Jumat, 10 Juni 2011

 oleh: RD Inno Ngutra


Jumat, 10 Juni 2011
Yoh.21:15-19



"QUO VADIS?" Terlepas dari kesan sebagai sebuah legenda tapi ceritanya menjadi menarik karena akhirnya Petrus meminta disalibkan terbalik dari Yesus, gurunya karena kesadaran bahwa penderitaannya tidaklah sebanding dengan derita Sang Guru. Konon, tahun 64M, Petrus berusaha melarikan diri dari keganasan kaum penguasa waktu itu yang membunuh banyak orang Kristen. Ketika ia tiba di gerbang keluar kota Roma, ia bertemu dengan Yesus dan bertanya dalam bahasa Latin: "Quo Vadis, Domine?" (Where are you going Lord? Kemana Engkau pergi, Tuhan?") Jesus menjawab: "Saya sedang pergi ke Roma untuk disalibkan untuk kedua kalinya." Akhirnya, Petrus kembali ke Roma dan memberikan kesaksian tentang imannya akan Yesus. Penyaliban dengan cara terbalik (kepala di bawa) adalah cara yang pantas menurut Petrus untuk menghormati Sang Guru.


Injil hari ini menceritakan secara khusus tentang dialog antara Yesus dan Petrus dengan pertanyaan utama; Apakah engkau mencintai-Ku Petrus lebih daripada mereka ini, kata Yesus. Petrus pun menjawab Sang Guru; “Benar Tuhan! Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Yesus menambahkan; “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”  Dan ini sungguh terbukti setelah kenaikan Yesus ke surga bahwa kepada Petrus-lah diserahkan kuasa kepemimpinan atas murid-murid yang lain dan atas jemaat yang didirikan di atas batu karang Petrus. Petrus mempunyai kepribadiaan yang menggebu-gebu dalam semangat tapi memiliki keraguan dalam bertindak, seperti ketika ia ingin berjalan di atas air tapi ragu dan hampir tenggelam; ketika Ia menyangkal Yesus di hadapan banyak orang. Semua kelemahan dan kerapuhan Petrus itu tidak dengan sendirinya membuat Yesus menarik kembali kata-kata dan kepercayaan yang telah diberikan kepada Petrus. Apa yang Yesus perlukan dari seorang Petrus bukan kepintaran dan kemahirannya, melainkan hati yang mampu mencintai, setia dalam menggembalakan dan rendah hati dalam bertutur kata dan bertindak. Dengan kata lain, ketika Petrus mengatakan “ya,” maka bukan dia yang pemimpin utama jemaat Tuhan, tapi Yesus sendirilah yang menuntun, merawat dan menghantar kembali domba-domba itu kepada Bapa. Petrus adalah lambang nyata kehadiran Yesus yang mempersatukan jemaat yang berbeda karakter dan pembawaannya. Dan, cirikhas yang nyata dan benar itu sekarang Anda temukan dalam Gereja yang satu, kudus, katolik dan Apostolik.

Apa yang kita harus buat sebagai orang Katolik? Mau menyalibkan Kristus lagi? Mau lari dari tanggung jawab sebagai pengikut Yesus seperti Petrus dalam kisah di atas? Mau menghancurkan Gereja-Nya lagi lewat pembangkangan dan ketidak-taatan terhadap para pengganti Petrus? Ingat, keutuhan Gereja sejak awal memang diakui karena janji Sang Pendirinya bahwa “alam maut tidak akan menguasainya sampai akhir zaman,” tetapi peranan Petrus sangatlah penting dalam menjaga dan melestarikan semua ajaran Sang Guru dalam Gereja yang dirikannya di atas “batu karang Petrus.” Kelemahan dan kerapuhan Petrus menjadi tanda kemanusiaan tapi justru di situlah rahmat Allah bekerja secara luar biasa untuk membuktikan bahwa memang kuasa iblis tidak bisa menguasai Gereja Kristus.

Karena itu, aku datang mengingatkanmu lagi sebagai sahabatku; “Jangan pernah ragu lagi untuk menjadi anggotaGereja yang didirikan oleh Yesus.” Dan, Gereja itu adalah Gereja Katolik. Hanya satu Gereja yang didirikan oleh Yesus yakni Gereja Katolik. Bagaimana dengan yang lain? Yang lain adalah buatan tangan manusia. Tanyakanlah kepada mereka dan mereka akan menjawabmu dengan menyebut nama pendiri gereja mereka. Ini bukan tindakan melecehkan gereja lain, tapi mewartakan dengan tegas kebenaran iman Gereja Katolik kepadamu agar Anda tetap bangga berada di dalam bahtera yang dikemudikan oleh Yesus sendiri lewat para pemimpin yang telah dipilih-Nya untuk memimpin Gereja-Nya.


Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabat,

***Duc in Altum***