Langsung ke konten utama

Gereja Katolik Timur - Gereja Katolik Armenia

Kerajaan Armenia Kunoo dulunya mencakup wilayah Turki bagian Timur dan wilayah perbatasan antara Uni Sovyet dan Iran. Tanah Armenia Kuno ini memiliki asal-usul kristianitas dari penginjilan yang dilakukan oleh St. Bartolomeus dan St. Yudas Tadeus. Secara aktual, Gereja Katolik di Armenia berdiri secara resmi dan memiliki hierarki pada abad keempat diawali oleh aktivitas misioner St. Gregorius Sang Pencerah (Sang Illuminator), Rasul Armenia. Oleh karena rahmat Allah, St. Gregorius membawa Raja Tiridates (Trdat) III dari Armenia ke dalam pangkuan Gereja. Sang Raja kemudian memproklamirkan Kristianitas sebagai agama resmi negara pada tahun 301 AD. Hal ini terjadi 12 tahun sebelum Kaisar Konstantinus Agung mengeluarkan Edict Milan yang memberikan toleransi beragama bbagi umat Kristen di Kekaisaran Romawi. St. Gregorius Sang Illuminator ppunn ditunjuk sebagai Katolikos (Titel Kepala Gereja Armenia) pertama dari Gereja Armenia. Armenia menjadi negara kerajaan pertamaa yang mendeklarasikan Kristianitas sebagai agama resminya.

Sebuah katedral kemudian didirikan di Etchmiadzin yang sekarang menjadi pusat dari Gereja Apostolik Armenia (berbeda dari Katolik Armenia). Biarawan St. Mesrob Mashtots menemukan abjad Armenian sekitar tahun 406 yang menjadi faktor pendukung uuntuk menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Armenia.

Uskup-uskup Armenia pada tahun 451 M tidak menghadiri Konsili Kalsedon yang diselenggarakan untuk mengatasi bidaah Monofisitisme. Hal ini terjadi karena di Armenia sedang bergejolak perang penting, Perang Avarayr, di mana Kerajaan Armenia berusaha mengatasi invasi Kerajaan Persia. Namun, pada tahun 506, Uskup-uskup Armenia kemudian angkat suara dan secara resmi menolak Konsili Kalsedon (451) dan lebih memilih mempertahankan bidaah monofisitisme. Dengan demikian lahirlah Gereja Apostolik Armenia yang mmasih eksis hingga sekarang.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f7/Cilician_Armenia-en.svg/1280px-Cilician_Armenia-en.svg.png
Peta Kerajaan Cilicia

Lama menjadi buffer state antara dua kekaisaran yang berseteru, Romawi dan Persia, serta mengalamai aneksasi dari Bizantium dan invasi Turki Seljuk, Kerajaan Armenia Kuno hancur pada tahun abad ke-11. Banyak orang Armenia kemudian melarikan diri ke Cilicia (Asia Minor tengah selatan) di mana Kerajaan Cilicia, Kerajaan Armenia yang baru, berdiri. Di sinilah orang-orang Armenia memiliki interaksi lebih banyak dengan Para Prajurit Salib Gereja Katolik Latin. Melalui interaksi ini, Gereja Armenia di Kerajaan Cilicia bersatu kembali dengan Gereja Katolik sejak tahun 1198 hingga tahun 1375 dimana Kerajaan Cilicia runtuh. Invasi Bangsa Turki Mameluk dari Mesir mengakhiri kerajaan ini. Sekali waktu, Gereja Armenia bersatu kembali dalam waktu singkat pada saat Konsili Florence 1439, tetapi kemudian terpisahkan lagi.

Sekitar tahun 1461, ketika orang-orang Armenia berada di bawah rezim baru, Turki Ottoman, Kepatriarkan Armenia di Konstantinopel didirikan dengan wilayah yurisdiksi yang sama dengan yang dimiliki oleh Kepatriarkan Yunani Konstantinopel. Pada masa itu, seturut persepsi teologis orang Turki mengenai negara, Bangsa Turki Ottoman mengklasifikasikan non-Muslim di wilayahnya berdasarkan keanggotaan klerikal (pemimpin agama mereka). Bangsa Yunani mencakup semua orang Kristen yang menjadi anggota ritus Yunani seperti orang Bulgaria, Serbia, Rumania, Ortodoks Albania, bahkan orang Arab Suriah dan juga kaum Hellen-Yunani. Patriark Yunani Konstantinopel hanya memiliki yurisdiksi di wilayah patriarkat-nya, yang berarti hanya di Thrace dan Anatolia. Patriark Yunani Konstantinopel sekaligus juga menjadi pemimpin politis dari seluruh umat Kristen Yunani.

Orang-orang Armenia yang memegang kewarganegaraan Turki, entah itu anggota Gereja Apostolik Armenia atau Gereja Katolik Armenia, tunduk dan berada di bawah otoritas gerejawi yang sama yaitu Patriark Armenia Konstantinopel. Sama seperti Patriark Yunani Konstantinopel, Patriark Armenia Konstantinopel ini juga sekaligus menjadi pemimpin politis bagi orang-orang Kristen Armenia.

Hal ini mengakibatkan umat Katolik Armenia tidak bisa membentuk Gereja mereka sendiri. Mereka pun dilarang memiliki otoritas gerejawi yang terpisah dari Kepatriarkan Armenia Konstantinopel. Mereka beribadah di gereja-gereja milik Kepatriarkan Armenia Konstantinopel serta dibaptis, dinikahkan, dimakamkan dan mencari keadilan di sana.

