Langsung ke konten utama

Teologi Tentang Inkarnasi - Tentang Segi Rohani Kodrat Manusiawi Kristus


Kristus memiliki jiwa manusiawi. Dengan jiwa ini, Ia sepenuhnya manusia dan dapat berdiam di antara kita. Dengan jiwa ini, Ia adalah perantara dan penebus kita, karena dengan kesengsaraan manusiawiNya, Ia dapat menghapus dosa kita dan menebus kita. Tiap jiwa adalah sesuatu yang mengherankan. Jiwa adalah karya kesenian di tangan Tuhan. Bertemu, berkenalan dan mencintai jiwa yang agung dan murni adalah suatu kebahagiaan besar. Jiwa yang demikian dapat mengangkat kita kepada Tuhan, dapat membuat kita lebih memuja Tuhan dan mencintai Tuhan. Tetapi tidak ada satu jiwa yang lebih indah, lebih sempurna, lebih agung daripada jiwa Kristus.
1. Rahmat yang ada di dalam Kristus
Keindahan jiwa Yesus jauh melebihi segala yang lain. jiwaNya penuh dengan rahmat. Memang, sebagai Tuhan, Kristus adalah sumber segala rahmat. Namun, Ia telah mengambil kodrat manusiawi dan segala sesuatu yang ada padaNya, di luar apa yang dapat diperolehNya sesuai dengan kodratNya dan sesuai dengan kegiatan kemampuanNya, adalah rahmat.

I. Rahmat Persatuan
Apabila kita meneliti jiwa Yesus, maka kita dapat menemukan di sana: kebajikan dan kekudusan yang khas, pengetahuan yang sempurna mengenai Tuhan, kekuasaan untuk membuat mukjizat. Semuanya itu adalah pemberian rahmat. Tetapi ini bukan yang terpenting. Yang paling fundamental adalah ialah: persatuan kodrat manusiawi dengan Sabda Ilahi sejak saat pertama kehadiranNya. Ini adalah rahmat yang paling mengherankan dan paling mulia.

II. Rahmat Pengudus
Di samping rahmat persatuan, Kristus pun memiliki rahmat pengudus. jiwaNya tidak hanya suci oleh persatuan pribadi dengan Sabda Ilahi, tetapi jiwa itu juga dipenuhi dengan rahmat, yang membuatnya indah dan berkenan di mata Tuhan. Itulah yang kita namakan rahmat pengudus.

III. Penuh Rahmat
Tidak mungkin bagi kita membentuk suatu gambaran mengenai kepenuhan rahmat yang ada pada Kristus, mengenai kekayaan kebajikan yang Ia miliki, mengenai intensitas cintaNya kepada Bapa dan kepada manusia. Melalui Injil, kita dapat mengetahui perbuatan dan perkataanNya; tetapi kita tidak melihat pandangan mataNya dan tidak mendengar suaraNya. Kita hanya dapat mendekati kekayaan sebenarnya dan atas cara yang abstrak kita mengatakan bahwa Ia memiliki kepenuhan rahmat.
Kristus memiliki kepenuhan ini demi kita, karena Ia adalah Kepala dari semua orang yang mengambil bagian dalam rahmatNya. Karena dari kepenuhanNya, kita telah menerima rahmat dem rahmat (Yoh 1:16). Memang rahmat persatuan dalam arti kata yang sebenarnya hanya ada pada Dia. Hanya Ia-lah Allah dan manusia, hanya Ia-lah Putera Allah. Tetapi karena kita bersatu dengan dengan Dia, maka kita menjadi anak angkat Allah dan berkenan kepada Allah, karena Bapa mengenal wajah PuteraNya yang tercinta di dalam kita. Allah sudah menentukan terlebih dahulu bahwa melalui Yesus Kristus, IA akan mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya sendiri. Dan memang itulah yang Ia ingin lakukan. Terpujilah Allah karena kebaikan hatiNya yang agung itu yang dinyatakanNya kepada kita dengan berlimpah melalui AnakNya yang tercinta (Ef 1:5-6).

2. Tentang Kesibukan Jiwa
Kalau kita hendak mengenal seseorang, kita harus coba masuk ke dalam pikiran dan maksud yang hidup di dalam jiwanya. Jadi apabila kita hendak mempelajari Kristus, kita harus bertanya tentang apa yang menjadi pusat pikiran dan kehendak-Nya.

I. Pandangan Tuhan
Pikiran manusiawi Yesus sangat sibuk dengan Bapa-Nya. Pikiran-Nya selalu diarahkan kepada Bapa dan di dalam Bapa, Ia melihat segala-galanya, berkali-kali Ia memberikan kesaksian tentang hubungan-Nya dengan Bapa. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah (Yoh 1:18). Hanya putera tunggal Allah yang telah menjadi manusia dapat memberikan kesaksian berdasaran pengalaman langsung. Saya berbicara tentang apa yang saya lihat pada Bapa (yang telah menjadi manusia dapat memberikan kesaksian berdasaran pengalaman langsung. Saya berbicara tentang apa yang saya lihat pada Bapa (Yoh 8:38). Karena Bapa menunjukkan kepada Anak-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri. (Yoh 5:20).
Kristus selalu melihat Bapa-Nya. Waktu Ia berjalan keliling, waktu Ia berbicara, waktu Ia berkhotbah, selalu Ia melihat Bapa. Yang tidak pernah meninggalkan Dia.

II. Pengalaman Manusiawi
Walaupun Yesus melihat segala-galanya di dalam Tuhan, namun Ia juga mempunyai pengetahuan manusiawi. Dari Injil dapat kita ketahui bagaimana Ia memberi reaksi sebagai manusia biasa terhadap segala sesuatu yang Ia lihat dan yang Ia dengar. Dalam perumpamaan-Nya, Ia selalu mempergunakan hal-hal yang kelihatan sehari-hari. Ia mengenal hal-hal itu melalui pengalaman manusiawi-Nya: bunga bakung, burung, dian, drama, ragi; apa yang berkaitan dengan pertanian, perikananm, peternakan. Di samping itu juga kanisah, kebaktian, kebiasaan orang Farisi, hubungan partai, situasi politik. Ia mengetahui semuanya itu karena ke-Allahan-Nya, namun pengalaman pribadi pun tidak asing bagi-Nya dan tidak berlebihan. Hanya dengan demikian Ia menunjukkan kemanusiaan-Nya yang sebenarnya dan dapat bergaul dengan sesama-nya atas cara yang lumrah bagi pergaulan masyarakat.

III. Kehendak manusiawi
Kehendak-Nya bergantung sepenuhnya pada Bapa. Bapa memenuhi seluruh pikiran-Nya; melakukan kehendak Bapa adalah tujuan dasar daripada seluruh perhatian-Nya. Di luar kehendak Bapa-Nya, tidak ada suatu apa pun, baik di dunia maupun di surga, yang dapat menggoda-Nya.
Kehendak manusiawi Kristus bersifat murni dan tidak dapat berdosa. Kebajikan kita goyah dan kehendak kita berubah. Kehendak Kristus selalu bersatu dengan kehendak Bapa dan tidak dapat berpaling dari kehendak itu oleh dosa. Kehendak-Nya selalu diarahkan dengan bebas dan spontan kepada Bapa, dan segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Bapa tidak mendapat perhatian-Nya sama sekali.

Sumber: Aku Percaya art 3.I.3, RP. H. Embuiru, SVD.

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...