Langsung ke konten utama

Petrus Sang Pemegang Otoritas atas Kerajaan-Nya di Dunia


Santo Petrus, Paus Pertama Gereja, memiliki otoritas mengikat dan melepaskan atas Kerajaan-Nya di dunia yaitu Gereja.

2 Sam 7:16 ; Mzm 89:3-4 ; 1 Taw 17:12,14 – Allah berjanji untuk membangun Kerajaan Daud selamanya di bumi.

Mat 1:1 – Matius dengan jelas menunjukkan hubungan antara Daud dan Yesus. Yesus adalah Raja baru dari Istana Daud dan Sang Raja akan menunjuk seorang pelayan tertinggi untuk mengatur seluruh Istana sementara Sang Raja berada di Surga.


Luk 1:32 – Malaikat Agung Gabriel menyampaikan kabar gembira kepada Bunda Maria bahwa Puteranya akan diberikan “Tahta Daud, bapa leluhur-Nya”.

Mat 16:19 – Yesus memberi Petrus kunci-kunci Kerajaan Surga. Sementara kebanyakan berargumen bahwa Kerajaan Surga yang Yesus bicarakan adalah melulu keadaan kemuliaan abadi (seperti bila Petrus di Surga membiarkan atau menolak orang masuk ke dalamnya), Kerajaan Surga yang dibicarakan Yesus sesungguhnya merujuk kepada Gereja di bumi. Dengan menggunakan istilah “kunci”, Yesus mengacu kepada Yesaya 22, satu-satunya tempat dalam Kitab Suci Perjanjian Lama di mana kata “kunci” digunakan dalam konteks sebuah kerajaan.

Yes 22:22 – di Kerajaan Daud dalam Perjanjian Lama, ada menteri-menteri / pelayan-pelayan setia yang mengatur penyembahan liturgis dan mengikat rakyat dalam pengajaran dan doktrin. Akan tetapi, ada satu kepala Pelayan / Perdana Menteri dari kerajaan yang memegang “kunci”. Yesus memberikan Petrus kunci-kunci ini kepada Kerajaan-Nya di dunia, yaitu Gereja. Wakil ini memiliki otoritas untuk membuat keputusan atas rakyat – ketika dia menutup, tidak seorang dapat membuka. Lihat juga Ayub 12:14.

Wah 1:18 ; 3:7 ; 9:1 ; 20:1“Kunci” Yesus, tidak dapat disanggah lagi, menggambarkan otoritas. Dengan menggunakan kata “kunci”, Yesus memberi Petrus otoritas di bumi atas Kerajaan Daud yang baru dan hal ini tidak pernah dipertanyakan secara serius oleh siapapun sampai Reformasi Protestan 1.500 tahun kemudian setelah pemberian “kunci” tersebut kepada Petrus.

Mat 16:19 – Apapun yang Petrus ikat atau lepas di bumi terikat atau terlepas di surga. Ketika Perdana Menteri Sang Raja membuka, tidak seorang pun menutup. Otoritas “mengikat dan melepas” ini mengizinkan pemegang kuncitersebut untuk membuat “halakah” atau peraturan-peraturan bagi anggota kerajaan yang sang pemegang kunci layani. Kunci Petrus juga menggambarkan otoritas pastoral dan doktrinal Petrus atas jiwa-jiwa.

Mat 23:2-4 – Terminologi / Istilah “mengikat dan melepas” yang digunakan oleh Yesus dipahami oleh orang-orang Yahudi. Sebagai contoh, Yesus berkata bahwa Kaum Farisi “mengikat” beban berat kepada orang-orang tetapi tidak mau "memindahkan" (melepaskan) beban tersebut dengan tangan mereka sendiri. Petrus dan Para Rasul memiliki otoritas mengikat dan melepas yang baru atas Gereja Perjanjian Baru.

Mat 13:24-52 – Yesus membandingkan kerajaan surga dengan ladang, biji sesawi, ragi dan jala yang menggambarkan bahwa kerajaan yang sedang dibicarakan Yesus adalah tentang Gereja Universal di bumi, bukan keadaan kemuliaan kekal. Oleh karena itu, kunci kerajaan surga merujuk kepada otoritas atas Gereja di dunia.

Mat 25:1-2 – Yesus membandingkan kerajaan surga dengan 10 gadis, lima diantaranya adalah gadis-gadis bodoh, yang menunjukkan bahwa kerajaan tersebut adalah Gereja di dunia. Kerajaan ini tidak dapat merujuk kepada Kerajaan Surgawi karena tidak ada kebodohan di surga!

Mrk 4:26-32 – lagi, kerajaan Allah itu seperti benih yang tumbuh dan berkembang. Kerajaan Surgawi itu abadi (eternal), bukan tumbuh dari kecil dan berkembang, sehingga kerajaan yang kunci-kunci otoritasnya dipegang Petrus adalah Gereja di dunia.

Luk 9:27 – Yesus berkata bahwa ada beberapa orang yang berdiri di sini yang tidak akan mengalami kematian sampai mereka melihat “kerajaan Allah”. Kerajaan itu mengacu kepada Kerajaan Kristus di dunia, yang Yesus dirikan melalui wafat dan kebangkitannya di bumi.

Luk 13:19-20 – sekali lagi, Yesus berkata kerajaan Allah itu seperti sebuah biji sesasi yang tumbuh menjadi sebuah pohon. Hal ini merujuk kepada Gereja duniawi yang berkembang sepanjang waktu, dari sebuah benih hingga menjadi sebuah pohon cemara (bukan keadaan kemuliaan kekal yang tidak terikat dan tanpa batas).

Mat 12:28 ; Mrk 1:15 ; Luk 11:20 ; 17:21 – ayat-ayat ini menunjukkan lebih banyak contoh “kerajaan Allah” sebagai kerajaan di bumi yang berada di tengah-tengah kita.
.
1 Taw 28:5 – Salomo duduk di atas tahta Kerajaan Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah sering dimaksudkan sebuah kerajaan di dunia.

1 Taw 29:23 – Salomo duduk di atas tahta Tuhan sebagai raja di tempat Raja Daud. Tahta Allah mengacu kepada kerajaan di dunia.

Mat 16:19 – Petrus memegang kunci-kunci atas Kerajaan Daud yang baru ini, yang menggenapi Kerajaan Daud yang lama, dan memerintah sementara Raja sesungguhnya, Yesus Kristus, berada di dalam Surga.

Luk 12:41-44 – ketika Petrus menanyai Yesus apakah perumpamaan hamba dan kerajaan dimaksudkan hanya untuk Para Rasul atau untuk semua orang, Yesus secara retoris mengonfirmasi kepada Petrus bahwa Petrus adalah kepala pelayan atas seluruh hamba-Nya dan pengawas atas seluruh milik-Nya. 

Yeh 37:24-25 – Daud akan menjadi raja atas mereka selamanya dan mereka akan memiliki satu gembala. Yesus adalah Raja kita dan Petrus adalah gembala kita di dunia.

Terjemahan bebas dari scripture catholic dot com
Pax et Bonum 

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...