Langsung ke konten utama

Bolehkah Novena atau Praktik Devosi Diselipkan atau Digabungkan ke dalam Misa Kudus?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Indonesian Papist akan mengutip pernyataan dari dokumen resmi Gereja berikut ini (silahkan klik link untuk membacanya langsung dari situs resmi Vatican):
13. The objective difference between pious exercises and devotional practices should always be clear in expressions of worship. Hence, the formulae proper to pious exercises should not be commingled with the liturgical actions. Acts of devotion and piety are external to the celebration of the Holy Eucharist, and of the other sacraments.

On the one hand, a superimposing of pious and devotional practices on the Liturgy so as to differentiate their language, rhythm, course, and theological emphasis from those of the corresponding liturgical action, must be avoided, while any form of competition with or opposition to the liturgical actions, where such exists, must also be resolved. Thus, precedence must always be given to Sunday, Solemnities, and to the liturgical seasons and days.
Since, on the other, pious practices must conserve their proper style, simplicity and language, attempts to impose forms of "liturgical celebration" on them are always to be avoided.
....

From the offices of the Congregation for Divine Worship and the Discipline of the Sacraments, 17 December 2001.

Jorge A. Card. Medina Estévez
Prefect

Perhatikan pada pernyataan yang saya tebalkan. Poin-poin penting yang bisa didapat dari pernyataan tersebut adalah:
1. Formula yang tepat untuk praktik kesalehan dan devosional tidak boleh bercampur dengan tindakan liturgi. Tindakan devosi dan kesalehan adalah EKSTERNAL terhadap Ekaristi Kudus dan Sakramen-sakramen lainnya.
2. Seharusnya selalu dihindari praktek memasukkan praktik kesalehan dan devosional ke dalam Liturgi. Juga harus selalu dihindari memaksakan bentuk "Perayaan Liturgi" bagi praktik kesalehan dan devosional.

Pater Edward McNamara, L.C.,  Professor Liturgi Universitas Regina Apostolorum memberikan jawaban yang sama untuk pertanyaan yang sama soal Novena/Praktik Devosional selama Misa Kudus. Jawaban Beliau seutuhnya dapat dilihat di situs berita Katolik ZENIT.

Beliau juga mengutip dokumen DIRECTORY ON POPULAR PIETY AND THE LITURGY PRINCIPLES AND GUIDELINES no.13 dan memberikan konklusi/kesimpulan sebagai berikut:
“Therefore it is incorrect to mingle any devotional exercise such as a novena or non-liturgical litanies within the context of the Mass; this mixing respects neither the nature of the Eucharistic celebration nor the essence of the pious exercise. Novenas or non-liturgical litanies may, however, be recited immediately before or after Mass.”

Jadi, kesimpulan Beliau adalah TIDAK TEPAT menggabungkan praktik devosional seperti Novena atau Litani Non-Liturgis ke dalam Misa Kudus. Pencampuran/penggabungan ini sama sekali tidak menghormati sifat/natur dari Ekaristi serta esensi dari praktik devosional. Praktik devosional dapat dilakukan segera sebelum atau sesudah Misa Kudus.

Kepada Beliau diberikan juga pertanyaan apakah devosi-devosi dapat dilakukan selama Adorasi Ekaristi. Beliau mengajukan DIRECTORY ON POPULAR PIETY AND THE LITURGY PRINCIPLES AND GUIDELINES No. 165 sebagai dasar penjelasannya yang berbunyi:
“ ... Gradually, the faithful should be encouraged not to do other devotional exercises during exposition of the Blessed Sacrament. Given the close relationship between Christ and Our Lady, the rosary can always be of assistance in giving prayer a Christological orientation, since it contains meditation of the Incarnation and the Redemption.”
Terjemahan Bebas: "... Secara bertahap, umat beriman harus didorong untuk tidak melakukan praktik devosional lainnya selama eksposisi Sakramen Mahakudus (Cat. Indonesian Papist: Mengangkat dan Memperlihatkan Sakramen Mahakudus kepada umat). Mengingat hubungan yang erat antara Kristus dan Bunda Maria, Doa Rosario selalu dapat menjadi bantuan dalam memberikan orientasi kristologis terhadap doa, karena Doa Rosario mengandung meditasi akan Inkarnasi dan Penebusan."

Dari pernyataan di atas, kita bisa melihat bahwa Doa Rosario secara khusus disebutkan sebagai devosi yang dapat dilakukan selama Eksposisi Sakramen Mahakudus karena memberikan orientasi kristologis. Pater McNamara, L.C., menambahkan bahwa adalah mungkin bagi devosi-devosi yang memberikan orientasi kristologis untuk dilakukan selama Eksposisi Sakramen Mahakudus. Devosi-devosi tersebut termasuk novena-novena untuk persiapan Natal dan hari raya lainnya yang dapat digunakan sebagai doa-doa vokal dan aklamasi segera sebelum Pemberkatan (Benediction). Hal ini tidak berlaku untuk novena atau devosi terhadap Para Kudus tertentu.

Semoga bermanfaat!
Pax et Bonum
Indonesian Papist
Follow this blog @Katolik_Roma



Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...