Minggu, 25 Desember 2011

Kelahiran Yesus Kristus


Segala keresahan dan kebimbangan Santo Yosef berakhir dengan perintah dari malaikat untuk menerima Maria di dalam rumahnya. Yosef taat dan ia mengambil Maria sebagai isterinya. (Mat 1:24). Maria hidup di Nazaret di rumah Ypsef sambil menantikan kelahiran Anaknya.

Nabi Mikha bernubuat bahwa Sang Penebus akan dilahirkan di Betlehem. Pada waktu itu kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang diadakan pertama kali sewaktu Kireneus menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem – karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud – supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, yang sedang mengandung. (Luk 2:1-5)
Di dalam perintah penguasa politik ini, Maria dan Yusuf melihat kehendak Tuhan. Mereka pergi ke kota Daud, di mana Putera Daud akan dilahirkan, sehingga terpenuhilah nubuat Nabi Mikha. Kita tidak tahu dengan jelas kapan perjalanan itu dilaksanakan. Kita hanya mendapat kesan bahwa Yesus tidak dilahirkan segera sesudah mereka tiba di Betlehem.

Ketika mereka di situ, tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang tunggal dan sulung. Lalu Anak itu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan/ (Luk 2:6-7)

Sudah layak bahwa kita menyembah Bapa penuh cintakasih yang menganugerahkan kepada kita Putera-Nya; bahwa kita memuja Sabda Allah yang walaupun setara dan sehakikat dengan Bapa namun di sini kelihatan dalam bentuk tubuh seorang bayi; bahwa kita berterimakasih kepada Roh Kudus karena kekuatan-Nya, rahasia ini dapat terlaksana. Maria dan Yosef merasa sangat bahagia pada saat tersebut, walaupun mereka sangat menyesalkan bahwa mereka tidak dapat memberikan suatu penerimaan yang lebih layak kepada Sang Penebus. Mereka membaringkan Dia di dalam palungan karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Mereka sangat miskin. Putera Allah mengabaikan segala kekayaan duniawi dan mau dilahirkan di suatu tempat yang sangat miskin. Pencipta dunia tinggal di sebuah kandang, berbaring di sebuah palungan dan dunia tidak mengetahuinya.


Berita Kelahiran


Waktu telah tiba, Penebus telah lahir dan tidak ada seorang yang mengetahuinya, kecuali dua jiwa sederhana dan murni. Bukan kewajiban Maria dan Yosef untuk menyiarkan berita kelahiran ini. Allah sendiri harus menanganinya. Hanya jiwa-jiwa sederhana dapat mengetahui sedikit dari rahasia ini.

GEMBALA. Para Gembala yang berada di sekitar Betlehem dengan kawanan dombanya, menerima berita tentang kelahiran Yesus. Mereka orang sederhana, tanpa kebudayaan tinggi namun hatinya bersih. Injil menggambarkan reaksi mereka terhadap kejadian adikodrati yang mereka hadapi. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. (Luk 2:9). Karena itu, malaikat harus menenteramkan mereka dengan berkata: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Luk 2:10-12).

Setelah berita ini disampaikan, surga seakan-akan tidak dapat menahan lagi kegembiraannya: Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." (Luk 2:13-14). Malaikat-malaikat lalu pergi meninggalkan mereka. Keadaan di sekitarnya menjadi gelap lagi. Tetapi di dalam hati para gembala berkobarlah kepercayaan: Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita. (Luk 2:15).

Tanda-tanda pengenal menunjukkan pertentangan yang perlu dicatat pula: Anak itu berbaring di sebuah palungan, jadi Ia berada di dalam suatu suasana yang tidak layak bagi seorang manusia; tetapi kemiskinan itu tidak berarti suatu ketelantaran karena Anak itu mendapat perawatan yang cukup. Ia dibungkus dengan lampin. Para gembala menemukan apa yang mereka cari; kemungkinan dengan bantuan masyarakat di sekitar itu. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. (Luk 2:17). Maria dan Yosef merasa sangat terhibur dan gembira dengan kunjungan para gembala dan dengan ceritera mengenai pemberitaan surgawi. Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. (Luk 2:19)

