Langsung ke konten utama

Apologetika atas Yudit 1:1

Ydt 1:1  Dalam tahun kedua belas pemerintahan Nebukadnezar yang menjadi raja orang-orang Asyur di Niniwe, kota yang besar. Pada zaman itu Arfaksad menjadi raja orang-orang Media di Ekbatana.
Kaum Protestan yang mempermasalahkan atau menolak Deuterokanonika menggunakan Yudit 1:1 ini untuk membuktikan kesalahan historis ( historical fallacy ) pada Kitab Yudit. Kitab Yudit sama seperti Kitab-kitab Deuterokanonika lainnya dianggap oleh Kaum Protestan sebagai kitab-kitab Apokrif sehingga mereka menolak kehadiran Kitab-kitab Deuterokanonika dalam kanon Kitab Suci.

Yudit 1:1 mengatakan bahwa Nebukadnezar menjadi raja-raja orang-orang Asyur dan Protestan mempermasalahkan hal ini sebab Kitab-kitab Perjanjian Lama yang lain mengatakan bahwa Nebukadnezar adalah Raja Babel bukan Asyur.

2 Raja-raja 24:10 Pada waktu itu majulah orang-orang Nebukadnezar, raja Babel, menyerang Yerusalem dan kota itu dikepung.
Ezra 2:1 Inilah orang-orang propinsi Yehuda yang berangkat pulang dari pembuangan, yakni para tawanan, yang dahulu diangkut ke Babel oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang kembali ke Yerusalem dan ke Yehuda, masing-masing ke kotanya.
Yeremia 24:1 Lihatlah, TUHAN memperlihatkan kepadaku dua keranjang buah ara berdiri di hadapan bait TUHAN. Hal itu terjadi sesudah Nebukadnezar, raja Babel, mengangkut ke dalam pembuangan Yekhonya bin Yoyakim, raja Yehuda, beserta para pemuka Yehuda, tukang dan pandai besi dari Yerusalem dan membawa mereka ke Babel.
Yehezkiel 26:7 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membawa dari utara raja Nebukadnezar, raja Babel, raja segala raja untuk melawan Tirus dengan memakai kuda, kereta, pasukan berkuda, dan sekumpulan tentara yang banyak.
Dengan ini mereka menyatakan bahwa Kitab Yudit tidak dapat dipercaya telah diilhami oleh Roh Kudus sebab mengandung kesalahan historis. Tapi apakah benar demikian? Apa Yudit 1:1 memberikan pernyataan yang salah mengenai Nebukadnezar?

The Jewish Virtual Library adalah situs dari American-Israeli Cooperative Enterprise yang berisi artikel-artikel sejarah terutama berkaitan dengan semitisme. Dalam suatu artikel sejarah mengenai kaum Kaldea yang terdapat dalam situs ini, kita mendapatkan suatu pernyataan demikian:
--------------------------------------
After the fall of Assyrian power in Mesopotamia, the last great group of Semitic peoples dominated the area. Suffering mightily under the Assyrians, the city of Babylon finally rose up against its hated enemy, the city of Nineveh, the capital of the Assyrian empire, and burned it to the ground. The chief of the Babylonians was Nabopolassar; the Semites living in the northern part of Mesopotamia would never gain their independence again. 

Nabopolassar was succeeded by his son, Nebuchadnezzar II (605-562 BC). Nebuchadnezzar was the equal of all the great Mesopotamian conquerors, from Sargon onwards; he not only prevented major powers such as Egypt and Syria from making inroads on his territory, he also conquered the Phoenicians and the state of Judah (586 BC), the southern Jewish kingdom that remained after the subjugation of Israel, the northern kingdom, by the Assyrians. In order to secure the territory of Judah, Nebuchadnezzar brought Jehoiachin and Zedekiah, the two kings of Judah (in succession) and held them in Babylon. In keeping with Assyrian practice, the "New Babylonians," or Chaldeans forced a large part of the Jewish population to relocate. Numbering possibly up to 10,000, these Jewish deportees were largely upper class people and craftspeople; this deportation marks the beginning of the Exile in Jewish history. 
-----------------------------------
Yudit 1:1 tidak pernah mengatakan bahwa Nebukadnezar bukan Raja Babel. Yudit mengatakan bahwa Nebukadnezar adalah [juga] Raja orang-orang Asyur sebab sejak Nabopolassar, orang-orang Asyur telah ditaklukan dan berada di bawah Babel. 

Yudit juga tidak memandang perbedaan antara Kerajaan Babel atau Kerajaan Asyur sebab keduanya berasal dari wilayah yang sama di mana pada awalnya Babel berada di bawah Asyur. Yehezkiel 26:7 yang telah dikutip di atas menyatakan “Aku (Allah) membawa dari utara raja Nebukadnezar, raja Babel,..”. Raja Babel datang dari utara Israel dan menurut sejarah di atas, Northern Kingdom (Kerajaan Utara) adalah Asyur.

Hal lain yang membuat Yudit menganggap Nebukadnezar adalah Raja orang-orang Asyur adalah karena ia masih mempertahankan praktik pembuangan orang Israel yang dilakukan oleh orang-orang Asyur sebelumnya. Kerajaan di utara Israel yang dari sana Nebukadnezar datang dianggap oleh Yudit sama dengan Asyur karena Kerajaan Asyur telah lebih dahulu menaklukannya dan mengubah sebagian kultur budaya di wilayah utara tersebut.

Contoh lain terkait gelar kerajaan adalah Ratu Elizabeth I. Ia bergelar Ratu Inggris, Ratu Prancis, dan Ratu Irlandia etc. Kala itu Irlandia menjadi bagian dari Inggris. Bila orang Irlandia pada masa Elizabeth I menulis “Lalu datanglah Elizabeth I, Ratu Irlandia. ...”, maka kita tidak bisa menganggapnya bertentangan atau kontradiksi dengan gelarnya sebagai Ratu Inggris. Hal ini karena ia juga menjadi ratu bagi Irlandia sebab Irlandia kala itu masih berada di wilayahnya. Nebukadnezar dapat kita anggap sebagai Raja Asyur juga dalam konteks yang sama di mana Asyur menjadi bagian dari wilayahnya, malah wilayah Kerajaan Babel itu sendiri adalah wilayah Kerajaan Asyur yang ditaklukannya.

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...