Langsung ke konten utama

St. Ignasius dari Antiokia dan Ekaristi

Santo Ignasius dari Antiokia
Banyak dari denominasi-denominasi di luar Gereja Katolik menginterpretasikan pernyataan-pernyataan Yesus mengenai Ekaristi dalam Yoh 6:25-59 sebagai pernyataan yang simbolik bukan literal. Perlu dicatat bahwa tidak hanya pendengar Yesus saat itu memahami bahwa Yesus berbicara secara literal, tetapi juga peristiwa itu adalah satu-satunya peristiwa yang terekam dalam Kitab Suci dimana banyak murid-murid meninggalkan Yesus terkait sebuah ajaran iman (Yoh 6:66). Tragisnya, ketidakpercayaan Yudas akan Ekaristi adalah akar dari pengkhianatannya kepada Kristus (Yoh 6:64, 70-71). Teks dalam Injil Yohanes begitu eksplisit menunjukkan bahwa Yesus berbicara secara literal. Sulit bagi umat Katolik memahami bagaimana orang-orang non-Katolik bisa mendistorsi makna pernyataan Yesus tersebut menjadi pernyataan metaforis dan simbolis belaka. Sayangnya, kita tidak memiliki tulisan St. Yohanes lainnya untuk menekankan kembali makna dari perikop tersebut.

Tapi kita sungguh beruntung. Gereja Katolik memiliki satu hal terbaik berikutnya, yaitu tulisan-tulisan dari seseorang yang menjadi murid dari St. Yohanes Penulis Injil. Nama murid tersebut adalah St. Ignasius dari Antiokia. St. Ignasius adalah Uskup Antiokia yang ketiga. Dia menggantikan St. Evodius yang merupakan pengganti dari St. Petrus di tahta Antiokia. Sebelum St. Petrus meninggalkan Antiokia dan mendirikan Gereja di Roma serta menjadi Paus Roma, St. Petrus menunjukkan St. Evodius sebagai penggantinya.

Sedikit keluar dari topik ini. Berdasarkan fakta sejarah, St. Petrus memiliki dua tahta Apostolik, yaitu Antiokia dan Roma. Tahta Apostolik Alexandria sendiri dapat juga kita katakan sebagai tahta St. Petrus karena Uskup Alexandria pertama yaitu St. Markus Penulis Injil ditahbiskan oleh St. Petrus sendiri, akan tetapi pernyataan yang diterima secara umum adalah St. Markus mendirikan tahta Alexandria dan menjadi Uskup pertama di sana. Dari dua Tahta Apostolik milik St. Petrus ini, hanya Roma yang berhak mewarisi keutamaan St. Petrus serta otoritas-otoritasnya. 
Alasannya antara lain:
1. St. Petrus wafat sebagai martir di Roma. Sebelum wafat, ia telah terlebih dahulu meninggalkan tahta Antiokia dan menyerahkannya kepada St. Evodius.
2. Pernyataan-pernyataan para Bapa Gereja Perdana mengenai keutamaan St. Petrus dan Paus Roma. Klik link ini, link ini, link ini dan link ini.
3. St. Petrus menuliskan surat pertamanya kepada gereja-gereja di berbagai daerah dari Roma (yang saat itu disebut Babilon) sewaktu ia menjadi uskup di sana. (1 Petrus 1:1-2, 5:13). Surat tersebut merupakan surat yang tidak dapat salah dan berisi pengajaran Iman. Dengan kata lain, St. Petrus mengajar gereja-gereja di luar wilayah Roma dari tahtanya, Roma. Klik link ini untuk mengetahui penjelasan keberadaan St. Petrus di Roma.

Kembali ke topik. Pada tahun 110 M, Ignasius divonis hukuman mati dengan dimasukkan ke dalam arena di Roma yang penuh dengan singa-singa lapar. Selama perjalanan dari Antiokia ke Roma untuk mendapatkan mahkota kemartirannya, Ignasius menulis 7 surat kepada Gereja di Efesus, Magnesia, Tralles, Roma, Filadelfia, Smirna dan sebuah surat pribadi kepada sahabatnya, St. Polikarpus Uskup Smirna, seorang murid St. Yohanes Penulis Injil yang lain.

Kutipan-kutipan berikut dari tulisan St. Ignasius ini secara jelas menunjukkan instruksi yang dia terima dari St. Yohanes Penulis Injil dan kepercayaan Gereja Perdana akan Ekaristi.

Surat kepada Gereja di Roma: “Saya tidak mengambil kesenangan akan makanan yang dapat rusak atau kesenangan hidup. Saya ingin roti dari Allah yaitu Daging Kristus (Flesh of Christ)  yang adalah keturunan Daud dan untuk minuman, saya ingin Darah-Nya yang adalah cinta yang tak dapat rusak.” [1]

Surat kepada Gereja di Filadelfia: “Berhati-hatilah, oleh karena itu, untuk berpartisipasi dalam satu Ekaristi sebab ada satu daging (one flesh) dari Tuhan kita Yesus Kristus dan satu cawan yang membawa kepada persatuan melalui Darah-Nya; ada satu altar sama seperti ada satu uskup bersama-sama dengan para imam dan diakon, para pelayan-pelayan pengikutku; dalam aturan yang apapun kalian lakukan, kalian lakukan dalam persetujuan dengan Allah.” [2]

Surat kepada Gereja di Smirna: “Sekarang perhatikan dengan baik mereka yang memegang opini-opini sesat mengenai rahmat Yesus Kristus yang datang untuk kita; perhatikan betapa bertentangannya mereka dengan pikiran Allah .... Mereka absen dari Ekaristi dan doa karena mereka menolak untuk mengakui bahwa Ekaristi adalah Daging (flesh) Juruselamat kita Yesus Kristus yang menderita bagi dosa-dosa kita dan yang telah Bapa bangkitkan oleh kebajikan-Nya.” [3]

[1] The Apostolic Fathers, diterjemahkan oleh J.B. Lightfoot dan J.R. Harmer, disunting dan direvisi oleh Michael W. Holmes. Grand Rapids: Baker Book House, c. 1989, hlm. 105
[2] Ibid., hlm. 107
[3] Ibid., hlm. 112

Tulisan-tulisan lain dari St. Ignasius dari Antiokia dapat ditemukan di sini http://www.earlychristianwritings.com/ignatius.html .
Dikembangkan dan diterjemahkan dari Saint Charles Borromeo Catholic Church, Picayune, MS

Pax et Bonum

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...