Langsung ke konten utama

Teologi tentang Inkarnasi : Pertukaran yang Mengherankan


Inkarnasi mempunyai unsur rangkap. Putera Allah menjadi manusia dan mengambil sesuatu dari kita, sedangkan kita menerima sesuatu dari yang ilahi. Dengan inkarnasi Allah masuk ke dalam kelompok manusiawi. Ia menjadi salah satu dari kita. Yang Tidak Terbatas menampakkan diri dalam keterbatasan tubuh manusiawi; Yang Mahakuasa memperlihatkan diri dalam kelemahan tubuh manusia; yang tidak berubah dan abadi menaklukan diri pada undang-undang mengenai tempat dan waktu dan masuk ke dalam sejarah manusia. Ia mengambil kodrat kita yang sudah bernoda dosa. (Rom 8:3)


Pada pihak lain, inkarnasi juga merupakan suatu peningkatan kodrat manusiawi, sehingga ia dapat mengambil bagian pada yang ilahi atas cara yang khusus. Kita dapat berbesar hati, bahwa Ia, Putera Allah, adalah seorang dari kita, anggota umat kita. Yang lebih penting lagi ialah bahwa Inkarnasi itu sendiri adalah titik mula penebusan kita. Tuhan berbelaskasihan terhadap manusia; Ia mengundang mereka untuk mengambil bagian dalam hal-hal ilahi. Umat manusia adalah satu kesatuan dan semua orang mempunyai hubungan yang riil antara satu dengan yang lain. Dengan demikian kita dapat melihat di dalam inkarnasi itu penyucian seluruh umat manusia. 

Kita berhadapan dengan suatu misteri yang tidak dapat dimengerti. Kita melihat pertentangan-pertentangan yang tidak mungkin didamaikan. Tuhan mempunyai kodrat manusiawi yang sebenarnya. Tuhan melakukan perbuatan manusiawi ; manusia konkrit yang dilihat dan didengar oleh orang sejamanNya, yang berbicara dan makan dengan mereka adalah Tuhan. Tuhan tetap tinggal Tuhan dan tidak berubah. Tanpa perubahan dari pihak Tuhan dan tanpa percampuran dari kedua kodrat itu, keilahian mengambil kodrat manusiawi dan mempersatukan diri dengannya.

Sumber: Aku Percaya art 3.I.1, RP. H. Embuiru, SVD.

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...