TIGA RAJA.  Antara kunjungan Para gembala (mewakili orang-orang Yahudi) dan kunjungan tiga raja dari sebelah timur (mewakili orang-orang kafir), terletak suatu jangka waktu yang agak lama. Istilah Majus yang dipergunakan dewasa itu menunjukkan imam-imam Persia. Setidak-tidaknya mereka datang dari jauh karena nyatanya mereka tidak mengerti tentang keadaan di Yerusalem. Masyarakat Persia juga tahu bahwa bangsa Yahudi sedang menantikan seorang Mesias. Mungkin sekali para raja ini mengetahui juga nubuat Bileam (Bilangan 24). Di sana dibicarakan tentang sebuah bintang yang dikaitkan dengan kedatangan Penebus. “ ... bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel ... “. (Bil 24:17)

Penampakan bintang yang tidak dikenal itu membuat mereka yakin bahwa di Israel telah lahir seorang raja baru. Tetapi rahmat Tuhan pun turut bekerja pula. Di dalam bintang itu mereka memandang suatu tanda ilahi dan mereka percaya bahwa janji-janji ilahi akan terpenuhi. Kepercayaan itu mendorong mereka untuk menerima segala konsekuensi. Mereka lalu berangkat untuk menyembah Dia. Para Majus berjalan menuju ibu kota Israel untuk menemukan Anak Raja yang terpilih itu. Mereka  bertanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." (Mat 2:2). Reaksi yang pertama ialah keheranan dan kebingungan: Bagaimana reaksi Herodes? Masyarakat tahu siapa sebenarnya Herodes? Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. (Mat 2:3). Herodes melihat bahaya suatu pemberontakan. Oleh karena itu ia segera menanyakan kepada Sanhedrin yang berwibawa. Sanhedrin menunjukkan Betlehem sebagai tempat lahir Mesias. Herodes lalu bermunafik kepada tiga raja itu: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia." (Mat 2:8). Dengan perasaan kecewa, para raja itu meninggalkan Yerusalem, kota yang berbau politik duniawi. Bintang yang mereka lihat di Timur mendahului mereka dan mereka sangat bersukacita. (Mat 2:9-10). Segala kepahitan hilang lenyap dari mereka. Mereka makin yakin bahwa yang mereka rindukan bukanlah suatu khayalan. Biarlah seluruh Yerusalem tidak mau percaya tetapi mereka tetap mengikuti jalan Tuhan dengan penuh kepercayaan.

Para Majus mencapai tujuan perjalanannya dengan bimbingan sebuah bintang. Mereka melihat Anak itu. (bdk Mat 2:11). Injil mengatakan bahwa mereka masuk ke dalam rumah. Apakah Maria dan Yosef tidak tinggal lagi di dalam kandang? Bisa jadi. Tetapi ada juga kemungkinan lain, yaitu bahwa mereka (terutama Yosef adalah seorang tukang kayu) telah memperbaiki kandang itu di sana sini sehingga sudah kelihatan sebagai “rumah”.

Mereka lalu sujud menyembah Dia. (bdk Mat 2:11). Mereka membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya yaitu emas, kemenyan dan mur. (Mat 2:11). Untuk menghadap seorang yang tinggi martabatnya, orang tidak boleh datang dengan tangan hampa. Penghormatan harus dinyatakan dalam pemberian harta benda. Mereka persembahkan barang-barang yang layak bagi seorang Raja. Tradisi Kristen melihat lambang tertentu dalam persembahan ini: emas adalah ke-raja-an Kristus, kemenyan adalah ke-Allahan-Nya dan mur adalah kemanusiaan-Nya; atau juga emas sebagai lambang cinta, kemenyan lambang doa dan mur lambang matiraga. Para Majus merasa sangat puas karena persembahannya diterima. Kita tidak tahu berapa lama mereka tinggal di sana. Yang kita tahu hanyalah bahwa karena mereka diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka mereka pulang ke negerinya melalui jalan lain. (Mat 2:12).


oleh Pater Herman Embruiru, SVD dalam bukunya berjudul "Aku Percaya" hlmn 134-136.

Pax et Bonum