Kamis, 19 Desember 2013

Info Post

Saya seorang Katolik, seorang yang berpindah keyakinan. Walaupun saya seorang anggota Ordo Dominikan awam. Tapi saya dahulu seorang Buddhist selama lebih dari dua puluh tahun, dan apa yang saya tekankan disini adalah mengenai Buddhisme dan kelahiran kembali (tumimbal lahir). Dalam pembicaraan topik tersebut, saya ingin sekali menceritakan sedikit kisah perpindahan keyakinan saya, tentunya perpindahan saya menjadi suatu perubahan, perubahan penyambutan yang indah, dan saya berpendapat bahwa perubahan dari kondisi tanpa harapan yang nyata ke harapan.
Paul Williams - Dari Buddha menjadi Katolik
Perjalanan Saya ke Buddhisme 

Saya bukan seorang Buddhist sejak lahir. Sejauh yang saya tahu, keluarga dekat kami tidak terlalu religius, walaupun dari pihak ayah saya terdapat mereka yang menganut Anglikan dan ada kerabat kami yang menjadi imam Anglikan. Sedangkan, dari pihak ibu saya, sejauh ingatan saya tidak ada ketertarikan akan agama. Saya pernah mendengar bahwa nenek dari pihak ibu saya, pernah berkata bahwa dia akan menjadi seorang Buddhist jika dia diharuskan menganut agama apapun. Saya baru-baru ini menemukan bahwa kenyataanya keluarga kakek dari pihak ibu saya secara turun temurun menganut Katolik, walaupun dia telah meninggalkan imannya. Saya tidak tahu mengapa, namun untuk beberapa alasan ketika saya masih sangat muda, saya bergabung dengan paduan suara gereja Anglikan setempat. Pada waktu itu saya sangat senang menyanyikan lagu-lagu gerejawi. Sangat disayangkan, suara saya pecah telalu dini (karena pubertas – pen.), dan saya berpikir bahwa saya terlalu muda untuk menjadi seorang penyanyi bass, sejauh yang saya ingat saya menghabiskan waktu sebagai seorang yang berpura-pura menyanyi di Head Chorister. Hal ini mungkin menjadi gertakan lebih awal untuk memilih karir akademik.

Ketika awal tahun 1960-an, saat usia saya sudah cukup, saya diterima di Gereja Anglikan oleh Uskup Dover. Saya menjadi putra altar pada komuni. Pada sekitar tahun 1960-an ini pula saya terlibat dengan gaya hidup dan segala hal yang normal sebagaimana anak remaja laki-laki tumbuh. Ketika pergaulan dianggap lebih penting, saya meninggalkan koor, tidak lagi menjadi putra altar, dan kehilangan kontak dengan gereja. Pada waktu itu saya menjadi gondrong dan berpakaian aneh. 

Saya kuliah di University of Sussex untuk mempelajari filsafat. Pada waktu itu, bersamaan pada akhir tahun 1960-an, saya mengembangkan ketertarikan saya akan meditasi dan hal-hal tentang India. Saya menyalurkan ketertarikan tersebut terutama pada filsafat India. Saya kemudian mengambil gelar doktor dalam filsafat Buddha di University of Oxford

Sekitar tahun 1973-an, saya sudah menganggap diri saya sebagai seorang Buddhist. Saya akhirnya bernaung secara resmi menjadi Buddhist dalam tradisi Dalai Lama pada Buddhisme Tibet. Pada tahun 1980-an, ketika saya membuat bahan pengajaran saya di University of Bristol, saya bersama rekan lain mendirikan sebuah kelompok di Bristol yang sekarang kota itu memiliki Buddhist Centre (Perkumpulan orang Buddhist)-nya sendiri. Di perkumpulan tersebut, saya semakin terlibat dan sesekali mengajar dalam konteks melaksanakan ajaran Buddhisme. Seperti halnya pekerjaan akademik saya dalam filsafat Buddha, saya menulis dan berbicara sebagai seorang Buddhist Tibet di televisi, radio, dan konferensi. Saya mengambil bagian dalam dialog publik maupun pribadi dengan orang-orang Kristen, termasuk dengan Hans Kung dan Raimundo Panikkar. 

