Minggu, 15 Agustus 2010


Semua Diselamatkan Melalui Kristus


Audiensi Umum, 31 Mei 1995 (Paus Yohanes Paulus II)

Kesulitan-kesulitan yang kadang menyertai perkembangan evangelisasi menyoroti suatu problem yang sulit, yang solusinya tidak dicari dalam hal-hal yang semata-mata historis atau sosiologis. Adalah problem keselamatan orang yang tidak secara kelihatan menjadi bagian Gereja. Kita tidak diberi kemungkinan untuk menegaskan misteri tindakan Allah dalam pikiran dan hati, untuk mengakses kuasa karunia Kristus karena Kristus memiliki, dalam hidup maupun mati, semua yang “Bapa berikan padaNya,” dan yang dia sendiri nyatakan dia tidak ingin “kehilangan.” Kita mendengar Dia mengulangi ini dalam suatu Bacaan injil yang disarankan dalam Misa bagi arwah (Bdk Yoh 6:39-40).

Namun demikian, sebagaimana saya tulis dalam Ensiklik Redemptoris Missio, anugerah keselamatan tidak dapat dibatasi “pada mereka yang secara eksplisit percaya akan Kristus dan telah memasuki Gereja. Karena keselamatan ditawarkan pada semua, ia harus dibuat secara konkret tersedia bagi semua.” Dan, dengan mengakui bahwa secara konkret tidak mungkin bagi banyak orang untuk memiliki akses pada pesan injil, saya menambahkan: “Banyak orang tidak memiliki kesempatan untuk sampai mengenal atau menerima perwahyuan injil atau menjadi anggota Gereja. Kondisi-kondisi social dan cultural dimana mereka hidup tidak memungkinkan ini, dan seringkali mereka telah dibesarkan dalam tradisi-tradisi religius yang lain” (RM 10).

Kita harus mengakui bahwa, sepanjang umat manusia dapat ketahui dan pikirkan, ketidakmungkinan praktis ini akan tampak berlangsung untuk waktu yang lama, mungkin sampai karya evangelisasi akhirnya terpenuhi. Jesus sendiri mengingatkan bahwa hanya Bapa yang tahu “saat yang tepat” yang disiapkan baginya untuk penetapan KerajaanNya di dunia (Bdk Kisah 1:7).

Apa yang saya telah katakan di atas, bagaimanapun, tidak membenarkan posisi relativistis akan mereka yang tetap berpendapat bahwa suatu cara keselamatan dapat ditemukan dalam tiap agama, bahkan secara mandiri mengenai iman akan Kristus Sang Penyelamat, dan bahwa dialog antar agama harus didasarkan pada gagasan ambisius ini. Solusi pada problem akan keselamatan mengenai mereka yang tidak mengakui iman Kristen ini tidak sesuai dengan Injil. Malahan, kita harus mempertahankan bahwa jalan keselamatan selalu melalui Kristus, dan oleh karena Gereja dan para misionarisnya memiliki tugas membuat Dia dikenal dan dikasihi dalam semua waktu, tempat dan kebudayaan. Terpisah dari Kristus “tidak ada keselamatan.” Sebagaimana Petrus nyatakan di depan Sanhedrin sejak permulaan pewartaan kerasulannya: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah 4:12)

Bagi mereka juga yang bukan karena kesalahan mereka tidak mengenal Kristus dan tidak dikenal sebagai orang-orang Kristen, rencana ilahi telah menyediakan suatu jalan keselamatan. Sebagaimana kita baca dalam Dekrit Konsili Vatikan II AD GENTES, kita percaya bahwa “Allah dalam cara-cara yang Dia ketahui sendiri dapat menghantar mereka yang tidak mengenal injil bukan karena kesalahannya sendiri” kepada iman yang perlu bagi keselamatan (AG 7). Tentu saja, kondisi “ bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal injil” tidak dapat diverifikasi atau ditimbang oleh penilaian manusia, tetapi haris dibiarkan pada penilaian ilahi saja. Karena alasan ini, Konsili Vatikan II menyatakan dalam Konstitusi Gaudium et Spes bahwa dalam hati setiap manusia yang berkehendak baik, “Rahmat bekerja dengan cara yang tak dapat dilihat… Roh Kudus dengan cara yang hanya dikenal Alah menawarkan pada tiap manusia kemungkinan untuk dipersatukan dengan misteri paskah ini” (GS 22).

Pentinglah ditekankan bahwa jalan keselamatan yang diambil oleh mereka yang tidak mengenal injil bukanlah suatu jalan yang terpisah dari Kristus dan Gereja. Kehendak penyelamatan universal terkait dengan satu pengantaraan Kristus. “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan" (1 Tim 2:3-6). Petrus menyatakan ini ketika dia berkata: “Tidak ada keselamatan dalam yang lain” dan menyebut Jesus “batu penjuru” (Kis 4:11-12), menekankan peran Kristus yang penting pada dasar Gereja.