Di Kesultanan Turki Ottoman, terdapat juga sejumlah umat Katolik Latin dari Eropa yang tinggal di Konstantinopel jauh sebelum Turki Ottoman menginvasinya. Berdasarkan Kapitulasi tahun 1535 dan kehadiran duta besar orang-orang Eropa di Konstantinopel, umat Katolik Latin memiliki hak kebebasan beragama dan mereka memiliki gedung gereja dan hierarkinya sendiri. Jadi, ada dua kelompok Gereja Katolik hidup di wilayah Turki Ottoman. Yang satu mengalami penganiayaan, terpenjara dan terasingkan (Gereja-gereja Timur termasuk Katolik Armenia) dan yang satu dapat menghidupi iman Katolik mereka secara bebas.

Di luar yurisdiksi Patriark Armenia Konstantinopel, terdapat juga umat Katolik Armenia di Mardin, Aleppo, Yerusalem, Ispahan, Baghdad, Nakhitchévan, Semenanjung Crimea, Polandia, Transylvania, dan Italia. Beberapa hadir dalam jumlah banyak, dan yang lain dalam jumlah sedikit. Mereka tunduk pada pemimpin Armenia atau non-Armenia tempat mereka berada. Mereka adalah umat Katolik Armenia tanpa hierarki gerejawi.

Seiring waktu, terjadi perselisihan di antara umat Gereja Armenia, terutama di Konstantinopel. Umat Katolik Armenia ingin memiliki hierarki gerejawi mereka sendiri terdorong oleh keinginan akan kebebasan beragama dan penghentian penindasan terhadap hati nurani mereka. Sementara umat Gereja Armenia lain memilih mempertahankan status quo yang ada pada masa itu.

Sidang pertama kemerdekaan umat Katolik Armenia terjadi di ibu kota kesultanan pada tahun 1714 di bawah pengawasan Sultan Turki dan Patriark Armenia Konstantinopel. Sidang ini berakhir dengan hukuman penjara dan pengasingan terhadap para peserta. Di antara para tahanan penjara ini, terdapat Uskup Melkon Tazbazian yang dipilih menjadi Patriark Katolik Armenia (tetapi belum diratifikasi oleh Paus Roma) dan Uskup Abraham Ardzivian dari Allepo.
http://www.armeniancatholic.org/images/en/2/3/1/ardzivian.jpg
Catholicos Patriarch Abraham Bedros I Ardzivian (sumber: armeniancatholic.org)
Sidang kedua kemerdekaan dilaksanakan di Allepo, jauh dari ibu kota, pada tahun 1740. Abraham Ardzivian yang telah bebas kemudian diangkat sebagai Patriark Katolik Armenia dengan nama regnal Patriark Abraham Bedros I Ardzivian. Paus Benediktus XIV meratifikasi pengangkatan ini dan memberinya misi untuk menyatukan kembali umat Katolik Armenia yang tersebar di seluruh dunia di bawah otoritasnya. Rencananya sangat jelas tetapi realisasinya begitu lama. Dalam menjalankan rencananya, Patriark Ardzivian menghadapi banyak halangan. Kepatriarkan Katolik Armenia yang terbentuk tidak diakui oleh Kesultanan Turki Ottoman dan dianggap pengingkaran terhadap hukum di sana. Patriark Ardzivian pun dikejar-kejar karena ia dianggap melakukan kejahatan kriminal oleh pemerintah kesultanan. Melihat karang penghalang besar di Konstantinopel, Patriark Ardzivian membangun tahta kepatriarkannya di Beirut, Libanon, yang relatif lebih aman. Halangan kedua adalah para pemimpin Katolik Armenia dan Katolik Latin sebelum dia yang merasa keberatan untuk bertanggungjawab pada otoritas baru ini. Menghadapi hal ini, Tahta Suci pertama-tama lebih memilih membiarkan umat Katolik Armenia di Konstantinopel tetap berada di bawah otoritas Uskup Agung Latin sampai kemudian Keuskupan Katolik Armenia di sana terbentuk dan umat Katolik Armenia yang lain berada di bawah otoritas Patriark Ardzivian di Bzommar (Libanon). Dengan demikian, umat Katolik Armenia memiliki dua pusat otoritas: Konstantinopel dan Bzommar yang akhirnya disatukan pada tahun 1866. Gereja Katolik Armenia pernah mengalami masa kelam ketika Turki melakukan genosida terhadap etnis Armenia (1915-1916) yang mengakibatkan sebagian besar umat Katolik Armenia kehilangan nyawanya.
http://www.armeniancatholic.org/images/en/2/1/patriarche.jpg
Catholicos Patriarch Nerses Bedros XIX Tamouni (sumber: armeniancatholic.org)
Gereja Katolik Armenia sekarang ini memiliki umat berjumlah 593,459 jiwa, dengan yurisdiksi gerejawi berupa satu Tahta Patriarkal Cilicia yang mencakup Libanon dan Turki serta berbagai keuskupan di Syria, Argentina, Mesir, Prancis, Iran, Irak, Libanon, Amerika Serikat (mencakup Kanada), Turki dan Ukraina. Terdapat juga Eksarkat Apostolik di Amerika Latin dan Meksiko dan juga Ordinariat di Eropa Timur (Armenia), Yunani dan Rumania. Kepala Gereja Katolik Armenia sekarang adalah Patriark Nerses Bedros xXIX Tamouni yang tinggal di Beirut, Libanon. Bahasa Liturgi Gereja ini adalah Bahasa Armenia Klasik.

Referensi:

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...