Saya tertarik dengan filsafat, tapi juga saya tertarik dengan meditasi dan keeksotikan dunia Timur. Banyak dari kami pada awalnya tertarik dengan Buddhisme karena ajaran ini tampak tebih rasional dibandingkan alternatif lainnya (dan juga sangat eksotik). Dalam hal tertentu, Buddhisme sepertinya lebih masuk akal (dan eksotik) daripada agama theistik seperti Kristen. Penganut Buddhism tidak percaya kepada Tuhan. Nah, (kami pikir) sepertinya tidak ada alasan untuk percaya kepada Tuhan, dan adanya kejahatan menjadi bukti kami, sebagai argumen pendukung melawan keberadaan Tuhan. Bagi kami yang dibesarkan sebagai seorang Kristen, kita bosan membela keberadaan Tuhan dari para pengkritik dan dunia yang tidak simpatik ini. Ketika kita meninjau kembali dan mencoba seobjektif mungkin, Tuhan semakin tidak mungkin. Dalam Buddhisme, seseorang memiliki sistem moralitas, spritualitas, dan filisofis yang sangat rumit (dan eksotik), sehingga sama sekali tidak diperlukan Tuhan. Pada suatu hantaman yang sulit tentang menerima keberadaan Tuhan, kita (umat Buddhist) akan mengabaikan itu. Sebaliknya, dengan menjadi seorang Buddhist, (kami pikir) seseorang dapat menjadi pemeditasi dengan umat Buddhist, seseorang yang sangat memahami meditasi.

Tumimbal Lahir

Namun, setelah beberapa tahun menjadi Buddhist, saya semakin bimbang dengan Buddhisme yang saya anut. Pastinya hal yang menumbuhkan kebimbangan saya untuk bersepaham dengan Buddhisme adalah keraguan tentang tumimbal lahir dan juga berhubungan dengan doktrin karma. Umat Buddhist percaya tumimbal lahir yang secara umum dipahami sebagai reinkarnasi. Dan mereka menyatakan tidak ada awal mula kronologi dari rangkaian kehidupan sebelumnya. Kita semua dilahirkan kembali dalam jumlah yang tidak terbatas. Tuhan tidak ada dan tidak diperlukan untuk memulai rangkaian ini, singkatnya tidak ada awal mula. Segala sesuatu ada disekitar kita (di suatu tempat) untuk selama-lamanya.

Saat ini kepercayaan tumimbal lahir (dan juga karma), sepertinya cukup umum walaupun dengan mereka yang bukan orang Buddhist ataupun Hindu. Bahkan seorang Kristen pun pernah ditemukan percaya akan hal ini. Tumimbal lahir ini terkenal dalam kepercayaan Yunani dan Romawi kuno, namun tidak pernah menjadi bagian dalam ortodoksi Kristen. Ada beberapa alasan baik mengapa tumimbal lahir tidak pernah menjadi bagian ortodoksi Kristen. Tumimbal lahir sangat tidak sesuai dengan pusat doktrin Kristen, yaitu setiap pribadi manusia yang tidak ternilai dan keadilan Tuhan. Jika tumimbal lahir ini benar, secara nyata kita tidak memiliki pengharapan, sehingga tumimbal lahir ini adalah doktrin yang tidak memiliki harapan. Sebagai seorang Buddhist, hal ini menyadarkan saya bahwa saya tidak memiliki harapan. Saya akan menjelaskan.

Siapa yang ingin dilahirkan kembali sebagai seekor kecoak, bisa angkat tangan? 

Saya mengajak Anda untuk membayangkan bahwa Anda akan dieksekusi tanpa rasa sakit ketika fajar nanti. Anda takut. Tapi Anda tidak perlu takut karena tidak akan menyakitkan, sejak diberitahukan tidak ada rasa sakit. Jadi mengapa harus takut? Mungkin yang Anda takutkan adalah menjadi akhir dari semua rencana anda di masa depan (kisah tentang Anda selesai). Mungkin juga, Anda tidak ingin meninggalkan teman dan keluarga anda selamanya. Juga mungkin, Anda takut akan kehampaan yang besar, sebuah ketiadaan. Apa yang Anda takutkan? 