Affirmasi mengenai keunikan Penyelamat ini berasal dari kata-kata Tuhan sendiri. Dia menyatakan bahwa dia datang “untuk memberikan hidupnya sendiri sebagai tebusan bagi banyak orang “ (Markus 10:45), yaitu, bagi kemanusiaan, sebagaimana St Paulus menerangkan ketika dia menulis: “Satu mati bagi semua” (2 Kor 5:14; bdk Roma 5:18). Kristus memenangkan keselamatan universal dengan memberikan hidupNya sendiri. Tidak ada mediator lain yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai Penyelamat. Nilai unik dari pengorbanan salib harus selalu diakui dalam nasib tiap manusia.

Karena Kristus membawa keselamatan melalui Tubuh mistiknya, yang adalah Gereja, jalan keselamatan dikaitkan secara esensial dengan Gereja. Ungkapan extra ecclesiam nulla salus” – di luar Gereja tidak ada keselamatan—sebagaimana dinyatakan St Siprianus (Epist.73, 21; PL 1123 AB), milik tradisi Kristiani. Itu dimasukkan dlaam Konsili Lateran IV (DS 802), dalam Bula Unam Sanctam Paus Bonifacius VIII (DS 870) dan Konsili Florence (Decretum pro Jacobitis, DS 1351). Ungkapan itu berarti bahwa mereka yang tidak tak-tahu atas fakta bahwa Gereja telah ditetapkan sebagai perlu oleh Allah melalui Jesus Kristus, ada suatu kewajiban untuk memasuki Gereja dan tetap tinggal di dalam Gereja agar mencapai keselamatan (Bdk LG 14). Bagi mereka, namun demikian, yang tidak menerima pewartaan injil, sebagaimana saya tulis dalam ensiklik Redemptoris Missio, keselamatan tetap dapat diperoleh dengan cara-cara yang misterius, sejauh rahmat ilahi diberikan pada mereka oleh karena pengorbanan Kristus yang menebus, tanpa keanggotan eksternal dalam Gereja, tetapi selalu bagaimanapun dalam hubungan dengan Gereja (Bdk RM 10). Ini suatu hubungan misterius. Merupakan misteri bagi mereka yang menerima rahmat, karena mereka tidak tahu Gereja dan kadang-kadang bahkan kelihatannya menolak Gereja. Juga misterius dalam dirinya sendiri, karena terkait pada misteri rahmat yang menyelamatkan, yang memasukkan refensi esensial pada Gereja yang didirikan Sang Penyelamat.

Agar berdayaguna, rahmat penyelamatan membutuhkan penerimaan, kerjasama, suatu jawaaban YA terhadap anugerah ilahi. Penerimaan ini setidaknya secara implisit diarahkan kepada Kristus dan Gereja. Jadi penerimaan itu dapat juga dikatkan bahwa sine ecclesia nulla salus—“tanpa Gereja tidak ada keselamatan.” Menjadi mili Gereja, tubuh mistik Kristus, bagaimnapun secara implicit dan memang secara misterius, merupakan kondisi esensial bagi keselamatan.

Agama-agama dapat melakukan suatu pengaruh positif atas nasib mereka yang menjadi anggota agama-agama itu dan mengikuti bimbingan mereka dalam semangat yang jujur. Namun demikian, jika tindakan menentukan bagi keselamatan merupakan karya Roh Kudus, kita harus tetap berpikir bahwa manusia menerima keselamatannya hanya dari Kristus melalui Roh Kudus. Penyelamatan selalu mulai selama hidup duniawi. Rahmat ini, ketika diterima dan ditanggapi, memberikan buah dalam arti injil bagi bumi dan surga.

Itulah pentingnya peran Gereja yang tak tergantikan. Dia “bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, tetapi sangat peduli sepenuhnya akan Kristus, dalam Kristus dan bagi Kristus, sebagaimana sepenuhnya akan manusia, di antara manusia dan bagi manusia.” Peran ini makan tidak “ekklesiosentris, sebagaimana kadang dikatakan. Gereja tidak ada ataupun tidak bekerja bagi dirinya sendiri, tetapi untuk pelayanan kemanusiaan yang dipanggil pada keputraan ilahi dalam Kristus (Bdk RM 19). Gereja dengan demikian melaksanakan suatu kepengantaraan implicit juga terkait dengan mereka yang tidak mengenal injil.

Apa yang telah dikatakan bagaimanapun tidak akan menghantar pada kesimpulan bahwa kegiatan misionernya kurang diperlukan dalam situasi-situasi ini--- amat berbalikan. Kenyataannya, siapapun yang tidak mengenal Kristus, yang bukan karena kesalahannya sendiri, ada dalam suatu kegelapan dan kelaparan rohani, kadang dengan akibat-akibat negatif di tingkat cultural dan moral. Karya missioner Gereja dapat menyediakan baginya sumber-sumber daya bagi perkembangan yang penuh akan rahmat penyelamatan Kristus, dengan menawarkan kesetiaan yang sadar dan penuh pada pesan iman dan partisipasi aktif dalam kehidupan Gereja melalui sakramen-sakramen.

Ini merupakan pendekatan teologis yang ditarik dari tradisi Kristiani. Magisterium Gereja telah mengikutinya dalam ajaran dan prakteknya sebagai cara yang ditunjukkan oleh Kristus sendiri bagi para rasul dan para misionarisnya dalam setiap jaman. 



Source:
Artikel asli: General Audience at May 31, 1995
Artikel Terjemahan: Unam Sanctam's Note