Sabtu, 11 Januari 2014


Suatu hari hiduplah sepasang kakek-nenek yang miskin di Mexico. Kapanpun kau mengunjungi rumah mereka, akan selalu ada ayam-ayam berlarian. Setiap pagi ayam jantan akan membangunkan mereka dan para tetangga juga akan terbangun.

Walaupun ayam-ayam itu bisa bertelur dan juga bisa dibuat kaldu ayam yang enak, mereka juga merepotkan ketika mereka buang kotoran sembarang di jalan. Si nenek harus membersihkan kotoran-kotoran ayam itu setiap pagi. Juga pada saat itu, orang-orang miskin berjalan bertelanjang kaki dan ketika mereka menginjak kotoran ayam, rasanya akan sangat tidak nyaman di antara jari-jari kaki. Suatu waktu, kotoran ayam itu kadang menempel sepanjang perjalanan dan bahkan terbawa hingga pulang.

Walaupun pasutri tua itu seringkali merasa ayam-ayam mereka menyebalkan, mereka menerima ayam-ayam itu sebagai bagian dari hidup mereka seperti para pendahulu mereka sebelumnya selalu memelihara ayam di sekitar mereka. Mereka juga bersyukur bisa memakan telur dan daging ayam, jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk mengubah keadaan ini.

Para tetangga seringkali komplain kepada pasutri tua itu karena ayam jago mereka membangunkan para tetangga pagi-pagi sekali. Tetapi pasutri tua itu selalu meminta maaf dan tetap memelihara si ayam jantan. Itu hanya selalu terjadi seperti biasanya.

Akhirnya pasutri tua yang miskin  meninggal dan anak-anak mereka pindah ke rumah mereka. Anak-anak mereka memiliki uang yang lebih banyak, jadi mereka berpikir, “untuk apa  memiliki ayam-ayam ini yang selalu membuat berantakan halaman kita. Kita bisa membeli telur dan daging ayam dari toko.”

Para tetangga sangat senang karena sekarang bisa tidur di pagi hari tanpa mendengar si ayam jantan berkokok. Si istri juga tidak perlu membersihkan jalanan lagi.

Tapi suatu hari, ketika sang suami sedang berjalan di dalam rumah bertelanjang kaki, dia disengat kalajengking. Dia harus dengan segera dibawa ke rumah sakit untuk diberikan penawar racun. Dia hampir mati dan biaya rumah sakit sangat mahal.

Setelah kejadian menakutkan ini, mereka mulai merenung dan mencari tahu mengapa para pendahulu mereka tidak pernah ada yang disengat kalajengking. Bertanya kepada orang-orang tua lain yang bijaksana, mereka menemukan bahwa ayam-ayam merepotkan itulah yang selama ini memakan kalajengking dan menjaga rumah yang miskin  itu aman untuk ditinggali manusia.

            Aku membuat cerita ini untuk menjabarkan apa yang terjadi apabila kita membuang tradisi Katolik hanya karena kita berpikir kita tak memerlukannya lagi. Selama ratusan tahun, Roh Kudus telah menyusun Misa Latin yang luar biasa indah dan semua praktik tradisional Katolik lainnya. Tetapi kemudan datang para “orang Katolik modern” yang melihat semua “ritual yang ketinggalan zaman” ini sebagai rubrik tidak penting yang diulang-ulang. Dan mereka membuangnya.
(rubrik : petunjuk resmi yang mengatur tata laksana liturgi)

Kardinal Burke Merayakan Misa Latin Tradisional / Misa Tridentin
 Mereka menyingkirkan apa yang mereka rasa “[sekadar] tambahan pada bagasi” dan mulai menyederhanakan segala sesuatu sesuai dengan hati/perasaan “orang modern”.

            Para modernis* merasa manusia itu “intelek”, “canggih” dan tidak membutuhkan agama yang muluk ini. Kalau memang butuh, seseorang bisa percaya pada Tuhan, tetapi semua kemegahan dan upacara itu tidak ada gunanya. Agar “orang-orang modern” ini bisa bebas menjadi siapa saja, [mereka berpikir] mereka juga harus bebas dari agama “zaman kegelapan” buatan manusia yang dangkal ini.

            Jadi para modernis membuang apa yang mereka anggap sebagai tambahan, seperti berlutut, bel, pemberkatan, prosesi, altar rails (tempat berlutut untuk menerima Komuni di lidah), patena, patung, dan doa dalam bahasa Latin yang panjang dalam Misa.