Sekarang saya ajak Anda lagi membayangkan bahwa algojo merangkul Anda dan berkata untuk tidak khawatir. Hal itu tidak begitu buruk. Walaupun demikian Anda harus dieksekusi,  dan andaikan bahwa tanpa ada keraguan bahwa ajaran Buddhisme dan Hinduisme itu benar. Dan seketika, Anda dilahirkan kembali. Dan kenyataanya Anda dilahirkan kembali sebagai seekor kecoa di Amerika Selatan. 

Nah, saya menyatakan bahwa Anda tetap merasa takut. Mungkin Anda akan merasa lebih takut. Tapi mengapa harus takut? Menjadi seekor kecoa menjawab bahkan hampir semuanya, dari ketakutan yang pertama kali muncul di pikiran anda ketika Anda akan segera dieksekusi. Kecoa tentunya memiliki rencana masa depan, seperti untuk mendapatkan makanan yang cukup, meracuni manusia, atau apapun itu yang kecoa senangi selama hidupnya. Itu akan menyenangkan, setelah Anda terbiasa. Tentu saja, menjadi kecoa berarti tetap harus meninggalkan teman dan keluarga , tapi dalam kehidupan kita sering meninggalkan teman dan keluarga kita. Keluarga dan teman kita mungkin terpisah dari kita oleh pengasingan/pengucilan, perang, pertengkaran atau apapun itu. Ataupun jika mereka meninggal, bukan Anda yang meninggal, akan berdampak yang sama. Lantas mengapa dalam hal ini kita lebih takut dengan kematian kita sendiri, dengan kematian orang yang kita cintai? Lagipula dengan menjadi seekor kecoa, Anda akan memiliki banyak dan bahkan lebih banyak lagi teman dan keluarga baru, akan banyak sekali teman dan keluarga kecoa untuk menggantikan orang yang meninggalkan Anda. Anda akan terbiasa nantinya. Ini tidak terlalu buruk, tidak seburuk yang Anda pikir. Dan menjadi kecoa bukan ketidakadaan. Hal ini tidak seperti kehampaan yang besar. Ini juga sebuah kehidupan. Anda akan tetap hidup. 

Jadi mengapa kita tidak terhibur dengan semuanya ini? Mengapa kita masih tidak menyukai ide tentang eksekusi fajar tersebut, walaupun dilanjutkan dengan segala kesenangan menjadi seekor kecoa di Amerika Selatan? Anda mungkin berkata, kecoa itu mengerikan, jelek, makhluk menjijikan. Siapa yang ingin menjadi salah satu dari mereka (kecoa)? Tetapi apakah itu adil? Mungkin kecoa tidak mengerikan dan jelek bagi mereka sendiri. Dan setelah semua itu, saya kira induk mereka akan mencintai mereka.

Dapatkah Anda membayangkan menjadi seekor kecoa? Dapatkah Anda membayangkan kehidupan sebagai kecoa? Tentunya tidak bisa. Kami tidak meminta Anda untuk dapat membayangkan terbangun dalam tubuh seekor kecoa (seperti Kafka katakan dalam ceritanya Metamorphosis). Kami tidak meminta Anda membayangkan menjadi Anda sendiri, yang entah bagaimana berusaha secara sadar untuk menerima diri yang terpaksa masuk ke dalam tubuh kecoa. Itu sangat tidak menyenangkan. Anda akan bermasalah dengan kaki-kaki kecoa itu, sedikitnya untuk sementara waktu, dan Anda akan membenci induk-induk kecoa anda yang mendekati Anda dimanapun. Dia sangat mengerikan? Tapi tidak demikian kan? Anda akan mencintai induk-induk kecoa anda, karena (saya kira) kecoa menyayangi induk mereka. Karena Anda seekor kecoa juga. Anda tidak dapat membayangkan seperti apa menjadi kecoa itu, karena Anda tidak akan menjadi diri anda di dalam tubuh kecoa. Anda akan menjadi kecoa dan siapa yang tahu apa yang kecoa bayangkan dan impikan. 

