Langsung ke konten utama

Homili Minggu Biasa Ke-26 (30 September 2012) oleh Pater Phil Bloom



Peperangan Rohani

Kita terlibat dalam sebuah peperangan rohani – dan kita memerlukan semua pertolongan yang bisa kita dapatkan. Injil hari ini menggarisbawahi perlunya sekutu. Rasul Yohanes komplain mengenai seorang pengusir setan yang menggunakan nama Yesus untuk mengusir setan. Karena dia tidak termasuk dalam kelompok apostolik, Yohanes mencoba untuk mencegahnya.

Yesus, bagaimanapun juga, mengambil pendekatan yang berbeda: “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” Kata-Nya lagi, “Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”
Yesus sedang memberitahu kita bahwa kita memerlukan sekutu-sekutu dalam pertempuran rohani. Dr. Peter Kreeft sekali waktu berbicara mengenai Peperangan spiritual. Dia bertanya, “Siapakah musuh itu?” Ia meneruskan dengan sebuah list musuh-musuh yang mungkin termasuk teroris Muslim, media, pembangunan liberal, aborsionis dan “Katolik Kafetaria”. Tidak, dia berkata, mereka bukanlah musuh kita; mereka adalah korban dari musuh yang sesungguhnya.



Lalu, siapa musuh yang sesungguhnya itu? Dr. Kreeft menjawab secara langsung, “Musuh kita adalah iblis. Malaikat yang jatuh. Roh-roh jahat.” *

Kita berada dalam perang dengan roh-roh jahat dan taruhannya tinggi. Perang Dunia II menentukan nasib bangsa-bangsa – bagi generasi-generasi. Tetapi kehidupan suatu negara adalah singkat dibandingkan dengan jiwa. Suatu hari Amerika Serikat akan menghilang. Ketika hal itu terjadi, keberadaan dan kepemilikan anda akan baru saja mulai. 

Demikian juga, teroris Muslim, fanatik anti-Katolik, pengajar Keluarga Berencana – mereka semua memiliki sebuah takdir abadi. Setiap orang memiliki sebuah nilai yang tak terhitung. Kita menginginkan keselamatan mereka. Peperangan rohani akan menentukan di mana setiap orang akan menjalankan keabadiannya. Yesus memberitahu kita bahwa hidup ini adalah serius. Adalah lebih baik untuk kehilangan tangan atau kaki atau mata daripada pergi ke dalam Gehenna (Neraka), api tak terpadamkan.

Sebuah pertempuran berkecamuk dalam budaya kita – dan di dalam hati dan pikiran anda. Kita membutuhkan semua pertolongan yang bisa kita dapatkan. Jangan menolak setiap sekutu yang mungkin, nasihat Yesus.

Saya ingat ketika saya berada di sekolah tinggi mendengarkan pidato inaugural Presiden John F. Kennedy. Ia berkata, “Kita akan membayar harga apapun, menanggung beban apapun, bertemu kesulitan apapun, mendukung setiap teman, menentang setiap musuh...”

Yesus demikian pula berbicara mengenai mendukung setiap teman, membayar setiap harga dan menanggung setiap beban. Dan kita menghadapi musuh yang lebih berat dari rezim komunis manapun. Musuh kita telah memiliki pengalaman berabad-abad membuat orang jatuh. Musuh kita mengetahui kelemahan dan pikiran anda – dan dia memiliki senjata-senjata baru dan powerful dalam internet, TV dan media pada umumnya. Musuh kita itu bukan seorang yang jantan. Seperti seekor hyena yang kejam, ia menyerang kijang yang terluka.

Kita sering terlihat tak berdaya menghadapi musuh ini. Dan kita memang demikian – bila kita mengandalkan kekuatan kita sendiri. Tetapi hal-hal ini berubah ketika kita berseru kepada Tuhan, Perawan Maria, St. Mikael dan para malaikat-Nya – dan seluruh persekutuan Para Kudus yang mencakup mereka yang berada di bumi yang berdiri bersama dengan Yesus. St. Yakobus mengajarkan kita untuk berserah diri kepada Tuhan dan menolak iblis dan iblis itu akan melarikan diri.

Minggu berikutnya Yesus akan berbicara kepada kita mengenai pernikahan. Ini adalah topik yang sulit. Iblis sedang menyerang pernikahan-pernikahan dan pernikahan itu sendiri secara beringas. Kondisi “pasang” tampak sedang menguntungkan iblis. Tetapi saya memiliki beberapa berita. Saya akan memberitahu anda mengenai hal itu dalam homili saya berikutnya. Saya tidak ingin membiarkan kucing keluar dari karung, tetapi saya dapat berkata ini: Kemenangan adalah milik Yesus.

Kemenangan mungkin tidak terjadi besok – atau bulan November. Presiden Kennedy berbicara mengenai “panggilan untuk menanggung beban dari sebuah perjuangan panjang di dalam gelap dari tahun ke tahun, ‘bersukacita dalam harapan; bersabar dalam penderitaan.’”

Minggu yang akan datang, saya akan meminta orang-orang muda kita – terutama laki-laki muda kita – untuk bergabung dalam perjuangan ini, peperangan rohani ini. Musuh bebuyutan kita mengusahakan kehancuran kekal kita, tetapi Yesus menawarkan kehidupan. Dan dia memberitahu kita: lebih baik kehilangan sebuah tangan, mata atau kaki daripada kehilangan hidup yang kekal. Dan Ia mendesak kita untuk mencari semua sekutu yang tersedia dalam pertempuran.

Pilihannya jelas: untuk memasuki kehidupan atau memasuki neraka. Kita berada dalam peperangan rohani dan kita membutuhkan semua bantuan yang bisa kita dapatkan. Amin.
  

Pater Phil Bloom adalah Pastor Paroki St. Mary of the Valley, Monroe
Homili di atas diterjemahkan dari situs resmi paroki tersebut.
Pax et Bonum
follow Indonesian Papist's Twitter
 

*. Dr. Kreeft, pengajar seminaris Oblat Perawan Maria, menulis sebuah artikel (silahkan klik) yang berisi penjelasan mengenai pertempuran rohani, musuh-musuh kita dan senjata-senjata yang kita miliki dalam pertempuran rohani tersebut.
 

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...