Selasa, 21 Agustus 2012

Info Post
Dalam riwayat hidup sejumlah Para Kudus, kita dapat menemukan kisah-kisah menarik antara Para Kudus tersebut dengan binatang-binatang. Kisah-kisah tersebut seringkali menampakkan kekudusan Para Kudus sendiri sekaligus kemuliaan Allah. Saya berusaha mendokumentasikan beberapa kisah Binatang dan Para Kudus yang ada.


1. St. Fransiskus Assisi dan Serigala di Kota Gubbio
St. Fransiskus Assisi dan Serigala kota Gubbio (s: austeni.blogspot.com)
Kisah pertama tentulah kita angkat dari santo pelindung lingkungan hidup Gereja, yaitu St. Fransiskus Assisi, yang terkenal sangat dekat dengan para binatang-binatang. Seringkali diceritakan bahwa St. Fransiskus Assisi tidak hanya mewartakan kabar gembira kepada orang-orang saja tapi juga kepada burung-burung dan ikan-ikan. Burung-burung dan ikan-ikan ini dengan setia mendengarkan khotbah St. Fransiskus Assisi dan baru pergi bila St. Fransiskus Assisi selesai berkhotbah dan menyuruh mereka pergi. Kisah interaksi St. Fransiskus dengan binatang yang paling terkenal adalah kisah St. Fransiskus Assisi menjinakkan seekor serigala di kota Gubbio.

Saat St. Fransiskus tinggal di kota itu, seekor serigala sangat ganas sedang meneror penduduk. Serigala itu tidak hanya memangsa binatang lain tapi juga manusia. Rakyat kota berusaha melawan tetapi gagal. Penduduk menjadi sangat ketakutan dengan serigala ini sehingga tidak berani keluar dari tembok kota.

Fransiskus merasa kasihan kepada penduduk kota dan memutuskan pergi menemui serigala tersebut. Penduduk kota itu mencegah St. Fransiskus, tetapi St. Fransiskus memberitahu mereka bahwa Tuhan akan menjaganya. St. Fransiskus pun berjalan keluar dari gerbang kota bersama seorang rahib pemberani dan beberapa petani. Tetapi para petani kemudian menjadi gentar dan kembali.

St. Fransiskus dan rahibnya mulai berjalan dan tiba-tiba serigala ganas tersebut muncul dari hutan dan dengan rahang ternganga menyerang mereka. St. Fransiskus segera membuat tanda salib ke arah serigala. Dengan kuasa Tuhan, serigala itu memperlambat larinya dan menutup rahangnya. Kemudian Fransiskus berteriak: "Datanglah kepadaku, Saudara Serigala. Dalam nama Yesus, aku memerintahkan kamu untuk tidak lagi menyakiti siapa pun." Maka pada saat itu juga serigala menundukkan kepalanya dan datang berbaring di bawah kaki St. Fransiskus. Serigala itu menjadi jinak seperti seekor anak domba.

St. Fransiskus menjelaskan kepada serigala bahwa serigala telah menakutkan penduduk kota, karena ia tidak saja memangsa binatang, tetapi juga manusia yang diciptakan seturut gambaran Allah. "Saudara Serigala," kata Fransiskus, "aku ingin mengadakan perdamaian antara kamu dan penduduk Gubbio. Mereka tidak akan menyakiti kamu dan kamu juga tidak boleh lagi menyakiti mereka. Semua kejahatan di masa lampau harap dimaafkan."

Serigala menyatakan persetujuannya dengan menggoyang-goyangkan badannya dan menggangguk-anggukkan kepalanya. Dan puncak dari peristiwa yang menakjubkan itu, Fransiskus meminta serigala untuk membuat janji. Sementara Fransiskus mengulurkan tangannya untuk menerima janji, serigala mengulurkan kaki depannya dan meletakkannya di atas tangan orang kudus itu. Kemudian, Fransiskus memerintahkan serigala untuk mengikutinya masuk ke dalam kota untuk mengadakan perjanjian damai dengan penduduk kota. Maka tanpa melawan sedikit pun serigala mengikuti St. Fransiskus.  Serigala itu kemudian dinamai Lupo.

