Langsung ke konten utama

Gambar Minggu Ini - Holy Mary Exterminatrix of Heresy (St. Maria Pemberantas Ajaran Sesat)



Gambar Minggu Ini edisi Rabu 15 Februari 2012 adalah Holy Mary, Exterminatrix of Heresy – St. Maria Pemberantas Ajaran Sesat. Exterminatrix kurang lebih artinya adalah “Pemberantas”.

Lukisan Santa Perawan Maria Pemberantas Ajaran Sesat yang saya tampilkan di sini adalah hasil karya Giovanni Pagani of Monterubbiano (+ 1545) yang saya temukan dari blog Hermeneutic of Continuity.

Anda bisa memperhatikan sendiri lukisan tersebut. St. Perawan Maria sedang mengayunkan pentungan kepada iblis yang hendak menyesatkan anak-anak kecil. St. Maria menjadi tempat perlindungan bagi anak-anak kecil tersebut dari penyesatan iblis. Lukisan ini didasarkan pada Wahyu 12:15-17:
12:15 Lalu ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu.
12:16 Tetapi bumi datang menolong perempuan itu. Ia membuka mulutnya, dan menelan sungai yang disemburkan naga itu dari mulutnya.
12:17 Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.
Iblis menyemburkan air dari mulutnya untuk menghanyutkan St.PPerawan Maria. “Air dari mulutnya” si iblis ini menggambarkan kebohongan dan penyesatan yang muncul dari iblis. Taktik ini telah digunakan oleh Iblis untuk menyesatkan Hawaadan ia berhasil. Hawa pun tersesat dan terkalahkan sehingga melakukan dosa.

Iblis ppun hendak menyesatkan Bunda Maria. Iblis dalam Wahyu dii atas digambarkan sedang berusaha menyesatkan Bunda Maria dengan kebohongan dan penyesatannya. Ia menggunakan taktik yang sama dengan yang dia lakukan dulu terhadap Hawa. Tapi, iblis tidak berhasil. Bunda Maria tidak tersesat dan tidak disesatkan karena Bunda Maria penuh rahmat Allah.

Si Iblis pun marah kepada Bunda Maria. Tetapi, ia menyadari bahwa Bunda Maria tidak bisa ia kalahkan dan sesatkan. Oleh karena itu, Ibliss memilih memerangi Putera-puteri Maria yaitu kita. Kita semua yang dibaptis dan berada di dalam Gereja Katolik itulah orang-orang yang berusaha untuk  “menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.” Iblis berusaha menyesatkan kita melalui tipu daya yang keluar dari mulutnya. Tetapi, perlindungan keibuan Bunda Maria bersama kita semua. Maria yang dikandung tanpa noda dosa oleh karena rahmat Allah menjadi tempat perlindungan bagi kita. Lihatlah kembali lukisan di atas dan perhatikan anak laki-laki kecil yang berusaha mencari perlindungan kepada Bunda Maria. Bunda Maria pun memegang erat tangan anak kecil yang ketakutan itu sambil mengusir iblis dengan pentungan/gada. Seperti seorang anak kecil, kita bisa berseru, “Bunda, Bunda, tolonglah aku, doakanlah aku. Iblis itu mengejar-ngejar aku, berusaha menyesatkanku dan menjauhkan diriku dari Kristus dan Bunda. Bunda dekaplah aku.”

Bunda Maria sungguh pantas disebutt Pemberantas Ajaran Sesat (Exterminatrix of Heresy) karena ia berdiri menjadi musuh bagi iblis. Dalam dokumen Ad Diem Illum Laetissimum, Paus St. Pius X menjelaskan bidaah-bidaah (ajaran sesat) seperti materialisme, anarkisme, rasionalisme, dll akan menemukan kehancurannya di bawah Bunda Maria.

Lalu bagaimana kita mencari perlindungan kepada Maria dari ajaran sesat? Dalam janji ketiga dari 15 Janji Bunda Maria kepada mereka yang berdoa Rosario, Rosario menjadi perisai bagi kita untuk mengalahkan kesesatan.
3. Rosario akan menjadi perisai ampuh melawan neraka. Rosario melenyapkan sifat-sifat buruk, mengurangi dosa dan menaklukkan kesesatan.
Yuk, mari kita daraskan Rosario setiap harinya untuk berbagai intensi baik pribadi maupun umum. Bunda Maria tentu akan membantu kita dan mendoakan kita semua. Bunda Maria penuh rahmat dan ia tidak menyimpan rahmat tersebut bagi dirinya sendiri, tetapi juga membagikan dan menyalurkannya bagi kita semua, Putera-puteri Allah dan Gereja.

Bunda Maria Pemberantas ajaran sesat, doakanlah Gereja Kristus, doakanlah kami anak-anakmu, doakanlah dunia. Amin

Pax et bonum

Renungan Hari Ini

Postingan Populer

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah “Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?”. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1] Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2] Signum Crucis / Tanda Salib In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. ...

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Bagian I

DARIMANA ASALNYA ALKITAB? Saya pernah membawakan suatu materi pada Bina Rohani siswa-siswi Katolik SMA se-Sorowako dan materi yang saya bawakan pada waktu itu adalah sejarah terbentuknya Alkitab. Saat memulai presentasi, saya membawa 2 buah Alkitab. Yang satu Alkitab Katolik yang lengkap dengan tujuh Deuterokanoika sedangkan Alkitab satunya lagi adalah Alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab-kitab Deuterokanonika. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di tangan saya ada 2 macam Alkitab, Alkitab Katolik dan Alkitab Protestan. Saya bertanya kepada mereka apa yang membedakan kedua Alkitab ini dan ternyata mereka mengetahui letak perbedaannya adalah pada ada tidaknya kitab-kitan Deuterokanonika tersebut. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jikalau Alkitab versi Katolik memiliki tujuh kitab Deuterokanonika dan Alktab verso Protestan tidak, lalu manakah yang benar: Gereja Katolik-lah yang telah menambah isi Alkitab dengan tujuh kitab Deuterokanonika itu...