Minggu, 15 Januari 2012

Info Post

Kompendium Katekismus Gereja Katolik tentang PEWARISAN WAHYU ILAHI beserta Komentar singkat dari Indonesian Papist.

11. Mengapa dan dengan cara bagaimana wahyu ilahi itu diwariskan? Allah menghendaki agar manusia diselamatkan dan sampai pada pengetahuan akan kebenaran (1Tim 2:4), yaitu Yesus Kristus. Karena alasan inilah, Kristus harus diwartakan kepada semua menurut perintah-Nya, ”Pergilah dan ajarlah segala bangsa” (Mat 28:19). Dan, ini diwariskan oleh Tradisi Apostolik.

Komentar: Allah tidak hanya menghendaki kita diselamatkan tetapi juga sampai pada pengetahuan akan Yesus Kristus dan seluruh ajaran-Nya, bukan hanya sebagian atau setengah saja. Kristus adalah sumber kebenaran. Kita tidak dapat memilih sebagian ajaran Yesus Kristus yang menyenangkan kita dan menolak yang lainnya yang tidak menyenangkan kita.

12. Apa Tradisi Apostolik itu?
Tradisi Apostolik adalah pewarisan pesan Kristus, yang diturunkan sejak awal Kekristenan melalui khotbah, kesaksian, institusi, ibadah, dan tulisan-tulisan yang diilhami. Para Rasul mewariskan apa yang sudah mereka terima dari Kristus dan belajar dari Roh Kudus kemudian terus berlanjut kepada pengganti-pengganti mereka, para Uskup, dan melalui mereka kepada semua generasi sampai akhir dunia.

Komentar: Tradisi Apostolik adalah sumber deposit ajaran iman dari Yesus Kristus. Kristus mengutus Roh Kebenaran yaitu Roh Kudus untuk membantu Para Rasul dan Para Pengganti Rasul menggali deposit ajaran iman ini. Roh Kebenaran menghindarkan mereka dari kesesatan untuk mengajarkan ajaran iman dari Yesus Kristus kepada kita dan juga menjaga agar Tradisi Apostolik itu tetap murni. Disini pula terlihat pentingnya kita melihat dan mempelajari Pengajaran Para Bapa Gereja Perdana karena merekalah yang paling dekat dalam menerima Tradisi Apostolik. Misalnya, St. Ignasius dari Antiokia, St. Polikarpus dari Smirna dan St. Papias yang adalah para murid St. Yohanes Rasul. Mereka adalah pendengar utama pengajaran Rasul Yohanes Sang Penulis Injil keempat. Dari mereka, kita bisa mengetahui bagaimana ajaran Para Rasul dan Gereja Perdana.

13. Bagaimana terjadinya Tradisi Apostolik?
Tradisi Apostolik terjadi dalam dua cara: melalui pewarisan langsung Sabda Allah (yang disebut sebagai Tradisi) dan melalui Kitab Suci yang merupakan pewartaan keselamatan yang sama dalam bentuk tulisan.

Komentar: Di sini jelas bahwa Kekristenan sejati  bukanlah "agama buku", melainkan agama dari Sabda Allah yang hidup. Kekristenan sejati tidak mendasarkan ajaran imannya dari Kitab Suci saja. Scriptura (Kitab) tidak identik dengan Verbum Dei (Sabda Allah). KKGK 13 ini juga sejalan dengan pengajaran St. Paulus
2 Thessalonians 2:15 (KJV)
Therefore, brethren, stand fast, and HOLD THE TRADITIONS which ye have been taught, whether by word, or our epistle.
2 Tesalonika 2:15
Sebab itu, berdirilah teguh dan BERPEGANGLAH PADA TRADISI-TRADISI yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara LISAN, maupun secara TERTULIS.

14. Apa hubungan antara Tradisi dan Kitab Suci?
Tradisi dan Kitab Suci berhubungan erat dan saling melengkapi. Masing-masing menghadirkan misteri Kristus dan berbuah di dalam Gereja. Kedua hal ini mengalir dari satu sumber ilahi yang sama, dan bersama-sama membentuk khazanah iman yang suci dan dari sinilah Gereja mendapatkan kepastian tentang wahyu.

Komentar: Kita tidak dapat menolak Tradisi sebagai sumber ajaran iman kita. Mengabaikan Tradisi sama dengan mengabaikan sebagian Tradisi Apostolik dan sama juga dengan mengabaikan sebagian ajaran Kristus. Harap juga bedakan antara (T)radisi dengan (t)radisi. Yang kapital adalah wahyu ilahi, yang non-kapital adalah hasil kultur manusia.

15. Kepada siapa iman ini dipercayakan?
Para Rasul mempercayakan khazanah iman ini kepada seluruh Gereja. Berkat makna iman yang adikodrati inilah umat Allah secara keseluruhan, dengan bimbingan Roh Kudus dan dituntun oleh Kuasa Mengajar Gereja, tidak pernah berhenti untuk menerima, meresapkan lebih dalam, dan menghayati anugerah wahyu ilahi ini secara lebih penuh.