Tumimbal Lahir Berarti Akhir dari Saya 

Apa yang saya tekankan disini? Ini yang saya tekankan: Apa yang ditakutkan tentang eksekusi fajar dan dilahirkan kembali sebagai seekor kecoa, hal yang sederhana dan lugas, yaitu akhir dari saya. Saya tak dapat membayangkan dilahirkan kembali sebagai seekor kecoa karena tidak bisa untuk membayangkannya. Jika disederhanakan, maka saya tidak ada lagi sama sekali. Jika tumimbal lahir benar, baik saya maupun orang yang saya cintai hidup dalam kematian. Dengan tumimbal lahir, bagi saya (pribadi saya saat ini), kisah saya benar-benar berakhir. Mungkin saja ada mahkluk hidup lain yang hidupnya dalam suatu hubungan sebab akibat (kausal) dengan kehidupan menjadi diri saya (dipengaruhi oleh karma saya), tetapi bagi saya tidak demikian. Tak ada yang dapat dikatakan lagi tentang pribadi saya.

Tak satupun dari dalam hal ini sendiri berarti posisi Buddhisme salah. Tetapi hal tersebut mengartikan demikian, jika posisi Buddhisme benar, kematian kita dalam hidup ini benar-benar kematian kita. Kematian menjadi akhir bagi kita. Secara tradisional, setidaknya dalam tingkatan hari ke hari, penganut Buddhisme dan mereka yang menganut ajaran lain yang menerima tumimbal lahir cenderung untuk mengaburkan fakta ini dalam pilihan bahasa yang mengacu pada “tumimbal lahir saya” dan “perhatian pada kehidupan masa depan seseorang”. Tapi kenyataanya tumimbal lahir (katakanlah sebagai seekor kecoa di Amerika Selatan) tidak akan menjadi seseorang, dan terdapat pertanyaan serius, mengapa seseorang harus memperhatikan tumimbal lahir yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Pada awalnya saya mulai melihat bahwa Buddhisme itu benar, tetapi untuk selanjutnya alih-alih untuk mendapat pencerahan (nirwana) ataupun sesuatu (yang baik) dalam hidup ini, dimana seluruh siklus tumimbal lahir akan selesai dengan sempurna, saya tidak akan memiliki harapan. Jelasnya, saya tidak akan mendapatkan pencerahan dalam kehidupan ini. Seluruh penganut Buddhisme akan cenderung untuk menerima sesuatu sebagai kebenaran yang terkait dengan setiap orang. Pencerahan adalah pencapaian tertinggi dan sangat jarang bagi pejuang spiritual, bukan orang-orang seperti kita, tentu saja bukan orang seperti saya. Sehingga saya (dan semua teman dan keuarga saya) membuat mereka sendiri tanpa harapan. Bukan hanya itu, sebenarnya dalam perspektif Buddhisme mengenai skala ketidakterbatasan waktu, makna setiap orang dari kita, contohnya orang seperti apakah kita, menyatu pada kehampaan. Untuk setiap pribadi kita menghidupi kehidupan kita dan selanjutnya musnah. Setiap orang dari kita (pribadi kita) hilang selamanya. Bagiku Buddhisme tidak memiliki harapan. Tapi apakah saya sangat yakin akan kebenaran Buddhisme? Seperti St. Paulus tahu dengan baik, setidaknya Kekristenan menawarkan harapan. 

Karma 

Izinkan saya berkata sesuatu tentang teori yang biasanya berdampingan dengan tumimbal lahir, yaitu teori karma. Teori ini secara umum, berarti perbuatan bijak dan jahat kita masing-masing akan menghasilkan suatu hasil yang menyenangkan dan menyakitkan bagi kita. Jadi jika saya tersandung dan jari kelingking kaki saya patah, maka peristiwa menyakitkan tersebut adalah hasil dari perbuatan jahat yang dilakukan saya di masa lalu. Jika apa yang saya jabarkan di atas benar, maka prinsip-prinsip karma jika diterapkan selama masa hidup seseorang, berarti suatu pribadi lolos sepenuhnya sedikitnya dari hasil perbuatan jahatnya, dan yang lainnya mendapatkan peristiwa menyakitkan yang berasal dari hasil perbuatan jahat yang tidak mereka lakukan.

