Minggu, 07 Oktober 2012

Info Post


Sebuah Injil yang Sulit dan Kontroversial

Hari minggu ini kita mendapati sebuah Injil yang sulit dan kontroversial. Yesus menyatakan keutuhan seumur hidup perkawinan. Dia menyatakan itu dengan bahasa yang mungkin membuat kita tersentak, “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.” Kata-kata ini mengecewakan para pendengar Kristus dan kata-kata itu juga mengecewakan orang-orang sekarang.

Sebelum berbicara mengenai pengajaran Yesus tentang pernikahan, saya akan melakukan kilas balik dan mempertimbangkan konteksnya. Pengajaran dramatis ini mengalir dari apa yang Yesus telah katakan kepada kita beberapa minggu terakhir:


Pertama, Yesus memberitahukan penderitaan, kematian dan kebangkitannya, lalu Ia memberitahu kita bahwa setiap orang harus memikul salibnya sendiri dan mengikuti-Nya. Petrus mencoba untuk menghalangi Yesus dan Yesus berkata “Enyahlah kau Iblis.” Para Rasul lain juga salah memahami Kristus. Mereka mulai berdebat mengenai siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus lalu menempatkan seorang anak kecil di depan mereka dan memberitahu mereka bahwa mereka harus menjadi seperti anak kecil.

Tidak ada anak kecil yang mengklaim kemandiriannya. Anak kecil selalu menjadi milik seseorang, normalnya orang tuanya atau seseorang yang mewakili orang tuanya. Karena alasan itu kita memiliki sebuah perintah yang berkata, “Hormatilah Ibu-Bapamu!”. Bagi seorang manusia muda, pribadi yang terpenting hendaknya adalah ayah dan ibunya.

Pernikahan, bagaimanapun juga, mengubah hal tersebut. Yesus mengutip kitab Kejadian: “Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.” (Mrk 10:6-8)

Ketika seorang menikah, istrinya mendapatkan tempat pertama. Tidak semua orang memahami ini. Saya mengenal seorang pria yang istrinya mempersiapkan sebuah jamuan makan spesial baginya. “Rasanya Ok”, dia berkata, “tetapi ibu saya bisa membuat yang lebih baik.” Pria itu belum meninggalkan ibunya. Sekarang, kita memang harus tetap menghormati ibu dan ayah. Tetapi, ketika seorang pria menikah, ia tidak lagi menjadi milik orang tuanya. Ia menjadi milik istrinya. Dan istrinya menjadi milik dia. Keduanya menjadi satu daging. *

Keduanya menjadi satu daging karena Allah menciptakan kita laki-laki dan perempuan. Seperti yang Beato Yohanes Paulus II jelaskan, tubuh kita memiliki sebuah bahasa. Bentuk tubuh kita sebagai pria dan wanita berbicara mengenai pemberian diri dan penerimaan. Menjadi satu daging begitu nyata bahwa hal itu dapat menghasilkan penciptaan seorang pribadi manusia yang baru.

Dalam pernikahan, pria dan wanita sepenuhnya menjadi milik pasangannya masing-masing. Menghidupi realitas ini adalah sulit. Saya pernah memberitahu anda mengenai seorang wanita yang berkata, “Bapa, saya ingin menjadi seorang istri yang rendah hati, tetapi hal ini sulit karena suami saya selalu salah dan saya selalu benar.”

 “Saya tahu,” kata saya, “tetapi tetaplah mencoba menjadi seorang istri yang rendah hati.”

Dan tidaklah mudah bagi seorang suami untuk mempraktekkan kerendahan hati Kristus. Kristus memberikan diri-Nya sendiri sepenuhnya kepada mempelai-Nya, Gereja. Kristus melakukan hal itu sampai titik darah terakhir-Nya. Demikian juga seorang suami harus memberikan hidupnya untuk melindungi, membela dan menjaga istrinya dan keluarganya.

Banyak orang berkata sekarang ini bahwa pernikahan telah berakhir. Orang-orang muda lebih memilih untuk tinggal bersama saja dan ketika mereka menikah, pernikahan tersebut terlihat sangat rapuh. Dan, seiring dengan hal itu, sejumlah orang yang semakin banyak menginginkan untuk mendefinisikan ulang pernikahan sehingga pernikahan tidak lagi mensyaratkan pria dan wanita, tetapi setiap dua orang dewasa (entah berbeda jenis atau sejenis) yang memiliki ketertarikan bersama dan kuat.

Haruskah kita hanya mengibarkan bendera putih, mengakui kekalahan dan memfokuskan energi kita di tempat lain?? Hal ini sulit, tetapi kita perlu melihat pada teladan Yesus. Pernikahan sungguh berada dalam bentuk yang buruk pada masa Yesus. Seperti yang kita dengar, Musa mengizinkan seorang pria untuk menceraikan istrinya. Dan di Kekaisaran Romawi, pernikahan berada dalam kemunduran. Kaisar Agustus mencoba untuk memperkuat pernikahan tradisional, tetapi hanya memberikan efek kecil.

Tetapi Yesus tidak menyerah pada keputusasaan. Ia melihat melampaui masalah mendesak tersebut dan kembali ke masa permulaan. Pemilihan Umum adalah penting tetapi kita tidak akan memenangkan pertempuran ini pada polling booth. Peperangan Rohani – seperti yang kita lihat minggu lalu – sedang berlangsung di dalam hati manusia. Secara khusus di dalam hati orang-orang muda kita – dan jika saya dapat berbicara blak-blakan – di dalam hati para pemuda kita.

Mengapa para pemuda menghabiskan begitu banyak waktu bermain video game? Yang pasti, video game itu menghibur, tetapi video game juga dapat menarik ke pada sesuatu yang lain (selama tidak berlebihan), yaitu insting pemuda untuk berangkat ke medan pertempuran, bertarung dan melindungi. Allah menempatkan insting itu di dalam seorang pemuda untuk melindungi dan menjaga istri dan anak-anaknya.

Yesus berkata, “Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Ini adalah sebuah pengajaran yang sulit dan menantang. Hal ini memerlukan keberanian dan kerendahan hati, tetapi memberi nilai kepada pengorbanan apapun. Taruhannya tidak bisa lebih tinggi lagi: seperti yang Yesus katakan, Kerajaan Allah. Amin.


*. Hal ini pernah pula dijelaskan oleh Pater Frank Mihalic, SVD. “Seandainya kamu menikah, kemudian kamu dan istrimu serta ibu kamu sedang naik perahu. Perahu terbalik sedangkan baik ibu maupun istri kamu tidak bisa berenang. Kamu hanya bisa menyelamatkan satu orang saja. Menurut teologi moral (Katolik) siapa yang harus kamu selamatkan? Istri kamu. Sebab hidupnya tergantung pada kamu; kamu menikahinya. Dia menjadi bagian dari hidup kamu. Setelah kamu menikah maka semua kewajiban kamu berpindah dari ibu kepada istri.”

Pater Phil Bloom adalah Pastor Paroki St. Mary of the Valley, Monroe
Homili di atas diterjemahkan dari situs resmi paroki tersebut.
Pax et Bonum