Minggu, 15 Desember 2013


Mengenai Sakramen-sakramen Suci, ada klasifikasi/pembagian kelompok Sakramen yang jarang kita dengar namun sebenarnya penting untuk kita ketahui. Pembagian kelompok Sakramen tersebut dibuat berdasarkan penerima Sakramen yaitu Sakramen Orang Mati dan Sakramen Orang Hidup. Apa maksudnya? Untuk menerangkan tentang Sakramen Orang Mati dan Sakramen Orang Hidup ini, saya akan mengacu kepada Katekismus Santo Pius X (KSPX)* yang disusun oleh Paus Santo Pius X dalam bentuk tanya jawab mengenai suatu ajaran Gereja Katolik.
Apa yang dimaksud dengan kata “Sakramen”?
Kata sakramen berarti tanda-tanda rahmat yang dapat dirasakan dan berdaya guna, ditetapkan oleh Yesus Kristus untuk menguduskan jiwa kita. (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 2)

Mengapa anda menyebut sakramen tanda-tanda rahmat dapat dirasakan dan berdaya guna?
Saya menyebut sakramen-sakramen adalah tanda-tanda rahmat yang dapat dirasakan dan berdaya guna karena semua sakramen menandakan rahmat ilahi yang sakramen-sakramen tersebut hasilkan dalam jiwa kita melalui cara-cara yang dapat dirasakan. (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 3)

Ada sebagian umat Katolik menganggap bahwa penerimaan Sakramen-sakramen hanyalah sekadar ritual yang terlihat. Namun, ajaran iman Katolik tidak menganggap Sakramen-sakramen sekadar ritual belaka. Inilah ajaran iman Katolik yang paling mendasar tentang Sakramen yaitu bahwa Sakramen-sakramen adalah tanda-tanda rahmat yang berdaya guna untuk menguduskan jiwa kita. Setiap sakramen memiliki tanda-tanda rahmat tersendiri. Contohnya saat Pembaptisan, tanda-tanda rahmat itu ditunjukkan dengan penuangan air baptis ke dahi sambil Imam atau Uskup mengucapkan kalimat “Aku membaptis engkau dalam Nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.” Pada saat itu juga, kita menerima rahmat pengudusan (sanctifying grace) dari Allah dalam Sakramen Pembaptisan. Apa gunanya rahmat pengudusan? Jelas sekali untuk keselamatan kita. Kita dikuduskan melalui sakramen-sakramen supaya kita layak untuk diselamatkan.

Apa itu rahmat?
Rahmat adalah sebuah karunia batin dan adikodrati yang diberikan kepada kita bukan karena jasa-jasa kita, melainkan melalui jasa-jasa Yesus Kristus untuk mendapatkan kehidupan yang abadi. (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 10)

Bagaimana rahmat dibedakan?
Rahmat dibedakan menjadi rahmat pengudusan (sanctifying grace), yang juga disebut rahmat habitual (habitual grace), dan rahmat aktual (actual grace). (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 11)

Apa itu rahmat pengudusan?
Rahmat pengudusan adalah karunia adikodrati yang melekat kepada jiwa kita dan menjadikan kita pantas untuk diangkat sebagai anak-anak Allah dan pewaris-pewaris surga. (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 12)

Berapa banyak jenis rahmat pengudusan yang ada?
Rahmat pengudusan ada dua: rahmat pertama (first grace) dan rahmat kedua (second grace). (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 13)

Apa itu rahmat pertama?
Rahmat pertama adalah rahmat yang oleh karenanya seseorang meninggalkan keadaan berdosa berat menuju ke keadaan adil (keadaan rahmat). (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 14)

Dan apa itu rahmat kedua?
Rahmat kedua adalah rahmat yang menambahkan rahmat pertama. (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 15)

Apa itu rahmat aktual?
Rahmat aktual adalah sebuah karunia adikodrati yang mencerahkan akal budi, menggerakan dan menguatkan keinginan untuk membuat kita dapat melakukan kebaikan dan menghindari kejahatan. (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 16)

Bagaimana rahmat diberikan kepada kita oleh Allah?
Rahmat diberikan kepada kita oleh Allah terutama melalui sakramen-sakramen. (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 19)

Apakah sakramen-sakramen selalu menganugerahkan rahmat kepada kepada orang yang menerimanya?
Sakramen-sakramen selalu menganugerahkan rahmat asalkan sakramen-sakramen diterima dengan disposisi-disposisi yang diperlukan. (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 22)

Siapa yang memberikan daya menganugerahkan rahmat kepada sakramen-sakramen?
Yesus Kristus melalui penderitaan dan wafat-Nya memberikan kepada sakramen-sakramen daya menganugerahkan rahmat. (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 23)