Komentar: Tentu yang dimaksud dengan Gereja di sini adalah Gereja Katolik, yaitu Persekutuan umat beriman yang didirikan oleh Yesus Kristus dengan Petrus dan Para Rasul sebagai gembala Gereja ini dan tugas penggembalaan atas Gereja Katolik ini diteruskan kepada Para Paus dan Uskup Pengganti Para Rasul.

Di sini kita perlu mengakui dengan rendah hati bahwa DARI GEREJALAH kita menerima iman akan Kristus. Kita tidak bisa berkata "Aku mencintai Kristus, tetapi menolak Gereja." Melihat fakta yang ada, Kitab Suci dan Tradisi yang berisi Tradisi Apostolik kita terima semuanya dari Gereja. Dari Gereja, kita mengetahui pengetahuan akan Sang Kebenaran. Iman Katolik bukanlah semata-mata Iman Individual, tetapi juga Iman Komunal. Kita beriman kepada Kristus BERSAMA Gereja. Tanpa beriman bersama Gereja, Iman kita bukanlah iman yang otentik.

Anda perlu tahu juga bahwa St. Paulus sendiri menyatakan bahwa Gereja adalah Tiang Penopang dan Dasar Kebenaran.
1Tim 3:15 Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni GEREJA dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. 
1Tim 3:15 But if I tarry long, that thou mayest know how thou oughtest to behave thyself in the house of God, which is the CHURCH of the living God, the pillar and ground of the truth.

16. Kepada siapa diberikan tugas untuk menafsirkan khazanah iman ini secara autentik?
Tugas untuk memberikan tafsir autentik terhadap khazanah iman ini dipercayakan kepada otoritas Kuasa Mengajar Gereja, yaitu pengganti Petrus, Uskup Roma, dan para Uskup yang ada dalam kesatuan dengannya. Dalam pelayanan Sabda Allah, pengajaran resmi ini mempunyai karisma kebenaran, dan kepadanya juga diberi tugas untuk merumuskan dogma yang merupakan rumusan kebenaran yang terdapat dalam wahyu Ilahi. Otoritas pengajaran resmi ini juga diperluas pada kebenaran-kebenaran lain yang mempunyai hubungan erat dengan wahyu.

Komentar: Di sini kita juga perlu dengan rendah hati mengurangi atau bahkan menghilangkan prinsip "menurut saya" dan mulai mencari tahu bagaimana "menurut Gereja" mengenai ajaran Yesus Kristus. Yesus berjanji menjaga Gereja-nya supaya alam maut tidak menguasai Gereja tersebut dan memberikan kepada Gereja kuasa "mengikat dan melepaskan" atas umat beriman (Mat 16:18-19). Kuasa "mengikat dan melepaskan" ini dalam tradisi rabinikal berarti kuasa untuk menyatakan mana yang boleh dan mana yang tidak, mana yang benar dan mana yang sesat. Ahli Taurat dan Kaum Farisi dulu memiliki kuasa ini atas orang-orang Israel tetapi mereka tidak disertai oleh Roh Kebenaran sehingga ajaran mereka dapat sesat. Kristus menggenapi kuasa ini dalam Gereja dengan mengutus Roh Kebenaran yaitu Roh Kudus untuk menyertai Gereja senantiasa sepanjang masa sehingga Gereja bebas dari kesesatan ajaran iman dan moral.

Coba anda bayangkan bila setiap orang berprinsip "menurut saya" tentang suatu ajaran dari Yesus Kristus. Akan ada 7 miliar pendapat "menurut saya" tentang suatu ajaran dari Yesus. Lalu mana yang benar? Allah kita bukanlah Allah yang senang akan kekacauan dan kebingungan oleh karena prinsip "menurut saya" ini, oleh karena itu Yesus Kristus memberikan kuasa mengajar kepada Gereja supaya kita tahu mana ajaran yang benar dan mana yang tidak.

17. Apa hubungan antara Kitab Suci, Tradisi, dan Kuasa Mengajar?
Kitab Suci, Tradisi, dan Kuasa Mengajar berhubungan erat satu sama lain sedemikian sehingga yang satu tidak dapat ada tanpa yang lain. Dengan bekerja sama, masing-masing dengan caranya sendiri, ketiga hal tersebut memberikan sumbangan secara efektif bagi keselamatan jiwa-jiwa di bawah naungan karya Roh Kudus.

Komentar: Tanpa Kitab Suci tidak ada Tradisi dan Kuasa Mengajar (Magisterium). Tanpa Tradisi tidak ada Kitab Suci dan Magisterium. Tanpa Magisterium, Kitab Suci dan Tradisi Suci juga tidak. Contoh sederhana: "Di mana dalam ayat Kitab Suci yang menyatakan bahwa HANYA ada empat Injil; Matius, Markus, Lukas, Yohanes?" atau bisa juga pertanyaannya seperti ini "Di mana dalam Kitab Suci tercantum daftar-daftar Kitab yang diinspirasi oleh Roh Kudus?". Anda tidak akan bisa menemukannya dalam Kitab Suci, tetapi anda bisa menemukan jawabannya pada Tradisi dan Magisterium. Magisterium dengan bantuan Tradisi mengkanonisasi Kitab Suci. Di sini jelas bahwa Kitab Suci tidak ada tanpa Tradisi dan Magisterium, begitu juga sebaliknya.

Pax et Bonum, semoga bermanfaat.