Andaikan hal berikut ini: Seorang diktator yang kejam memerintahkan di ranjang kematiannya untuk membantai seribu orang. Diktator itu mati, sehingga orang tersebut (sang diktator) tidak pernah menerima hasil yang buruk oleh karena karma. Tak diragukan lagi dia akan menjadi makhluk yang lain, "seseorang yang dilahirkan kembali" yang akan menerima hasil-hasil yang mengerikan (dari karma si diktator). Akan tetapi hal yang pertama, apa karmanya untuk diktator kita tersebut? Dan yang kedua, jelas sekali makhluk lain (seseorang/sesuatu yang dilahirkan kembali), akan terluka parah akibat sesuatu yang dia tidak lakukan (kata ganti "dia" disini bisa dalam konteks sebagai manusia pria atau wanita dan juga makhluk lain contohnya hewan). Contoh pemikirannya, seorang bayi, misalnya menderita penyakit yang menyakitkan oleh karena sesuatu yang orang lain lakukan, bahkan jika sang bayi masih merasa bahwa dia adalah yang terlahir kembali dari orang tersebut (sang diktator), hampir tidak, digambarkan sebagai kepuasan atau keadilan. Hal itu tentunya bukan jawaban yang tepat tentang masalah kejahatan, seperti beberapa orang nyatakan. Bayi tersebut semata-mata bukanlah orang yang telah melakukan perbuatan jahat, tidak lebih dari seekor bayi kecoa yang adalah saya setelah eksekusi tersebut.

Penganut Buddhism tidak meyakini adanya Tuhan, tapi andaikan Tuhan itu ada maka teori karma tentunya tidak sesuai dengan keadilan-Nya. Dan juga, yang akan terjadi adalah pembuangan pribadi ke tumpukan sampah sejarah, itulah yang terkait dengan tumimbal lahir.
Orang Kristen Memiliki Harapan 

Hal itu sepertinya menjadi terang dan jelas bagi saya, bahwa jika saya terlahir kembali menjadi pribadi saya sendiri pada kehidupan saat ini, maka tidak ada lagi. Hal ini jelas tak dapat dibayangkan jika saya dilahirkan kembali sebagai seekor kecoa di Amerika Selatan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa saya adalah pribadi yang sama sebagai seekor kecoa di Amerika Selatan. Dapatkah kita berkata lagi bahwa saya akan menjadi pribadi yang sama jika kelahiran kembali saya melibatkan embrio manusia di Afrika? Atau di Bristol, di keluarga saya sendiri? Dan posisi standar (yang benar) Buddhisme secara eksplisit menolak bahwa orang yang dilahirkan kembali adalah pribadi yang sama dengan orang yang telah meninggal. Jadi tumimbal lahir tidak sesuai dengan nilai manusia yang berharga. 

Tapi agama Kristen adalah agama dengan nilai manusia yang berharga. Pribadi seperti apa kita, atau akan menjadi apa, bukan ketidaksengajaan bagi kita, dan bukan hal yang remeh. Setiap orang adalah ciptaan pribadi dari Tuhan, yang sangat dicintai dan bernilai bagi Tuhan. Pada hal tersebut menjadi dasar seluruh moralitas Kristiani, dari nilai keluarga sampai kepada altruisme (suatu prinsip dan sikap terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri) dan penyangkalan diri dari santo-santa. Karena kita sangat berharga sehingga Tuhan Yesus wafat untuk kita masing-masing. Dia wafat bukan untuk selamat dari rantai tumimbal lahir, ataupun mereinkarnasikan diri-Nya. Dia wafat untuk menyelamatkan kita. Dan kita adalah pribadi kita masing-masing, yang dibentuk dari individu-individu dengan cerita, keluarga, dan teman kita. Bertentangan dengan mitos Kristen yang membenci fisik dan tubuh (bidah gnostikisme), sebenarnya Kekristenan adalah juga agama perwujudan dan kebaikan yang hakiki dari seluruh ciptaan fisik.

Semua hal tersebut bahwa tumimbal lahir akan bertentangan dengan seluruh arah Kekristenan. Jika ada kelangsungan dari kematian (dan iman Kristen yang berasal kebangkitan Kristus sendiri, dan berdasarkan akan itu), maka hal tersebut bukan dalam syarat tumimbal lahir. Tumimbal lahir dan nilai manusia yang berharga adalah hal yang bertentangan. Pandangan Kristen tentang kematian adalah suatu  harapan, sebenarnya suatu kemenangan (keterpisahan dari apapun) yang melihat kematian bukan sebagai suatu kehampaan, ketidakadaan. Suatu kisah, tidak berakhir bagi pribadi kita, kita dapat berharap bahwa kita tidak terpisah selamanya dari teman dan keluarga kita. Tapi lebih dan lebih lagi daripada itu, iman kita bahwa dalam Tuhan, kematian kita akan bermakna untuk masing-masing dan setiap pribadi kita (masing-masing individu seseorang) dengan cara yang melebihi imajinasi kita, tetapi bahkan sekarang membangkitkan harapan kita dan menarik kehidupan kita (dari tanpa harapan). 

