Langsung ke konten utama

Sekali lagi tentang Patung

Credit: valokuvaus/istock.com
Banyak persekutuan gerejawi pentakostal atau karismatik menghabiskan cukup banyak uang untuk mengadakan alat-alat musik bagi keperluan ibadat mereka. Dalam kebaktiannya, umat pentakostal atau karismatik tersebut bernyanyi dengan tangan di atas, terkadang lompat-lompat, tidak jarang pula berlutut sambil bernyanyi. Jika kita berkata “kamu menyembah musik yang berada di depanmu”, umumnya mereka akan menjawab “tidak, kami menyembah-Nya melalui musik.”

Musik adalah sebuah sarana atau instrumen ekspresi perasaan mendalam kita untuk menghormati dan memuliakan Allah. Gereja Katolik pun tidak mengabaikan musik dalam Perayaan Ekaristi tetapi tentunya Gereja Katolik punya aturan resmi terkait musik di dalam Perayaan Ekaristi.
Keindahan seni Patung (3 Dimensi) seperti yang kerap digunakan oleh Gereja Katolik Roma dan Ikon/Gambar (2 Dimensi) yang kerap digunakan oleh Katolik Timur juga digunakan dengan tujuan yang sama seperti umat pentakostal atau karismatik ketika mereka menggunakan musik di mana musik sendiri adalah seni. Gereja Katolik tidak menyembah seni itu sendiri seperti yang dilukiskan dalam Mazmur 97:7
“Semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu, orang yang memegahkan diri karena berhala-berhala; segala allah sujud menyembah kepada-Nya.” (Mzm 97:7)
Konsili Vatikan II, Dokumen Sacrosanctum Concillium (Konstitusi Dogmatis tentang Liturgi Suci), art 122 memberikan kita pengajaran mengenai martabat kesenian religius.
122. (Martabat kesenian relegius)
Pada budidaya rohani manusia yang paling luhur sangat wajarlah digolongkan seni indah, terutama kesenian religius beserta puncaknya, yakni kesenian Liturgi. Pada hakekatnya lkesenian Liturgi itu dimaksudkan untuk dengan cara yang tak terperikan dalam karya manusia. Lagi pula semakin dikhususkan bagi Allah dan untuk memajukan puji-syukur serta kemuliaan-Nya, karena tiada tujuannya yang lain kecuali untuk dengan buah-hasilnya membantu manusia sedapat mungkin mengangkat hatinya kepada Allah.
Segala sesuatu dapat menjadi berhala jikalau kita menyembahnya sebagai allah atau sesuatu tersebut menjauhkan kita dari Allah. Tidak jarang kita melihat bahwa umat Katolik jajan ke kebaktian suatu persekutuan gereja lain karena menganggap perayaan Ekaristi Katolik terlalu monoton, tidak semarak, tidak ramai dan sebagainya. Tanpa disadari, mereka sesungguhnya menjadikan ego mereka sebagai berhala yang menjauhkan mereka  dari Kristus yang hadir secara nyata dalam rupa roti dan anggur yang telah dikonsekrasi. Terkadang pula alasan mereka adalah mencari musik yang semarak, bukankah ini berarti musik juga adalah berhala karena menjauhkan mereka dari Kristus dalam Perayaan Ekaristi?

Patung dan ikon dapat mengingatkan kita akan keindahan Tuhan dan menggemakan kembali penderitaan-Nya supaya kita menyadari bahwa kita dikasihi Allah. Musik pun melalui liriknya dapat memberikan hal yang sama dengan yang diberikan patung atau ikon. 

Patung dan ikon juga dapat menjadi sarana efektif untuk mengajarkan ajaran Iman Katolik. Pada 1600 tahun pertama kekristenan, banyak orang tidak dapat menulis atau membaca. Setiap patung, jendela stained glass dan ikon pada masa pertengahan mengisahkan sebuah cerita. Dengan melihat patung, ikon atau stained glass tersebut, umat Katolik dapat mengetahui dan memahami berbagai kisah iman dan ajaran iman itu sendiri. Jadi, patung dan ikon di samping indah juga berfungsi dalam evangelisasi. Dalam homili, Imam dapat menunjuk pada patung atau ikon tersebut untuk membantunya menyampaikan isi homili. Patung, stained glass atau ikon bagi banyak orang-orang yang tidak dapat membaca dan menulis merupakan alat pengajaran dan pengingat. Kita lihat gambar Santo Petrus ini.


Mengapa kita bisa mengetahui bahwa gambar ini adalah gambar St. Petrus? Ada banyak penanda yang membuat kita mengetahui bahwa gambar ini adalah gambar St. Petrus.

1. Kunci, menggambarkan ayat Mat 16:19 “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.”
2. Salib terbalik, menggambarkan bahwa St. Petrus menjadi martir dengan disalib terbalik.
3. Rantai, melambangkan pengikatan / hilangnya kebebasan. 
Yoh 21:18 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
4. Kursi, menggambarkan Kursi Musa di mana kursi Musa itu sendiri berarti otoritas untuk mengajar. Dalam Yoh 21:15-18, kita lihat bahwa St. Petrus menjadi orang yang diserahi otoritas mengajar (menggembalakan) oleh Kristus sendiri.  
Mat 23:2-3 “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”
Dan masih banyak lagi sebenarnya pengajaran yang dapat digali dari satu gambar ini. Contoh lain kita bisa lihat pada patung Santo-santa. Setiap santo/a memiliki simbol masing-masing, misalnya Santo Antonius Padua yang disimbolkan dengan seorang kudus yang menggendong kanak-kanak Yesus. Melalui patung dan gambar, orang tua Katolik dapat meneruskan kisah santo-santa yang ada kepada anak-anaknya sekalipun mereka belum bisa membaca.

Satu hal yang perlu kita ketahui, kita umat Katolik menyembah Yesus Kristus dengan seluruh panca indera kita melalui karya-karya seni yang ada.

1. Musik bagi indera pendengaran,
2. Pedupaan bagi indera penciuman,
3. Patung, ikon, dan stained glass bagi indera penglihatan.
4. Patung juga bagi indera perasa.
5. Dan cara yang paling menakjubkan kita menyembah Dia adalah melalui indera pencecap dalam Komuni Kudus. “Kecaplah betapa sedapnya Tuhan.”

Pax et Bonum

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...