Rabu, 08 Februari 2012


Jesus Gives Communion to the Apostle by Joost van Wassenhove (Justus of Ghent)


Gambar ini (klik gambar untuk memperbesar) merupakan lukisan yang menunjukkan bahwa Yesus Kristus sedang memberikan Komuni Kudus di lidah Para Rasul yang sedang berlutut pada Malam Perjamuan Terakhir. Lukisan ini dapat anda sekalian temukan dalam Kompendium Katekismus Gereja Katolik berbahasa Indonesia halaman 79. Lukisan ini dilukis oleh seniman Katolik bernama Joost van Wassenhove sekitar tahun 1473 hingga 1475. Lukisan ini sendiri sekarang berada di National Gallery of the Marches, di Kota Urbino (Italia).

Lukisan ini mendorong saya untuk mencari tahu apakah memang benar bahwa Yesus Kristus pada Malam Perjamuan Terakhir memberikan Komuni Kudus di lidah Para Rasul yang berlutut. Akhirnya saya menemukan artikel yang menarik berjudul “Rethinking Communion in the hand” yang ditulis oleh Jude Andrew Huntz, Kepala Staf Keuskupan Kansas City – St. Joseph. Jude Huntz juga adalah seorang Kepala Penasihat bagi Uskupnya. Anda bisa mengakses langsung akun facebooknya di link ini. Dalam artikel tersebut, Jude Huntz memaparkan bahwa bayangan/prefigur akan Komuni di Lidah sudah ada sejak Perjanjian Lama. Dia mengutip Kitab Yehezkiel:
Yeh 2:8 Dan engkau, anak manusia, dengarlah apa yang Kufirmankan kepadamu; janganlah memberontak seperti kaum pemberontak ini. Ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu."
Yeh 2:9 Aku melihat, sesungguhnya ada tangan yang terulur kepadaku, dan sungguh, dipegang-Nya sebuah gulungan kitab,
Yeh 2:10 lalu dibentangkan-Nya di hadapanku. Gulungan kitab itu ditulisi timbal balik dan di sana tertulis nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah dan rintihan.
Yeh 3:1. Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel."
Yeh 3:2 Maka kubukalah mulutku dan diberikan-Nya gulungan kitab itu kumakan.
Yeh 3:3 Lalu firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu." Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.
Yesus Kristus adalah Firman Allah yang telah menjadi manusia (Yoh 1:14). Ketika menerima Komuni Kudus, berarti kita menerima Dia, Sang Firman Allah. Bila melihat perikop di atas, Yehezkiel diperintahkan Allah untuk menerima gulungan kitab yang berisi firman Allah dengan menggunakan mulut dan kemudian memakannya. Tidak disebutkan di sini bahwa Yehezkiel menerima dengan menggunakan tangan. Gambaran Perjanjian Lama ini digenapi dalam Perjanjian Baru di mana Para Rasul menerima Komuni Kudus langsung dengan menggunakan lidah (lidah adalah bagian dari mulut) sambil berlutut dari tangan Yesus Kristus.

Tentu Gereja tidak asal memasukkan lukisan van Wassenhove di atas ke dalam Kompendium KGK tanpa maksud tertentu. Saya yakin bahwa ini adalah penegasan bahwa Yesus Kristus sendiri pun sungguh memberikan Komuni di lidah kepada Para Rasul yang sedang berlutut. Saya juga yakin bahwa Gereja Katolik menyadari hal ini sehingga selalu menegaskan bahwa Komuni di lidah sambil berlutut adalah norma resmi Gereja Katolik dalam penerimaan Komuni Kudus.

Di samping lukisan oleh Joost van Wassenhove di atas, ada juga setidaknya tiga buah lukisan lagi yang menggambarkan bahwa Yesus Kristus memberikan Komuni di lidah Para Rasul yang sedang berlutut dengan gaya yang khas.

Pertama, lukisan karya Luca Signorelli (salah seorang pelukis utama dari Paus Sikstus IV) pada sekitar tahun 1512 yang melukiskan hal yang sama dengan yang dilukiskan oleh Joost van Wassenhove. Lukisan ini berada di Museum Diosesan Cortona (Italia). Klik gambar untuk memperbesar.
Komuni Para Rasul oleh Luca Signorelli
Kedua, lukisan karya Beato Fra Angelico, seorang biarawan ordo Dominikan yang dibeatifikasi oleh Beato Yohanes Paulus II tanggal 3 Oktober 1982. Beliau diangkat sebagai Orang Kudus Pelindung Para Seniman. Dalam lukisannya yang berjudul “Komuni Para Rasul" tahun 1452, Beato Fra Angelico melukiskan peristiwa penerimaan Komuni Kudus di mana Yesus Kristus berjalan memberikan Komuni Kudus di lidah Para Rasul yang sedang berlutut. Lukisan Beato Fra Angelico ini sekarang berada di Museum San Marco di Florence, Italia. Klik gambar untuk memperbesar.

Komuni Para Rasul oleh Beato Fra Angelico, OP (backtoclassics.com)
Ketiga, lukisan "Komuni Para Rasul" tahun 1651 karya Jusepe de Ribera, pelukis Spanyol. De Ribera adalah seorang pelukis dari begitu banyak lukisan mengenai Gereja Katolik, Santa Perawan Maria, Para Kudus, Kisah-kisah Kitab Suci dan sebagainya. Klik gambar untuk memperbesar.

Komuni Para Rasul oleh Jusepe de Ribera (art-wallpaper.com)
Di samping itu, Romo Larry dalam blognya “Roman Catholic Homilies” juga mempublikasikan sebuah gambar kaca patri (stained glass) yang menggambarkan hal yang sama dengan yang dilukiskan oleh Joost van Wassenhove, Luca Signorelli, Beato Fra Angelico dan Jusepe de Ribera. Klik gambar untuk memperbesar.

Yesus memberikan Komuni Kudus di Lidah - by Roman Catholic Homilies
Sebagai penutup, Komuni di lidah sambil berlutut telah menjadi norma resmi Gereja Universal sejak lama. Praktik penerimaan Komuni seperti inilah yang selalu dipertahankan Gereja. Komuni di lidah menunjukkan penghayatan akan Ekaristi yang sangat dalam. Bila kita sanggup berlutut lebih lama selama Adorasi Sakramen Mahakudus, bukankah kita juga sanggup berlutut sejenak untuk menerima Komuni Kudus di lidah kita? Bila kita sanggup demikian, marilah kita melakukannya.  Untuk membantu anda menerima Komuni Kudus di lidah sambil berlutut, saya menuliskan tips-tipsnya di artikel berjudul “Tips Menerima Komuni di Lidah dengan Berlutut”. Semoga artikel ini bermanfaat. Pax et Bonum