Langsung ke konten utama

Minggu Paskah IV: Hari Minggu Gembala yang Baik dan Hari Doa Sedunia untuk Panggilan

 

 
 Minggu Paskah Keempat juga disebut sebagai Minggu Gembala yang Baik juga hari Minggu Panggilan. Fokus liturgi adalah pada Yesus sebagai Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya, seperti yang dijelaskan dalam bacaan Injil Yohanes 10:11-18; Yoh 10:27-30. Hari itu menyoroti tema-tema tentang kepedulian, bimbingan, dan pengorbanan Yesus bagi umat manusia, serta pengetahuan-Nya yang mendalam tentang para pengikut-Nya.

Bacaan Injil untuk Minggu ini menggarisbawahi peran Yesus sebagai pelindung dan pemersatu kawanan, yang kontras dengan para pekerja upahan yang menelantarkan domba-domba. Gambaran itu beresonansi dengan referensi Perjanjian Lama, seperti Mazmur 23 (“Tuhan adalah gembalaku”).


Di banyak paroki, Minggu Gembala yang Baik juga merupakan hari untuk berdoa memohon panggilan imamat dan kehidupan religius, karena para imam adalah gembala yang melanjutkan karya Kristus. Hari Doa Sedunia untuk Panggilan, yang ditetapkan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1964, bertepatan dengan Minggu ini, yang mendorong umat beriman untuk mendukung dan berdoa bagi mereka yang dipanggil untuk melayani Gereja.

Minggu Gembala yang Baik mengundang umat Katolik untuk merenungkan hubungan mereka dengan Kristus dan panggilan mereka sendiri untuk mengikuti-Nya.
 
 
“Otoritas episkopal bukanlah sesuatu yang diciptakan sendiri. Otoritas ini merupakan partisipasi dalam otoritas Kristus Sang Gembala yang Baik. Otoritas ini harus dijalani dengan kerendahan hati, tetapi juga dengan kejelasan doktrinal dan keberanian.”
—Paus Leo XIV
 

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...