Paus Benediktus XVI membagikan Komuni di lidah sambil berlutut di atas rel altar / altar rail

           Mereka melihat kata-kata seperti : penyaliban, berkat, kudus, perdamaian, pengorbanan, penebusan dosa, nafsu birahi, kejahatan sebagai ekspresi sentimental ofensif dan berlebihan. Mereka melihat manusia sebagai makhluk yang terbebas dari mitos, jadi mereka turun memainkan peranan sang supranatural dan sang iblis. Karena iblis tidak berarti, mereka tidak lagi melihat adanya kebutuhan untuk pengusiran setan (eksorsisme). Bila suatu saat mereka percaya akan neraka, mereka akan sangat sulit berkata-kata tentang itu.

            Tetapi kita, umat Katolik sejati, tahu bahwa Roh Kuduslah yang telah memberikan kita semua ini untuk melindungi Yesus yang kudus, yang hidup di antara kita dalam Ekaristi Kudus dan Sakramen Maha Kudus di Gereja Katolik. Perlindungan ini terpenuhi melalui setiap detail dari ritus, sabda, dan praktik-praktik yang berharga ini.**

            Bagi para modernis muda, semua itu terlihat tak berguna. Tetapi untuk mereka yang kudus dan bijaksana, setiap tradisi yang Bunda Gereja teruskan secara hati-hati kepada kita, memiliki  maksud atau tugas yang pasti untuk mempertahankan apa yang kudus dan yang baik untuk semua umat manusia.

Satu contoh dari hal ini adalah tempat suci (sanctuary) yang dibangun tinggi dimana Kurban Kudus dalam Misa biasanya diarahkan di gereja-gereja tua. Tujuan dari sanctuary ini, adalah untuk mengingatkan kita bahwa Allah itu Kudus adanya. Allah memang secara mesra tinggal di antara kita, tetapi di saat yang sama, Dia adalah Allah yang sangat amat KUDUS dan MAHAKUASA. Kita harus mendekatinya dengan cinta, devosi (kesetiaan), dan adorasi (penyembahan).

Ketika kita “Pergi ke Altar Allah”, (Latin: Introibo ad Altare Dei), kita pergi ke tempat dimana Allah berada. Allah lalu mengangkat kita dari pengalaman keduniawian kita sehari-hari untuk memasuki Kemuliaan Surgawi. Dengan kita memberi penghormatan kepada Allah dan para kudus, kita juga menghormati satu sama lain, yang tak lain semuanya adalah anak-anak Allah juga. Ketika kita memperlakukan Allah seperti Barney, teman yang menggemaskan, kita hanya akan menjadi kita yang sama seperti sebelumnya.

Jadi, Rohkudus telah memberikan kita Tradisi Katolik untuk melindungi Sang Kudus dan untuk melindungi diri kita. Bila kita membuang apa yang kita lihat tidak berguna, seperti ayam-ayam pada cerita di atas, maka kita akan membuang juga sesuatu yang amat penting. Dan si iblis, sang kalajengking, dapat dengan mudah menyengat kita dengan racunnya. Itulah mengapa banyak sekali orang-orang sekarang berada di “Rumah Sakit Spiritual” dengan depresi dan kegelisahan. Itu membuat orang-orang bersedih dan obat anti-depresi mahal juga harganya.

Kapan kita akan belajar bahwa tradisi-tradisi tua Katolik tidaklah sebodoh yang kita pikirkan dan Roh Kuduslah yang mengembangkan Misa Latin Kudus melalui berabad-abad lamanya untuk menjaga kita aman secara spiritual (para Santo/a dan para martir pun mengikuti Misa Latin ini walaupun banyak dari mereka bahkan tidak mengerti bahasa Latin). Kita sangat beruntung bila kita menjadi orang Katolik Sejati dan memiliki ayam-ayam (Ritus-ritus Kudus) di sekitar kita untuk melindungi kita dari para kalajengking (iblis dan setan-setannya).



Karangan Romo Peter Carota


(Diterjemahkan dari www.traditionalcatholicpriest.com oleh HiFraX dengan perubahan seperlunya)

Tambahan dari Indonesian Papist:
*. Modernis adalah mereka yang menganut bidaah modernisme yang telah ditolak oleh Paus Santo Pius X dan banyak paus lainnya. Modernisme menganggap bahwa segala Dogma, Doktrin, Tradisi Katolik hanyalah merupakan “sesuatu dari masa lampau” yang “tidak relevan” dengan masa sekarang sehingga harus disingkirkan atau diubah menyesuaikan dengan masa sekarang. Situs Katolisitas menyediakan info menarik tentang modernisme ini.

**. Kardinal Malcolm Ranjith menegaskan kembali hal tersebut saat berbicara di Konvensi Hukum Kanonik di Kenya. “Liturgical law must enjoy the primacy among canonical norms, for it safeguards the most sacred realities in the Church.”“Hukum Liturgi harus mendapatkan primasi (kedudukan utama) di antara norma-norma kanonik, karena Hukum Liturgi melindungi realitas-realitas paling suci dalam Gereja.”