Ketika mereka tiba di alun-alun kota, semua orang datang untuk menyaksikan peristiwa yang ajaib itu. Dengan serigala di sisinya, Fransiskus berkhotbah kepada penduduk kota mengenai cinta kasih Tuhan yang luar biasa serta ajaib, yang memanggil mereka semua untuk bertobat dari semua dosa-dosa mereka. Kemudian atas nama serigala, Fransiskus menawarkan perdamaian kepada penduduk kota. Penduduk berjanji dengan suara lantang bahwa mereka akan menyediakan makanan bagi serigala. Kemudian Fransiskus bertanya kepada serigala apakah ia mau hidup berdamai dengan syarat-syarat tersebut. Serigala menundukkan kepalanya dalam-dalam dan merenggangkan badannya untuk meyakinkan semua orang bahwa ia menerima janji itu. Kemudian sekali lagi serigala meletakkan tangannya di atas tangan Fransiskus sebagai tanda ikatan perjanjian.

Sejak saat itu penduduk kota menepati janji yang mereka buat. Serigala tinggal selama dua tahun lamanya di antara penduduk kota, pergi dari satu rumah ke rumah lain untuk meminta makanan. Serigala tidak menyakiti siapa pun dan tak seorang pun menyakitinya. Bahkan anjing-anjing pun tidak menyalak kepadanya. Ketika akhirnya serigala mati karena telah tua umurnya, sangat sedihlah penduduk kota Gubbio. Cara hidup serigala yang penuh damai menjadi peringatan bagi mereka akan pengaruh, kesabaran, keteladanan dan kekudusan St. Fransiskus yang menjadi simbol nyata kekuasaan dan pemeliharaan Tuhan Allah yang hidup.


2. St. Rochus (1295-1327) dan Seekor Anjing
St. Rochus (s: har22201.blogspot.com)
St. Rochus lahir di Montpellier, Prancis. Ayahnya adalah gubernur daerah itu. Pada saat kelahirannya, Dilaporkan bahwa St. Rochus ditandai secara ajaib di dadanya dengan sebuah salib merah. Ketika dia berusia 20 tahun, orang tuanya dibunuh. Meskipun dia diwarisi kekayaan dan pemerintahan Montpellier, St. Rochus menolak kekayaan itu dan memberikannya kepada orang-orang miskin. Dia menyerahkan tampuk pemerintahan Montpellier kepada pamannya.

Dia merasakan panggilan batin untuk pergi ke Italia. Menyamar sebagai peziarah miskin, ia berangkat dengan berjalan kaki. Di sepanjang jalan, dia mendapati desa demi desa terjangkit wabah penyakit. Menyadari panggilan yang sebenarnya, St. Rochus berjalan dari desa ke desa, tinggal di setiap desa selama beberapa minggu dan membaktikan dirinya untuk merawat dan menyembuhkan orang-orang yang terjangkit wabah penyakit. St. Rochus tidak pernah takut terjangkit tetapi terus-menerus membantu menyembuhkan setiap orang sakit yang ia temui. Banyak dari orang-orang desa sembuh. St. Rochus juga membantu menyembuhkan hewan ternak dan  hewan-hewan lainnya.

Setelah beberapa tahun, St. Rochus akhirnya terjangkit penyakit juga. Tidak ingin menjadi beban masyarakat, St. Rochus mengundurkan diri ke sebuah hutan yang berada di luar sebuah desa bernama Piacenza dan menunggu sampai ajal menjemputnya. Saat ia tengah berbaring dalam keadaan sekarat, seekor anjing kemudian muncul, berbaring di sampingnya dan menjilati luka-lukanya. Anjing itu secara berkala menghilang dan kembali ke sana sambil membawa sepotong makanan yang ia kumpulkan dari sekitar Piacenza. Meskipun anjing itu sendiri kurus karena kelaparan, anjing itu selalu menaruh makanan dengan pelan di dada St. Rochus untuk dimakan. St. Rochus pulih dan ditemukan oleh pemilik anjing tersebut, seorang bangsawan bernama Gothard, yang kemudian membawa St. Rochus ke tempat penampungan. St. Rochus kemudian melanjutkan karyanya menyembuhkan orang-orang di desa yang terkena wabah penyakit.

St. Rochus kembali ke kotanya. Montpellier, sambil tetap menggunakan pakaian peziarahnya dan secara fisik badannya berubah sehingga tidak dikenal. Pamannya mengira ia adalah mata-mata lalu memasukkan St. Rochus ke penjara dan beberapa hari kemudian ia meninggal. Salib merah di dadanya dan beberapa dokumen yang ditemukan membantu orang-orang mengenali bahwa ia adalah St. Rochus. Ia diberikan pemakaman publik yang layak dan mujizat-mujizat terjadi setelah ia meninggal.
 