Kesimpulan 

Baiklah, semua pemikiran itulah yang secara berangsur-angsur membawa saya jauh dari Buddhisme. Bagi saya Buddhisme itu tidak memiliki harapan. Agama Kristen memiliki harapan. Saya sangat ingin untuk dapat menjadi seorang Kristen. Saya kembali (menjadi Kristen), untuk melihat kembali hal-hal yang saya tolak dalam iman Kristen sebelumnya (sebagai Anglikan). Saya mengulas dengan rinci tahapan perjalanan saya dalam buku saya "The Unexpected Way" (T&T Clark/Continuum:2002). Oleh karena kasih karunia, saya datang kembali kepada Tuhan. Saya meyakinkan diri saya sendiri, bahwa hal untuk percaya kepada Tuhan itu rasional, serasional (bahkan sekarang saya katakan lebih rasional lagi) daripada percaya dengan penganut Buddhisme bahwa tidak ada Tuhan. Sejalan dengan percaya kepada Tuhan, maka saya tidak lagi dapat untuk menjadi seorang Buddhist. Saya harus menjadi seorang theist. Saya melihat dengan seksama pada bukti dan pada waktu itu saya tercengang ketika mencari arti sesungguhnya dari kebangkitan Tuhan kita dari kematian setelah penyaliban-Nya, yang merupakan penjelasan yang paling rasional dari apa yang sesungguhnya telah terjadi. Itulah yang saya rasakan, menjadikan Kekristenan sebagai pilihan yang paling rasional dari agama-agama theistik lainnya. Dan sebagai seorang Kristen (non-Katolik), saya memperdebatkan tentang keutamaan/hak istimewa (prioritas) yang telah diberikan kepada Gereja Katolik Roma. Saya membutuhkan suatu alasan yang baik untuk tidak diterima ke dalam Gereja Katolik. Dalam buku saya, saya meneliti berbagai argumen yang diberikan kepada saya untuk menentang saya menjadi seorang Katolik, dan saya memperdebatkanya sebagai alasan untuk menolak Gereja Katolik, tetapi semua hal itu gagal untuk meyakinkan saya. Sehingga saya diterima ke dalam Gereja Katolik. 

Sekarang saya hidup dalam rasa syukur dan harapan. Dan saya tidak pernah bahkan sesekali untuk menyesali keputusan saya. 

Lampiran

Jika apa yang saya bantahkan di sini adalah benar, maka bagi saya sepertinya kita berhak secara teologis untuk mengatakan bahwa apa yang kita sudah ketahui jikalau tumimbal lahir itu salah. Apa yang saya maksudkan disini adalah:
1. Tumimbal lahir tidak sesuai dengan kepercayaan Kristen.
2. Sebagai umat Kristen kita berhak untuk mengatakan apa yang kita ketahui secara teologis bahwa kepercayaan Kristen itu benar.
3. Apapun yang tidak sesuai dengan kebenaran adalah salah.
4. Oleh karena itu, kita sebagai umat Kristen berhak mengatakan kalau kita mengetahui secara teologis bahwa tumimbal lahir itu salah.
  • Beberapa bacaan lebih lanjut tentang Buddhisme dan Katolisisme oleh Paul Williams:The Unexpected Way, Continuum, 2002  
  • Buddhisme from a Catholic Perspective, Catholic Truth Society, 2006 
  • ‘Buddhism’, dalam Gavin D’Costa (ed.) The Catholic Church and the World Religions: A Theological and Phenomenological Account, Continuum, 2011

Paul Williams adalah seorang Katolik yang berpindah keyakinan dari Buddhisme, dia seorang Dominikan awam, dan seorang profesor di University of Bristol. Dia menikah dan memiliki tiga orang anak.


© Paul Williams, OP
Profesor Filsafat India dan Tibet
University of Bristol, Inggris
Sumber: Buddhist Convert: Paul Williams (diakses 8 Mei 2013)
Diterjemahkan oleh Arief Prilyandi untuk dipublikasi di Indonesian Papist.