Apa sakramen-sakramen yang menganugerahkan rahmat pengudusan pertama?
Sakramen-sakramen yang menganugerahkan rahmat pengudusan pertama dan menjadikan kita sahabat-sahabat Allah adalah dua; Pembaptisan dan Tobat. (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 24)

Bagaimana dua sakramen ini disebut mengenai hal itu (menganugerahkan rahmat pengudusan pertama)?
Dua sakramen ini, Pembaptisan dan Tobat, mengenai hal itu disebut sakramen-sakramen orang mati, karena sakramen-sakramen ini ditetapkan terutama untuk mengembalikan kehidupan rahmat kepada jiwa yang mati karena dosa. (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 25)

Sakramen-sakramen mana saja yang menambahkan rahmat kepada mereka yang telah memiliki rahmat?
Sakramen-sakramen yang menambahkan rahmat kepada mereka yang telah memilikinya adalah 5 sakramen yang lain: Penguatan (Krisma), Ekaristi, Pengurapan Orang Sakit, Imamat dan Perkawinan, semuanya menganugerahkan rahmat pengudusan kedua. (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 26)

Dalam hal ini, bagaimana lima sakramen itu disebut?
5 sakramen ini – Penguatan, Ekaristi, Pengurapan Orang Sakit, Imamat dan Perkawinan – dalam hal itu disebut sakramen-sakramen orang hidup karena mereka yang telah menerimanya haruslah bebas dari dosa berat, yaitu sudah hidup melalui rahmat pengudusan. (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 27)

Dosa apa yang dilakukan oleh seseorang yang sadar bahwa dirinya tidak berada dalam keadaan rahmat namun menerima salah satu dari sakramen-sakramen orang hidup?
Dia, yang sadar bahwa dia tidak berada dalam keadaan rahmat namun menerima salah satu dari sakramen-sakramen orang hidup, melakukan sebuah dosa sakrilegi yang serius. (KSPX, Sakramen-sakramen, Pertanyaan No. 28)

Demikianlah kita bisa melihat ajaran iman Katolik tentang hubungan sakramen-sakramen dan rahmat. Kita melihat pentingnya rahmat untuk mendapatkan kehidupan abadi, untuk menjadi pantas sebagai anak-anak Allah dan Allah memberikan rahmat, terutama rahmat pengudusan, yang diperlukan untuk keselamatan kita melalui sakramen-sakramen. Bila kita tidak berada dalam keadaan rahmat, kita tidak akan diselamatkan. Namun demikian, jelas pula bahwa sakramen-sakramen tersebut tidak akan berdaya guna rahmat bagi kita, tidak akan menguduskan kita bila kita tidak memiliki sikap batin (disposisi batin) yang benar, bila kita sekadar menganggap sakramen-sakramen itu ritual atau upacara ibadah belaka. Sebagai contoh, bagaimana sikap batin yang benar sebelum menerima Sakramen Ekaristi? Seseorang harus lebih dulu menerima Komuni pertama, harus berada dalam keadaan rahmat atau dengan kata lain bebas dari dosa berat / dosa yang mendatangkan maut (mortal sin)** serta harus berpuasa 1 jam sebelum menerima Sakramen Ekaristi (Komuni Kudus) terkecuali dalam keadaan sakit. Dan di atas semua itu, seseorang tersebut haruslah mengimani bahwa Roti dan Anggur yang telah dikonsekrasi adalah sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Kristus. Inilah bentuk sikap batin yang diperlukan sebelum kita menerima Komuni Kudus. Bila kita tidak menerima Sakramen Ekaristi dalam sikap batin yang benar, kita tidak dapat menimba rahmat dari Sakramen Ekaristi.

Supaya kita berada dalam keadaan rahmat sehingga kita dapat diselamatkan, jiwa kita harus hidup kembali dari kematian akibat dosa-dosa. Itulah mengapa, dalam ajaran Gereja Katolik, Sakramen Baptis dan Sakramen Tobat adalah sakramen-sakramen yang penting untuk keselamatan kita. Sakramen-sakramen Orang Mati ini menganugerahkan kepada kita rahmat pengudusan yang menghidupkan kembali jiwa kita, yang mengembalikan kita ke dalam keadaan rahmat. Sebagaimana yang iman Katolik ajarkan kepada kita, Sakramen Pembaptisan menghapuskan Dosa Asal dan Dosa Pribadi yang kita lakukan sebelum Pembaptisan; sementara itu, Sakramen Tobat menghapuskan Dosa Pribadi yang kita lakukan sesudah Pembaptisan.

