang-orang terdidik, yang dapat membaca [bahasa vernakular], dapat juga membaca bahasa Latin. Situasi ini tidak membuat permintaan besar untuk Kitab Suci berbahasa vernakular, tidak juga mempromosikan sebuah devosi populer untuk Pembacaan Kitab Suci secara pribadi.

Bahkan meskipun tidak praktis, ada contoh Gereja mempromosikan bahasa vernakular. Contohnya adalah misi St. Sirillus dan Metodius kepada bangsa Slavia di Moravia selama abad ke-9. Mereka berdua terkenal karena memperkenalkan liturgi slavonic. Dalam karya mereka, St. Sirillus telah mengembangkan abjad untuk bahasa Slavonic Tua. (Abjad ini menjadi awal dari abjad “Sirillik” Rusia). Pada tahun 855, St.Metodius menerjemahkan seluruh isi Kitab Suci ke dalam bahasa ini. Meskipun ada penolakan politik yang kuat dari orang-orang Jerman, Paus Adrianus II setelah investigasi seksama meneguhkan St. Metodius sebagai Uskup Agung Moravia dan meneguhkan Liturgi Slavonic mereka. (St. Sirillus baru saja meninggal). Beberapa Paus berikutnya melanjutkan untuk mendukung karya mereka melawan serangan; bagaimanapun juga, Paus Stefanus VI memulihkan kembali liturgi [slavonic] tersebut setelah tertipu oleh penolakan orang-orang Jerman. [1]

Pada abad ke-7 di Britania, sebelum Bahasa Inggris menjadi sebuah bahasa, Caedmon, seorang biarawan dari Whitby, membahasakan hampir semua isi Kitab Suci ke dalam bahasa umum. Selama awal abad ke-8, St. Bede Yang Terhormat juga menerjemahkan beberapa bagian Kitab Suci ke dalam bahasa umum orang-orang Britania. Di atas ranjang kematiannya pada tahun 735, St. Bede menerjemahkan Injil menurut St. Yohanes. Juga di masa ini, Uskup Eadhelm bernama Guthlac dan Uskup Egbert mengerjakan Kitab Suci berbahasa Saxon. Selama abad ke-9 dan ke-10, Raja Alfred Agung dan Uskup Agung Aelfric mengerjakan terjemahan Anglo-Saxon (Bahasa Inggris Kuno). Setelah penaklukan Normandia pada tahun 1066, kebutuhan akan Kitab Suci berbahasa Anglo-Norman meningkat, sehingga Gereja memproduksi beberapa terjemahan seperti Salus Animae (1250). Pada tahun 1408, Dewan Provinsial Oxford memperjelas bahwa terjemahan-terjemahan vernakular bisa mendapatkan penerimaan dari Gereja. Pada tahun 1582, terjemahan Perjanjian Baru Douay-Rheims yang terkenal selesai dikerjakan sementara Perjanjian Lama selesai pada tahun 1609. Ironis, Perjanjian Baru Dhouay-Rheims justru mempengaruhi Kitab Suci versi terjemahan King James. [2,3]

Setelah abad ke-14 ketika Bahasa Inggris akhirnya menjadi bahasa populer di Inggris. Kitab-kitab Suci berbahasa vernakular digunakan sebagai kendaraan bagi propaganda kesesatan (heretical propaganda). John Wycliffe, seorang Imam yang menyimpang, menerjemahkan Kitab Suci ke dalam Bahasa Inggris. Sialnya, Sekretarisnya bernama John Purvey, memasukkan prolog yang sesat, seperti yang dicatat oleh St. Thomas More. Kemudian, William Tyndale menerjemahkan Kitab Suci ke dalam Bahasa Inggris lengkap dengan Prolog dan catatan kaki mengutuk doktrin dan ajaran Gereja [2]. St. Thomas More berkomentar bahwa mencari kesalahan dalam Kitab Suci Tyndale sama seperti mencari air di lautan (artinya Kitab Suci Tyndale sangat banyak memiliki kesalahan dan kesalahan tersebut mudah ditemukan). Bahkan Raja Henry VIII pada tahun 1531 mengutuk Kitab Suci Tyndale sebagai korupsi terhadap Kitab Suci. Dalam kata-kata para penasihat Raja Henry ; "the translation of the Scripture corrupted by William Tyndale should be utterly expelled, rejected, and put away out of the hands of the people, and not be suffered to go abroad among his subjects." [4] Sebuah bahan pemikiran, jika Kitab Suci Wycliffe atau Tyndale adalah sungguh bagus, mengapa umat Protestan sekarang tidak menggunakanya seperti menggunakan Kitab Suci King James?

Salah satu tindakan yang Gereja Katolik galakkan untuk menghentikan propaganda kesesatan ini adalah dengan membakar buku-buku tersebut. Apakah tindakan ini membuat Gereja anti Kitab Suci? TIDAK. Jikapun iya, maka kaum Protestan pada masa ini juga adalah seorang anti-Kitab Suci. John Calvin, Reformer Protestan utama, pada tahun 1522, memerintahkan salinan Kitab Suci Servetus yang sebanyak mungkin bisa ditemukan untuk dibakar, karena Calvin tidak menerima versi Kitab Suci ini. Kemudian Calvin sendiri memerintahkan Michael Servetus dibakar di pancang karena menjadi Unitarian. [5] pada masa-masa tersebut, adalah kebiasaan yang umum di kedua belah pihak untuk membakar buku-buku yang ditolak. Akhirnya,  ini berarti menghancurkan sesuatu yang nyata dan yang lain menghancurkan sebuah pemalsuan.

Gereja tidak menolak terjemahan vernakular umat beriman tetapi menolak penambahan dan distorsi yang sesat  ke dalam Kitab Suci. Gereja melarang Kitab-kitab yang korup ini untuk memelihara integritas Kitab Suci. Tindakan ini adalah penting bagi Gereja untuk memelihara kebenaran Injil Kristus. Seperti yang St. Petrus peringatkan kepada kita dalam suratnya,  “orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.” (2 Pet 3:16)

Apakah orang-orang tua Kristen yang baik sebaiknya mengizinkan anak-anak mereka untuk membaca Kitab Suci dengan propaganda anti-Kristen atau kata-kata yang tidak benar pada catatan kaki [Kitab Suci tersebut]? Saya tentu tidak akan mengizinkan. Akhirnya, jika Gereja Katolik benar-benar ingin menghancurkan Kitab Suci, Gereja memiliki kesempatan yang benar untuk melakukan hal itu selama 1500 tahun.

REFERENCES

[1] Warren H. Carroll, The Building of Christendom (Christendom College Press, 1987) pp. 359,371,385.
[2] The Jerome Biblical Commentary (Prentice-Hall, 1968) Vol. II, pp. 586-588.
[3] Henry G. Graham, Where We Got The Bible (TAN Books, 1977) p. 99.
[4] Ibid., pp. 128,130.
[5] Ibid., p. 129.
        

Sumber: Bible Burning and other Allegations

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...