3. St. Antonius Padua dan Seekor Keledai
St. Antonius Padua dan Keledai (s: decaminoa.blogspot.com)
St. Antonius Padua dipanggil kembali ke Italia untuk melawan ajaran-ajaran sesat. Dia pergi ke kota Rimini, di Laut Adriatik, Tenggara kota Padua. Kaum bidat (sesat) mempermainkan dia dan ketika dia berbicara mengenai Ekaristi, kaum bidat itu menjadi histeris dan mengejek dia.

Ketika kaum bidat mengolok-olok dia saat dia berbicara di pelabuhan Rimini, ia berbalik menuju laut dan berbicara kepada ikan-ikan. Ikan-ikan lalu mengangkat sebagian tubuh mereka keluar dari air dan bertengger seolah-olah berada di atas air. Mereka mendengarkan khotbat yang diberikan oleh St. Antonius. Ketika St. Antoninus selesai, lalu ia memberkati ikan-ikan itu dan ikan-ikan itu kembali ke dalam laut.

Musuh-musuh Gereja kewalahan melihat kejadian ini. Berita mengenai kejadian ini menyebar luas dan kaum bidat berbondong-bondong bertobat. Tetapi ada satu orang bernama Bonvillo yang tidak terkesan dengan cara persuasif St. Antonius. Bonvillo berkata kepadanya, “Kamu, yang telah membuat ikan terpesona, mari kita lihat apakah kamu bisa melakukan hal yang sama terhadap keledaiku.”

Tantangan pun dibuat. Bonvillo akan berhenti memberi makan keledainya selama tiga hari untuk membuatnya kelaparan. Setelah tiga hari itu berakhir, St. Antonius akan berdiri di salah satu ujung alun-alun memegang Tubuh Kristus dan Bonvillo berada di ujung lainnya dengan seember pakan favorit keledai tersebut. Bila keledai itu lebih dulu memilih pergi kepada St. Antonius, kaum bidat akan berhenti menganiaya umat Katolik.

Keledai itu tidak diberi makan selama tiga hari, sedangkan St. Antonius Padua berpuasa dan berdoa selama tiga hari. Pada hari ketiga, St. Antonius merayakan Misa Kudus di gereja setempat. Setelah Misa, St. Antonius membawa Roti yang sudah terkonsekrasi menuju alun-alun. Alun-alun itu penuh sesak dengan orang-orang, kaum sesat di satu sisi dan mereka yang sudah bertobat berada di sisi lain. Bonvillo Si Sesat pergi ke satu sisi alun-alun dengan membawa seember pakan favorit dan lezat bagi keledainya sedangkan St. Antonius pergi ke sisi lain dengan membawa Tubuh Kristus. Bonvillo berusaha merayu keledai itu dengan makanan, sementara St. Antonius memberikan khotbah singkat kepada keledai tersebut.

St. Antonius berkata, “Ciptaan Allah, dalam nama-Nya, aku memerintahkan kamu untuk datang ke sini dan menyembah-Nya, sehingga hal itu bisa memberikan kebenaran mengenai kehadiran nyata Yesus Kristus di dalam Sakramen Ekaristi kepada semua orang.” Keledai itu mengabaikan majikannya dan makanan itu, lalu pergi ke tempat St. Antonius yang sedang menunjukkan Tubuh Kristus. Keledai itu berlutut dengan kedua kakinya lalu menundukkan kepada untuk menyembah.

Ketika semua diyakinkan bahwa Tuhan telah menang atas kaum sesat, St. Antonius memberkati keledai itu yang kemudian bangkit dan pergi ke arah Bonvillo untuk memakan makanan yang ada di ember. Si Sesat Bonvillo mengikuti apa yang dilakukan keledainya. Ia berlutut, menundukkan kepalanya hingga ke tanah untuk menyembah Sakramen Ekaristi. Dia bertobat, kembali kepada iman Katolik. Sebelum St. Antonius meninggalkan Rimini, ia telah mempertobatkan semua kaum sesat di daerah tersebut.

Lihat juga: Kisah-kisah Para Kudus dan Binatang - 2

Referensi:
1. St. Fransiskus Assisi di situs Yesaya
2. St. Rochus di situs Anaflora
3. St. Antonius Padua dan Keledai di situs Discover Catholic Miracles


Pax et Bonum