Langsung ke konten utama

Teologi Tentang Inkarnasi – Tentang Segi Badaniah Kristus


1. Badan
Kristus dengan sesungguhnya mempunyai sosok tubuh seorang manusia. Dengan demikian Ia hendak mengajar kita agar kita tidak menganggap hina yang jasmaniah. Tetapi Ia juga menerima badan supaya dapat menderita kelaparan dan kehausan, keletihan, kesakitan dan kematian. Semuanya itu telah disampaikan oleh Injil dengan bukti-bukti nyata: Ia berpuasa di padang gurun dan merasa lapar; Ia merasa haus waktu bergantung di salib; Ia meminta minum pada seorang wanita Samaria. Tetapi kelemahan kodrat kita dirasakan-Nya lebih hebat dalam kesengsaraan dan kematian-Nya. Badan-Nya tidak kebal terhadap semuanya itu. Sebaliknya, dosa dapat mengamuk terhadap-Nya, dapat menghantam-Nya dan akhirnya dapat mematikan-Nya.


Ia tidak mengenal penyakit; Injil tidak pernah memberitakan tentang salah satu penyakit yang diderita-Nya; Injil sebaliknya memberi kesan, bahwa Kristus adalah seorang pemuda yang kuat dan sehat, sehingga Ia dapat menanggung segala keletihan yang berkaitan dengan kesibukan berjalan ke sana ke mari dan dengan kesibukan berkhotbah.

2. Tampan
Kita tidak memilik foto Yesus. Juga kain pembungkus jenazah Yesus, belum dapat mengungkap wajah Yesus yang sebenarnya. Injil sendiri tidak dapat memberikan suatu gambaran yang jelas mengenai wajah Yesus secara langsung. Tetapi apabila kita memperhatikan reaksi masyarakat terhadap penampilan-Nya, maka kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa sikap-Nya, bentuk badan-Nya dan cara kerja-Nya, sungguh menarik perhatian orang banyak. Ada tertulis, bahwa Ia makin bertambah besar dan bertambah bijaksana, serta disukai oleh Allah dan manusia (Luk 2:52). Simpati dan hormat terhadap seseorang sangat banyak dipengaruhi oleh kesan-kesan lahiriah. Selama kehidupan-Nya di depan umum, kita dapat saksikan bagaimana masyarakat datang kepada-Nya, antusias terhadap-Nya dan mengikuti-Nya ke mana saja Ia pergi; para ibu datang dengan anak-anaknya agar diberkati olehNya; Ia memberkati mereka dan memeluk mereka (Mrk 10:16). Tindakan-Nya menimbulkan penghargaan dan ketakutan pada musuh-musuh-Nya; hal ini dapat dilihat pada kesempatan Ia mengusir para penjual dari dalam kenisah dan ketika orang hendak menangkapNya di Taman Getsemani; hal yang sama juga dapat dilihat ketika dulu orang hendak mendorong Dia ke dalam jurang (Luk 4:28-29). Semuanya itu mengandaikan bahwa Yesus tidak hanya mempunyai mental yang kuat, tetapi juga badan yang kuat dan kekar.

Yang paling ditonjolkan oleh para pengarang Injil ialah mata dan pandangan Yesus. Yesus melihat bahwa Petrus dan Yohanes mengikuti-Nya (Yoh 1:38). Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya (Yoh 1:47). Santo Yohanes memberitakan bagaimana Ia sebelum berdoa, menengadah ke langit (Yoh 17:1). Markus berbicara mengenai amarahNya terhadap penantang-penantang-Nya di sinagoga (Mrk 3:5) dan bagaimana Ia memandang pemuda yang kaya raya dengan sayang (Mrk 10:21). Lukas menampilkan wajah yang penuh belaskasihan terhadap Petrus yang sudah mengkhianatiNya. Yesus pun meoleh dan melihat kepada Petrus (Luk 22:61).

3. Perasaan
Sungguh berkesan sekali bahwa Yesus dalam kemanusiaanNya juga menunjukkan emosi dan segi-segi perasaanNya. Injil mengutarakan tentang perasaan persahabatan dan cintakasihNya. Injil mengutarakan tentang perasaan persahabatan dan cintakasih-Nya kepada Yohanes (murid yang dikasihi Yesus dan yang duduk dekat dengan Yesus pada waktu makan - Yoh 21:20) dan kepada Lazarus (dan Yesus menangis. Orang Yahudi berkata: Lihat, bukan main kasihNya kepada Lazarus – Yoh 11:35). Di samping itu Injil juga mengemukakan tentang kerinduanNya agar makan jamuan Paskah bersama murid-murid-Nya, kegembiraan-Nya tentang kemajuan Kerajaan Allah, kesedihanNya, ketakutanNya dan kejijikanNya terhadap sengsara amarahNya dan murkaNya, belaskasihanNya dan kelemahlembutanNya.

Sumber: Aku Percaya art 3.I.2, RP. H. Embuiru, SVD.

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...