Langsung ke konten utama

22 Kardinal Baru Gereja Katolik (Konsistori 18 Februari 2012)

Paus Benediktus XVI pada tanggal 18 Februari 2012 mengangkat 22 nama menjadi Kardinal Gereja Katolik yang terdiri dari 18 kardinal di bawah usia 80 tahun dan 4 kardinal yang berusia di atas 80 tahun. Para kardinal ini diangkat pada Konsistori (Peristiwa di mana para calon secara resmi masuk ke dalam kolese para kardinal) tanggal 18 Februari 2012 di Roma. Nama-nama Kardinal Baru Gereja Katolik tersebut adalah:

Kardinal di bawah 80 tahun (Kardinal yang berusia di bawah 80 tahun memiliki hak memilih dalam konklaf)

1. Kardinal Fernando Filoni (65) dari Italia: Uskup Agung Tituler Volturno, Kepala/Prefek Kongregasi untuk Evangelisasi Orang Banyak dan Kanselir Tertinggi Universitas Kepausan Urbaniana. Kardinal-Diakon Nostro Signora di Coromoto in S. Giovanni di Dio.
2. Kardinal Manuel Monteiro de Castro (73) dari Portugal: Uskup Agung Tituler Beneventum, Penitensiaris Utama dari Penitensiariat Apostolik (sebuah badan dalam Kuria Roma). Kardinal-Diakon S. Ponziano.
3. Kardinal Santos Abril y Castelló (76) dari Spanyol: Uskup Agung Tituler Tamada, Imam Agung Basilika St. Maria Mayor. Kardinal-Diakon S. Teodoro.
4. Kardinal Antonio Maria Vegliò (73) dari Italia: Uskup Agung Eclano, Presiden Komisi Kepausan untuk Reksa Pastoral Para Migran dan Para Pelancong. Kardinal-Diakon S. Cesario in Palatio.
5. Kardinal Giuseppe Bertello (69) dari Italia: Uskup Agung Urbisaglia, Presiden Komisi Kepausan untuk Negara Kota Vatikan, Presiden Pemerintahan Negara Kota Vatikan. Kardinal-Diakon Ss. Vito, Modesto e Crescenzia.
6. Kardinal Francesco Coccopalmerio (73) dari Italia: Uskup Agung Tituler Cœliana, Presiden Komisi Kepausan untuk Teks-teks Legislatif. Kardinal-Diakon S. Giuseppe dei Falegnami.
7. Kardinal João Bráz de Aviz (64) dari Brazil: Kepala/Prefek untuk urusan Hidup Bakti dan Serikat Kehidupan Apostolik, Uskup Agung Metropolitan Emeritus Brasilia. Kardinal-Diakon S. Elena fuori Porta Prenestina.
8. Kardinal Edwin Frederick O’Brien (72) dari Amerika Serikat:  Pro-Grand Master Ordo Equestrian dari Makam Suci Yerusalem, Adminstrator Apostolik Keuskupan Agung Baltimore, Uskup Agung Metropolitan Emeritus Baltimore. Kardinal-Diakon S. Sebastiano al Palatino.
9. Kardinal Domenico Calcagno (68) dari Italia: Presiden Administrasi Kerasulan Tahta Apostolik, Uskup Agung ad personam, Uskup Agung Emeritus Savona-Noli. Kardinal-Diakon Ss. Annunciazone della Beata Virgine Maria a Via Ardeatina.
10. Kardinal Giuseppe Versaldi (68) dari Italia: Presiden Prefektur untuk urusan ekonomi Tahta Suci, Administrator Apostolik dari Alessandria (Italia), Uskup Agung ad personam, Uskup Emeritus Alessandria (Italia). Kardinal-Diakon S. Cuore di Gesù a Castro Pretorio.
11. Kardinal Utama George Alencherry (66) dari India: Uskup Agung Utama Ernakulam-Angamaly dari Gereja Katolik Syro-Malabar (India)*, Presiden Sinode Gereja Syro-Malabar. Kardinal-Imam S. Bernardo alle Terme.
12. Kardinal Thomas Christopher Collins (64) dari Kanada: Uskup Agung Metropolitan Toronto (Kanada). Kardinal-Imam S. Patrizio.
13. Kardinal Dominik Duka, O.P. (68) dari Republik Ceska: Uskup Agung Metropolitan Praha, Presiden Konferensi Para Uskup Republik Ceska. Kardinal-Imam Ss. Marcellino e Pietro.
14. Kardinal Willem Jacobus Eijk (58) dari Belanda: Uskup Agung Metropolitan Utrecht, Presiden Konferensi Para Uskup Belanda. Kardinal-Imam S. Callisto.
15. Kardinal Giuseppe Betori (64) dari Italia: Uskup Agung Metropolitan Firenze. Kardinal-Imam S. Marcello.
16. Kardinal Timothy Michael Dolan (61) dari Amerika Serikat: Uskup Agung Metropolitan New York, Presiden Konferensi Para Uskup Amerika Serikat. Kardinal-Imam Nostra Signora di Guadalupe a Monte Mario
17. Kardinal Rainer Maria Woelki (55) dari Jerman: Uskup Agung Metropolitan Berlin. Kardinal-Imam S. Giovanni Maria Vianney.
18. Kardinal John Tong Hon (湯漢) (72) dari Hongkong: Uskup Hongkong. Kardinal-Imam Regina Apostolorum.

Kardinal di atas 80 tahun (Kardinal yang berusia di atas 80 tahun tidak memiliki hak memilih dalam konklaf. Mereka, dalam konsistori 18 Februari 2012 ini, diangkat menjadi kardinal sebagai penghormatan dari Gereja Katolik terhadap kontribusi mereka yang besar bagi Gereja Katolik)

19. Kardinal Lucian Mureşan (80) dari Rumania: Uskup Agung Utama Făgăraş şi Alba Iulia dari Gereja Katolik Yunani-Rumania**, Presiden Konferensi Para Uskup Rumania, Presiden Sinode Gereja Rumania. Kardinal-Imam S. Atanasio.
20. Kardinal Julien Ries (91) dari Belgia (non-Uskup): Imam Keuskupan Namur (Belgia), Professor Emeritus Sejarah Agama-agama Universitas Katolik, Louvain (Belgia). Kardinal-Diakon S. Antonia da Padova a Via Salaria.
21. Kardinal Prosper Grech, O.S.A. (86) dari Malta (non-Uskup): Professor Emeritus berbagai universitas di Roma, Konsultan bagi Kongregasi Doktrin Iman. Kardinal-Diakon S. Maria Goretti.
22. Kardinal Karl Josef Becker, S.J. (83) dari Jerman (non-Uskup): Professor Emeritus Universitas Kepausan Gregoriana, Konsultan bagi Kongregasi Doktrin Iman. Kardinal-Diakon S. Giuliano.

* Gereja Katolik Syro-Malabar adalah salah satu dari 22 Gereja Timur yang bersatu dengan Paus Roma.
** Gereja Katolik Yunani-Rumania adalah salah satu dari 22 Gereja Timur yang bersatu dengan Paus Roma.

Sumber:

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...