Jumat, 18 November 2011


Tentang Kematian Kristen
Titik Akhir Kehidupan. Di dalam kehidupan manusia tidak ada sesuatu yang begitu mengajak kita berpikir-pikir daripada kematian. Tidak ada yang begitu goyah daripada kemewahan dan kesehatan. Seringkali kita berkenalan dengan kematian, yang  biasanya mengacaukan kehidupan kita sendiri. Tiap peristiwa kematian mempunyai bahasanya sendiri terhadap kita pribadi, karena manusia yang masih hidup dan sehat mengerti bahwa ia solider dengan seluruh umat manusia yang harus mati. Anggota tubuh yang sekarang ini masih kokoh kuat dan menjalankan fungsinya dengan baik, wajah yang indah ini, akan hilang lenyap.

Kematian sangat mengerikan bagi kodrat kita, dalam arti kata yang sebenarnya. Apabila kematian tiba, kodrat kita merasa takut dan gemetar karena kita masih ingin hidup. Kematian adalah pemusnahan kehidupan, pemecahan dari kesatuan yang hidup dari manusia itu sendiri. Di samping itu timbul pula pertanyaan yang menakutkan: Apakah yang akan terjadi sesudah itu? Manusia gemetar melewati pintu gelap gulita itu untuk sampai ke tempat di mana belum ada seorang pun yang pulang kembali. Pikiran kita tidak dapat mengatakan yang jelas tentang kehidupan di balik dinding kematian.

Akibat Dosa. Iman kita juga mengajarkan kita tentang asal mula kematian itu. Dari wahyu, kita mengetahui bahwa kematian tidak termasuk dalam rencana asaliah Tuhan. Sebelum manusia mengacaukan keadaan dengan dosa, sebelum itu belum ada kematian. Dosa adalah sebab utama dari kematian. Kematian telah masuk ke dalam dunia oleh dosa. Kematian telah menjalar kepada semua orang karena semua orang telah berbuat dosa. (Rom 5:12). Kematian tidak dibuat oleh Allah dan Ia pun tidak bergembira atas kemusnahan yang hidup. Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan tetapi kedengkian setan telah memasukkan kematian ke dalam dunia. (Kebijaksanaan Salomo 2:23-24). Karena kesalahan pribadi maka manusia sendiri bertanggungjawab atas kematian; kematian adalah siksa yang adil dari pihak Tuhan untuk dosa yang dilakukan oleh manusia.

Di kayu salib, Kristus telah mengalahkan segala kekuatan yang bertentangan dengan Allah. Ia telah melemparkan penguasa dunia ini ke luar. (Yoh 12:31). Ia telah menghapuskan surat hutang kita dengan darah-Nya (Kol 2:14) dan telah mematahkan kuasa maut (2 Tim 1:10). Tetapi bersama itu tidak dikatakan bahwa sekarang tidak ada lagi dosa dan kematian di atas dunia ini. Salib Kristus adalah sebab universal dari pada kebahagiaan kita; itulah kekuatan yang membuat setiap orang dapat memperoleh pengampunan dan kehidupan. Setan sudah kalah, tetapi perjuangan berlangsung terus selama sejarah umat manusia dari turunan yang satu ke turunan yang lain. Selama ada manusia baru, selama ada turunan dari Adam lama, firdaus tidak akan kembali. Dan selama kekuatan dosa masih ada, selama itu kematian juga masih ada. Karena itu semua orang akan mati dalam persekutuan dengan Adam (1 Kor 15:22) dan karena itu juga kematian adalah musuh terakhir yang dibinasakan. (1 Kor 15:26)

Pembersihan. Kematian masih mempunyai suatu arti yang lebih mendalam bagi kehidupan manusiawi. Kehidupan adalah jalan menuju Allah. Tetapi di dalam kodrat kita yang sudah dicemari oleh dosa terdapat banyak rintangan. Untuk dipersatukan lagi dengan Allah dibutuhkan kemurnian hati yang besar. Seluruh kehidupan harus merupakan suatu proses pembersihan. Pembersihan yang terus menerus ini adalah mutlak perlu. Fase yang terakhir dan yang menentukan di dalam proses ini adalah kematian. Kematian berarti perpisahan dari segala yang fana.

Kelahiran Baru. Seorang Kristen memandang kematian bukan sebagai titik akhir, tetapi sebagai titik mula. Memang, kematian mengakhiri banyak hal: kenikmatan duniawi, kekayaan duniawi dan kehormatan duniawi; semuanya itu berakhir untuk selama-lamanya. Bagi mereka yang tidak merindukan sesuatu yang lain dan bagi mereka yang tidak mengharapkan sesuatu sesudah kehidupan ini, kematian merupakan suatu bencana. Tetapi seorang Kristen memandang kematian sebagai suatu kelahiran untuk kehidupan baru. Baginya kematian merupakan perpisahan yang menyedihkan dari sekian banyak hali yang begitu berkenan kepadanya. Tetapi ia tahu juga bahwa ia menuju ke suatu kehidupan yang lebih baik, suatu kehidupan penuh terang, kegembiraan dan kebebasan. Jikalau dipandang demikian, maka kematian adalah sesuatu yang baik, sesuatu yang patut diterima dan tidak boleh ditolak. Seorang Kristen harus merindukannya di dalam Kristus. Dan apabila seluruh kehidupan kita di dunia ini dapat disimpulkan dalam satu perkataan ialah perkataan Kristus, maka kematian adalah suatu keuntungan. (Fil 1:21)

Persamaan dengan Kristus. Kita mati bersama Kristus. Kematian tidak hanya pintu yang menghantar kita ke sesuatu yang lebih baik bagi kita secara pribadi. Kematian juga adalah suatu persatuan yang khusus dengan Kristus. Pikiran ini memberi semangat dan penghiburan. Bagi seorang Kristen tidak ada yang lebih baik daripada hidup bersama Kristus. Dengan demikian kematian Kristiani mempunyai sifat khas. Di mana Aku berada, di situ pelayan-Ku akan berada. (Yoh 12:26). Sebelum Kristus masuk ke dalam kemuliaan-Nya, Ia tergantung di salib. Bukankah Kristus harus menderita semuanya itu untuk masuk dalam kemuliaan-Nya? (Luk 24:26). Demikianlah jalan yang harus dilalui seorang Kristen. Setiap anggota menerima nasib dari kepalanya. Di dalam kepahitan kematian, tersembunyi kemanisan yang benar. Masih ada suatu rahasia di dalam kematian Kristen. Kematian Kristus tidak hanya bermanfaat bagi Diri-Nya sendiri, tetapi juga bagi kebahagiaan dunia. Kematian seorang Kristen harus mengambil bagian dalam kematian Kristus. Kematiannya harus bermanfaat bukan untuk dirinya sendiri, penghapusan dosa dan penerimaan kehidupan baru, tetapi juga berguna bagi orang lain. Dan sebagaimana kematian menjadi jalan menuju kepada kebahagiaan dan kemuliaan, demikian pula kematian kita adalah titik akhir pembuangan kita di dunia ini dan pengantar kita ke rumah Bapa yang ada di Surga.


Sumber: Aku Percaya hlm. 164-166