Dan setelah kita berada dalam keadaan rahmat, barulah kita berhak menerima Sakramen-sakramen Orang Hidup yaitu kelima Sakramen lainnya. Sesuai ajaran iman Katolik, bila kita berada dalam keadaan tanpa rahmat (atau berada dalam keadaan terikat dosa berat), kita tidak boleh menerima Sakramen-sakramen Orang Hidup ini. Bila kita tetap memaksakan diri kita menerima Sakramen-sakramen Orang Hidup ini padahal kita sadar bahwa jiwa kita berada dalam keadaan mati karena dosa berat, kita justru menambah dosa yang lebih besar lagi kepada jiwa kita yaitu dosa sakrilegi. Apa itu dosa sakrilegi? Dosa Sakrilegi adalah dosa melecehkan hal-hal yang kudus. Dalam contoh yang nyata, saat kita menikah secara agama lain di luar Gereja Katolik, kita telah melakukan dosa besar. Namun, banyak dari kita yang seperti itu merasa bahwa selama kita percaya Yesus saja, kita boleh menerima Komuni Kudus tanpa perlu merasa berdosa. Ini jelas sekali bentuk pelecehan terhadap Sakramen Ekaristi. Demikianlah yang diajarkan oleh Santo Paulus “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.” (1 Kor 11:27) Pada akhirnya, bila kita dalam keadaan berdosa berat tetap memaksakan diri menerima Sakramen Ekaristi; maka bukan rahmat pengudusan yang kita terima dari Sakramen Ekaristi melainkan kita malah semakin menambah dosa kita sendiri.

Ada pesan penting yang dapat kita lihat dari pembagian Sakramen-sakramen menjadi Sakramen-sakramen Orang Mati dan Sakramen-sakramen Orang Hidup terkait dalam konteks masa sekarang. Di masa sekarang, citarasa akan kekudusan dan kesakralan di dalam diri umat Katolik semakin berkurang. Banyak dari kita menganggap bahwa segala bentuk Sakramen, Liturgi, Devosi dsb menjadi sekadar seremonial ibadah atau ritual saja. Kita tidak lagi memiliki sikap batin yang benar dalam menerima Sakramen-sakramen Suci secara khusus saat menerima Sakramen terbesar dari antara sakramen-sakramen lainnya, yaitu Sakramen Ekaristi. Pembagian atau klasifikasi Sakramen Orang Mati dan Sakramen Orang Hidup ini jelas sekali memiliki pesan supaya kita menyadari keberdosaan dan ketidaklayakan kita, supaya kita membuat jiwa kita hidup kembali dari kematian karena dosa, supaya kita tidak mempermainkan kerahiman Allah, supaya kita tidak melecehkan sesuatu yang suci, dan juga supaya kita menyadari perlunya Sakramen-sakramen untuk keselamatan kita. Bila jiwa kita berada dalam keadaan mati karena dosa berat, hidupkanlah dengan menerima Sakramen-sakramen Orang Mati. Dan saat jiwa kita telah hidup dalam rahmat, berilah makan jiwa kita dengan rahmat lagi supaya kita semakin kudus sebab kita dipanggil Allah untuk menjadi kudus.

Bagi anda umat Katolik yang akan menerima Sakramen Ekaristi yang pertama (Komuni Pertama) ataupun Krisma, anda pasti diwajibkan untuk menerima Sakramen Pengakuan Dosa / Tobat lebih dulu. Mengapa demikian? Dengan membaca artikel ini, tentu anda sudah tahu mengapa anda diwajibkan demikian; yaitu supaya anda berada dalam keadaan rahmat saat menerima Sakramen-sakramen tersebut dan anda bisa menimba rahmat pengudusan dari Sakramen-sakramen tersebut serta tentu saja supaya anda tidak melakukan dosa sakrilegi, melecehkan hal-hal yang kudus, dalam hal ini Sakramen-sakramen Suci Gereja Katolik.



*. Katekismus Santo Pius X adalah salah satu katekismus yang disusun sebelum Konsili Vatikan II. Dalam Perayaan 100 Tahun Publikasi Katekismus Santo Pius X, Kardinal Burke menyatakan bahwa Katekismus Santo Pius X juga adalah poin rujukan yang pasti dan sangat diperlukan pada masa sekarang. Katekismus Santo Pius X saat ini belum tersedia dalam bahasa Indonesia, terjemahan bahasa Inggris dapat diklik di sini. Ini berarti bahwa Katekismus Santo Pius X dapat juga dijadikan rujukan dalam menerangkan ajaran Katolik di samping Katekismus Gereja Katolik yang dipublikasikan dalam masa kepausan Beato Yohanes Paulus II dan Kompendium Katekismus Gereja Katolik yang dipublikasikan pada masa Kepausan Benediktus XVI.

**. Berbicara tentang Sakramen Pengakuan Dosa tidak akan lepas dari berbicara tentang Dosa Berat (Dosa yang mendatangkan maut / mortal sin) dan Dosa Ringan (Dosa yang tidak mendatangkan maut / venial sin). Silahkan klik di sini untuk mengetahui tentang Dosa Berat dan Dosa Ringan.

Pax et bonum